Hikmah Berkurban

Standar

image

Sapi kurban dan penjagalnya

Setiap momen Idul Adha membawa kesan yang berbeda untuk saya pribadi. Dulu waktu masih sekolah sampe SMA, saya tidak pernah terlibat dalam kegiatan kurban. Bahkan ketika sudah kuliah, saya baru sekali berkurban. Itu pun waktu saya di tingkat akhir akademi, di tingkat satu dan dua saya baru bisa belajar berkurban. Waktu itu saya dan teman-teman mengumpulkan uang untuk membeli seekor kambing. Tapi buat saya saat itu berkurban menimbulkan kesan yang menyenangkan.

Sejak lulus kuliah bisa dihitung dengan jari berapa kali saya berkurban di momen Idul Adha, tapi tidak lebih banyak dari itu kesan yang menimbulkan hikmah di hati saya. Pernah saat saya tidak mudik Idul Adha dan mesti berlebaran haji di Jakarta, saya meghikuti sholat Ied di lapangan Pusdiklat Kejagung. Khutbah Ied yang saya ikuti begitu menyentuh sehingga saya tak kuasa menahan air mata. Mungkin saat sang khotib menceritakan kisah Nabi Ibrahim a.s. dan putranya Nabi Ismail a.s. saya jadi teringat ayah saya yang berada jauh di kampung.

Ternyata tahun ini saya kembali bertemu dengan khutbah yang juga menyentuh hati. Bukan khutbah Ied tapi khutbah Jum’at di hari Idul Qurban. Sang khotib menerangkan tentang ketakwaan Nabi Ibrahim a.s. sehingga pada suatu ketika memberikan kebaikan pada makhluk lain dalam jumlah besar. Terucaplah kalimat, jangankan harta bendanya bila Allah s.w.t. meminta anaknya untuk dikurbankan sekalipun maka Nabi Ibrahim tentu akan memberikannya. Setelah berpuluh tahun berumah tangga dengan Sarah dan Hajar r.a., lahirlah Nabi Ismail a.s. yang sangat diharapkan. Bagi Nabi Ibrahim a.s. dan istrinya anak adalah buah dari kesabaran dan ketakwaan kepada Allah s.w.t.

Saat Nabi Ismail a.s. masih kecil turunlah perintah bagi nabi Ibrahim a.s. melalui mimpi. Janjinya ditagih oleh Allah s.w.t. dan berulang hingga tiga malam sehingga yakinlah ia bahwa itu benar-benar datang dari Rabb-nya. Saat itulah terjadi dialog antara Ibrahim a.s. dengan putranya tercinta Ismail a.s. Dialog ini begitu penting sehingga Allah abadikan dalam Al Qur-anul Karim. Dalam dialog tersebut jelaslah kedudukan musyawarah dalam Islam dan betapa Islam menghormati kedudukan setiap pribadi meskipun bagi seorang anak belia.

Pengurbanan kedua manusia mulia inipun diamini oleh kekasih mereka Sarah dan Hajar r.a. Hal ini dibuktikan dengan ditolaknya mentah-mentah godaan setan untuk menghalangi mereka menjalankan perintah suci itu. Mereka secara kompak mengusir setan dengan lemparan batu sehingga disyariatkan juga pada kaum muslimin yang menjalani ibadah haji. Pengurbanan ini tidak disia-siakan dan dibalas secara instan oleh Allah s.w.t. Ismail a.s. digantikan dengan gibas dan keluarga Ibrahim a.s. ditambahi nikmat dengan lahirnya Ishaq a.s. dari rahim Sarah r.a. Dan dari keluarga ini dilahirkan keturunan yang sholih-sholihah seperti Maryam r.a., Isa a.s., dan Muhammad s.a.w.

Saya tertegun dan lagi-lagi tak bisa menahan air mata. Saat sholat Jum’at sang imam membacakan lagi ayat-ayat yang terkait dengan kurban ini semakin saya hanyut dalam suasana pasrah kepada Allah s.w.t. Saya sangat jarang berada dalam kondisi spiritual seperti ini dan begitu menikmatinya.

Kurban sesungguhnya bukanlah hewan yang kita alirkan darahnya dengan nama Allah, melainkan kecintaan kita kepada dunia dan isinya. Berkurban adalah simbol komitmen kita untuk mencintai Allah Rabbil Izzati di atas segala-galanya.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s