Apakah Kita Seorang Pancasilais?

Standar

Pagi ini entah ada seseorang yang nyeletuk bahwa 1 Juni adalah hari lahir Pancasila atau dengar reporter berita menyebutkan tentang itu saya jadi keingetan. Meski saya bukan penggemar sejarah nasional Indonesia tetapi pastinya pernah dapat materi pelajaran sejarah waktu sekolah dulu. Walhasil saya putuskan untuk menulis tentang hal ini, bukan tentang hari lahir Pancasila tetapi tentang menjadi seorang Pancasilais atau bukan.

Lahir ketika Pancasila Berjaya

Saya dan sebagian besar kita, generasi muda di usia pertengahan (20-40) tentu mengenal Pancasila. Karena selain menjadi materi belajar sewaktu sekolah dulu, sampai saat ini Pancasila masih menjadi dasar negara terbukti lambang Garuda Pancasila masih dipasang di tengah-tengah foto Presiden dan Wakil Presiden di kantor-kantor pemerintah termasuk di sekolah-sekolah. Meski hanya TVRI yang masih menampilkan klip lagu “Garuda Pancasila” karya Sudharnoto, tetapi dalam upacara-upacara resmi negara dan event-event olahraga lagu itu selalu diputar atau dinyanyikan.

Saya sendiri masih mengalami penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) waktu SMP dulu. Sempat menghafal 36 butir dan 45 butir Pancasila sebelum ujian PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Malahan waktu SD sempat itu lomba cepat-tepat P4 dan berhasil meraih juara 3 tingkat Kecamatan. Buat saya waktu itu, Pancasila dan butir-butirnya adalah materi wajib yang dinilai dengan suatu tes sumatif. Titik.

Waktu itu masih ORDE BARU (masa ketika Presiden Soeharto berkuasa) dan waktu itu adalah masa jaya-jayanya Pancasila sebagai ideologi tunggal di tanah air kita ini. Beberapa blogger generasi ini adalah Anton Punkq, Djamaluddin Husita, dan Oktavianus Ken Manungkarjono. Saya tidak menyebut mereka blogger Pancasilais lho, cuma blogger masa kini yang lahir di masa Pancasila berjaya … ya mirip-mirip dengan saya juga dan mungkin juga Anda.

Pernah saya berkomentar di beberapa posting sahabat tentang beberapa hal, meski topiknya berbeda tetapi ujung-ujungnya mengarah pada nilai sikap generasi, misal di sini yang berbicara tentang sebuh film pluralisme atau di sini yang bercerita tentang upacara bendera. Intinya, meskipun saya pribadi menganggap Pancasila hanya sebagai salah satu pelajaran yang mesti diperjuangkan nilainya karena masuk dalam rapor tetapi nilai-nilainya secara sadar atau tidak telah membentuk pola pikir dan karakter generasi di masa itu. So, kita ini adalah bagian dari generasi Pancasila.

Reformasi dan Kejayaan Pancasila

Masa ORDE BARU berlalu, lahirlah ORDE REFORMASI. Layaknya roda yang selalu berputar, ORLA (ORDE LAMA) berganti dengan ORBA, ORBA berganti dengan ORREF. Meskipun yang diusung dan diperjuang “mungkin” berbeda tetapi nafasnya sama koq, PERUBAHAN menuju PERBAIKAN. Pasti ada yang berubah ketika rezim berganti, minimal pemimpin tertingginya … “Presiden Seumur Hidup” itu dijatuhkan oleh rakyat yang mengangkatnya. Hal lain adalah ideologi bangsa.

Ketika kita berbicara tentang ideologi negara (NKRI) maka tidak ada yang lain kecuali Pancasila. Dasar hukumnya, Pembukaan UUD 45 (yang batang tubuh UUD-nya telah diamandemen) masih eksplisit menjadikan Pancasila sebagai dasar. Uraian tentang ideologi, Pancasila dan konstitusi tertulis rapi oleh mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie. Silakan yang suka baca-baca bisa unduh di sini atau di sini. Tetapi berbicara tentang ideologi bangsa (bedakan bangsa dan negara), saya pribadi tidak bisa mengatakan Pancasila sebagai ideologi tunggal. Pasalnya bahkan untuk pendirian partai politik sekalipun ideologi selain Pancasila bisa dijadikan dasar, kecuali ideologi komunis tentunya karena masih diatur dengan TAP MPRS No. XXV Tahun 1966.

Nah, lalu apakah seseorang atau badan hukum yang tidak berideologi Pancasila (bukan pula komunis) menjadi kehilangan hak-haknya? Tentu tidak. Lalu pula, apakah artinya tidak Pancasilais? Belum tentu. Dulu waktu saya mengikuti lomba cepat-tepat P4 saya sempat protes karena jawaban saya disalahkan oleh juri padahal jawaban saya benar. Ketika saya ceritakan itu kepada ayah saya langsung saja beliau berkata jurinya komunis. Wah kalo dulu saya merasa terdukung dengan jawaban itu, tapi sekarang saya merasa kurang nyaman saja. Tidak Pancasilais <> Komunis (baca: tidak Pancasilais tidak sama dengan Komunis), apalagi cuma salah menilai jawaban karena khilaf. Bisa berabe kalo setiap orang yang tidak berideologi Pancasila disebut sebagai komunis, saya pikir Anda juga setuju.

Saya tidak berkata Pancasila sekarang tidak berjaya, realita berkata Pancasila tidak lagi menjadi ideologi tunggal bangsa ini.

Menjadi Seorang Pancasilais atau Bukan

Memilih ideologi adalah hak asasi manusia, persis sama dengan pilihan memeluk agama atau keyakinan beragama. Sebagian orang (termasuk saya) mengartikan ideologi sebagai pandangan ideal/pedoman hidup, dan definisi itu bersinggungan dengan pengertian dien/agama. Nah sampai di sini kita akan mulai susah membedakan mana yang ideologi mana yang keyakinan beragama, jadilah definisi ideologi dirapatkan dengan agama itu sendiri. Anda boleh berbeda pandangan, sah-sah saja dan itu adalah hak asasi Anda.

Meskipun begitu saya tidak pernah berpikir seseorang yang Pancasilais hanyalah orang yang berideologi Pancasila. Saya lebih sepakat bahwa -isme seseorang lebih obyektif dipandang dari pemikiran, sikap dan tingkah lakunya bukan sekedar pernyataan atau pengakuan lisan semata. Contohnya, sekelompok orang yang mengaku Pancasilais mengutuk keras berkembangnya ideologi komunis, tetapi melakukan tindakan anarkis terhadap saudara-saudaranya yang memilih ideologi tersebut. Boleh jadi media akan menuliskan berita, Kelompok Pancasilais Menganiaya Pengikut Komunis, di headline mereka. Apakah dengan demikian citra Pancasila menjadi naik, semakin kuat? Tunggu dulu …

Seseorang yang berusaha mewujudkan nilai-nilai Pancasila dengan bersungguh-sungguh meskipun untuk urusan ideologi bisa saja berbeda lebih pantas disebut seorang Pancasilais. Tapi apakah seseorang yang tidak memahami nilai-nilai tersebut akan mampu mewujudkannya? Saya bilang bukan mustahil, terlebih bila nilai-nilai tersebut bersifat universal. Bagaimana menurut Anda, apakah Anda seorang Pancasilais?

9 responses »

  1. Ping-balik: Rezim Berganti, Pancasila Harus Tetap Ada | Masih Hangat

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s