Tertib Ber-KRL Kapan Terwujud?


image

Kemarin Ahad saya mengantar istri survei lokasi outing class bimbelnya di Kota Tua Jakarta. Kami dikawal dua jagoan cilik kami sehingga surveinya sembari wisata keluarga. Menuju ke lokasi dari Depok paling mudah naik KRL, selain dijamin tidak macet biayanya juga terjangkau. Perjalanan berangkat cukup nyaman karena tidak lama berdiri istri dan anak-anak bisa duduk sampe stasiun Kota. Dari stasiun kami tinggal berjalan 20 menit menuju Kota Tua.

image

image

Kami mengunjungi Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Museum Wayang, dan Museum Bank Indonesia. Menikmati sejuknya Museum BI sekaligus menambah wawasan tentang sejarah bank di tanah air juga melihat koleksi uang dari berbagai negara. Menikmati kuliner di Taman Fatahillah sambil menyaksikan pertunjukan Reog, lalu bersepeda bersama anak-anak berkeliling sebelum kemudian istirahat untuk sholat Dzuhur di musholla Jasindo. 

image

Pulangnya kami putuskan naik bajaj ke stasiun karena anak-anak tampak kelelahan. Di stasiun Kota kami mampir ke toilet gratis sambil menunggu KRL commuter-line jurusan Bogor. Kurang lebih satu jam kami menanti akhirnya kereta itupun datang. Seperti biasa penumpang yang akan naik sudah berjejal di pinggir rel lalu berebutan masuk meskipun penumpang yang di dalam belum lagi keluar. Saya dan istri tidak kebagian kursi, padahal kami termasuk yang awal-awal menunggu kereta itu dibanding yang lain. Nasib? Mungkin juga. Dan ternyata keluarga dengan anak-anak yang tidak bisa duduk bukan cuma kami, ada setidaknya dua keluarga dengan anak mereka yang terpaksa berdiri di gerbong itu. Tampak oleh kami para penumpang pria muda dan remaja yang santai duduk atau tiduran setelah berhasil duduk lebih dulu dari kami, tapi saya tidak berusaha menegur mereka mungkin mereka lebih lelah dari saya. Beruntung istri diberi sedikit ruang untuk sekedar duduk sehingga anak-anak bisa bergantian duduk di pangkuannya.

Selama perjalanan saya berpikir, bagaimana caranya mengatur penumpang KRL agar lebih tertib ya? Penumpang bisa nyaman, terutama orangtua, ibu hamil, dan anak-anak bisa duduk meski datang belakangan. Ah …, sepertinya butuh 15-20 tahun lagi untuk bisa menikmati suasana seperti itu. Terbayang oleh saya situasi kereta bawah tanah Jepang yang katanya juga penuh sesak terutama di pagi dan sore hari. Bagaimana dengan orangtua, ibu hamil, dan anak-anak, apakah mereka juga berdesakan masuk-keluar kereta atau ada gerbong khusus seperti gerbong khusus wanita di KRL kita? Pasti hal ini sudah dipikirkan oleh PT. KAI sebagai penyedia jasa transportasi KRL, tinggal langkah apa yang mesti ditempuh untuk mengubah budaya bertransportasi terutama untuk penumpang KRL yang sangat majemuk. Saya dengar penumpang busway bisa lebih tertib karena mereka dominan dari kalangan terdidik. Semoga meski berbeda segmen tertib bertransportasi bisa terwujud di negeri kita tercinta dalam waktu dekat.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s