Kemarahan vs. Keramahan Berkendara

Di sebuah jalan kota besar di nusantara. Seorang ibu paruh baya berjalan tertatih menyeberangi jalan lalu berhenti di tengah karena sebuah mobil membunyikan klakson kencang-kencang tanpa mengurangi lajunya melalui ibu tadi. Tanpa diduga si pengendara mobil membuka kaca jendelanya lalu meneriakkan kalimat pendek, “Kalo nyebrang pake mata dong…!!”. Tampak raut muka ketakutan di wajah si ibu saat mobil itu berlalu menjauhinya.

Pada saat yang sama di sebuah jalan raya, di ibukota suatu negara Amerika Selatan. Seorang kakek tua berdiri di tepi jalan dengan tongkatnya, sebelum menyeberang ia menjulurkan tangannya ke depan. Sebuah mobil mewah melaju kencang mengarah ke jalan tempat si kakek menyeberang, lalu berhenti tepat di belakang zebra-cross. Si sopir tersenyun sambil memberikan isyarat kepada kakek itu untuk menyeberang di depannya.

Bagaimana menurut Anda, mana yang lebih sering Anda temui di jalanan?

Saya sudah hampir 20 tahun tinggal di Jabodetabek dan lebih sering menemui kejadian pertama dibanding yang kedua. Saya begitu takjub ketika berkesempatan mengunjungi Brazil dan menemui kejadian kedua. Entah dari mana munculnya istilah yang tenar itu, Indonesia terkenal karena keramahan penduduknya. Pada contoh kasus ini, jelas tidak ada keramahan di kejadian pertama. Somehow, keramahan itu ada di sisi lain dunia.

Mungkin ini konsekuensi menjadi penduduk dari negara berkembang khususnya di kota besar, orang lebih mudah marah bahkan untuk berbagai hal termasuk berkendara. Huh dasar… #sambilmarahmarah

Iklan

Zaman-old vs. Zaman-now

Sopir angkot, dan sopir-sopir moda transportasi sejenis, kini semakin terdesak oleh para pesaing usaha jasa transportasi. Ya, transportasi online kini menjadi moda transportasi yang makin dominan. Tak pelak lagi, banyak sopir angkot akhirnya banting setir menjadi driver ojek atau taksi online. Hal ini tentu dipandang sebagai hal yang lumrah di dunia usaha, tetapi bisa menjadi petaka bagi orang-orang yang karena kondisinya gagal move on untuk mengikuti perkembangan zaman.

Bisnis berbasis online memang mulai merajai pasar dunia, tidak terkecuali di tanah air. Tidak sedikit toko, mall, dan supermall konvensional mesti mencari 1.001 cara untuk bertahan melawan gelombang besar berpindahnya pelanggan mereka ke toko, mall dan supermall online. Bahkan beberapa sudah mengibarkan bendera putih, sedang sebagian beralih ke basis online mengikuti pesaingnya. Lagi-lagi inilah keniscayaan dalam dunia usaha.

Saat saya kecil dulu bermain game mesti punya gamewatch atau konsol game macam Nintendo atau Sega. Atau kalo tidak punya cukup tabungan untuk membeli alat game tadi saya biasa pergi ke game station untuk bermain ding-dong. Saat itu harga mainan game puluhan sampe ratusan ribu sedangkan main ding-dong hanya seratus hingga 5 ratus perak per game. Sebagai pembanding, harga semangkuk mi ayam waktu itu 3 ratus perak saja. Kebayang kan usia saya berapa 😁

Sekarang anak-anak kita dimanjakan dengan berbagai game online yang tentu membutuhkan koneksi internet berbayar. Dan jika membutuhkan mereka bisa menambah fitur game yang dimainkan dengan membelinya langsung dengan pulsa yang dimiliki. Saat ini saja saya sudah kewalahan dengan kebutuhan anak laki-laki paling kecil saya terhadap Youtube. Kalo dituruti bisa habis belasan atau puluhan ribu sehari. Weleh-weleh 😌

Di Antara Para Bebek Matic

Hampir 10 tahun motor itu menemani kami sekeluarga. Sudah tua memang, tapi masih gagah lah mengantar saya setiap hari pp rumah-kantor. Tua tua keladi hi hi hi… Sejarahnya panjang dan lebar, manfaatnya luas dan berisi. Pengalaman memilih motor itu saya tuliskan di sini. Dialah salah satu warisan mendiang istri saya. Sudah seperti istri kedua, eh maksudnya istri keempat buat saya #ups

Dulu ada motor tua, lebih tua dari motor ini. Masih dari pabrikan yang sama tapi sangat senior, masih 100cc. Meski begitu motor tua itu tidak kurang hebat sejarahnya dibanding motor ini. Saat saya melepasnya, saya masih berharap motor itu bisa memberi manfaat untuk pemilik barunya. Saya ini saya tidak tau di mana motor tua itu, tapi saya masih menyimpan fotonya. Seperti istri ketiga buat saya #upslagi

Continue reading “Di Antara Para Bebek Matic”

Gerhana Bulan dan Sholat Khusuf

Tahun ini Indonesia secara umum kebagian peristiwa alam yang konon sangat jarang (150 tahun sekali, wow). Kalo mo baca referensinya silakan di sini. Tapi saya bukan ingin membahas tentang itu. Kebetulan momentum itu dimanfaatkan sebagian netizen dan komunitas (khususnya WAG) untuk mengajak kaum muslimin mengamalkan sunnah Rasul terkait peristiwa ini. Ya, kaum muslimin kemudian berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan sholat sunnah Khusuf. Referensinya bisa dibaca di sini.

Berikut ini beberapa foto dokumentasi dan khutbah sholat Khusuf yang sempat saya simpan. Silakan menyimak, semoga bermanfaat untuk Anda.

Continue reading “Gerhana Bulan dan Sholat Khusuf”

Membimbing itu Tidak Gampang

Seiring bertambahnya usia, seseorang akan dihadapkan pada berbagai persoalan dalam kehidupannya. Di usia yang lebih muda kita pada umumnya berpikir menjadi orang yang lebih tua daripada kita adalah sesuatu yang menyenangkan. Saat masih sekolah kita melihat mahasiswa begitu asyik kuliah, bebas dengan baju tak seragamnya. Saat kuliah kita melihat orang bekerja begitu menikmati hasil pekerjaannya, membeli mobil, menikah atau punya anak. Saat sudah bekerja kita melihat bos-bos kita begitu asyik menikmati masa menjelang pensiunnya, bersiap untuk libur panjang, momong cucu dan seterusnya. Kenyataannya menjadi lebih tua bukan perkara gampang. Ada hal yang belum terpikir saat kita lebih muda, apa ya?

Continue reading “Membimbing itu Tidak Gampang”

Ikutan Full Kumpul FTUI 2018

Berawal dari kiriman email Iluni kemarin lusa, saya memberanikan diri untuk ikut event ini.

Nah, niatnya pingin bisa ketemu temen-temen alumni yang dikenal dulu tapi sepertinya gak pada datang. Jadi saya putuskan ikut yang ini saja.

Sudah lama gak ikutan lari marathon, sambil jajal kebugaran. Saya ajak anak-anak cowok, biar mereka juga mulai mengenal jenis olah raga murmer ini 😊

Berangkat jam 5.30 hanya bersama babang Faqih (sebutan baru mas), karena mas Faisal gak mau dibangunin padahal dia semangat banget pas diajak kemarin, efek begadang semalam kayanya. Sampe kampus pas jam 5.45-an, langsung registrasi. Dapat gelang FTUI runner ini.

Kami mengambil paket 5 km saja sebagai pemula. Meskipun babang semangat banget pingin ikut yang 14 km, saya khawatir nanti dia kecapekan he he he… biasa semangat pemula. Jam 6.30-an Dekan FTUI mengibarkan bendera Start di depan kampus dan kami pun mulai berlari.

Sekilo awal babang masih semangat, sengaja saya tahan supaya tidak terlalu cepat. Biasanya dia sprint kalo lari, tapi saya yakin kalo langsung cepat bakalan gak sampe finish ntar. Dua kilo berlalu, babang mulai kecapekan. Sesekali jalan dan mulai nanya kapan sampenya hi hi hi. Kami mulai melambat, dan tertinggal rombongan.

Sampe di depan tulisan UI ada pembagian air minum, kami berhenti sejenak. Babang mulai keringetan banyak, ngos-ngosan sambil bilang masih jauh ya… dia jalan dari situ. UI mulai rame saat kami melintasi pintu utama, semakin banyak orang-orang yang jogging di jalan utama UI menuju FT. Kami mulai dilewati rombongan bapak-ibu sepuh yang tadi jauh di belakang.

Saya mulai goda babang, mosok kalah sama ibu-ibu. Dia terpancing, kami lari lagi saat melintasi FEUI. Saya mulai sprint menuju garis Finish sementara babang mengejar saya sambil teriak-teriak di belakang. Jam 7.15-an kami sampe FTUI dengan selamat. Stand-stand Iluni sudah siap menyambut kami, mulai dari Kopi pak Dekan sampe Duren Ilusin.

Kami menjajal beberapa butir duren, segelas kopi, dan sebungkus lopis. Kenyang… baru kali ini ikut lari marathon tapi pulang dengan perut penuh. Untung stand Bakso Atom belum dibuka, coba kalo sudah wah bisa-bisa kami pingsan karena perut kekenyangan wkwkwkwk.

Ok deh, memang target untuk membuat jaring saya belum terwujud tapi setidaknya saya sudah berani menghadiri event yang masih asing itu. See you next time, Campus … 😁 Berikut hasil lari pagi ini.

Instruktur Senam adalah Penari

Pagi ini saya mengantar anak buat rujukan di Puskesmas. Eh ketemu ibu-ibu pegawai Puskesmas sedang senam pagi. Jadi inget zaman kids saya dulu, senamnya SKJ ’86 😁

Saya melirik (bukan melotot ya) ke instruktur senamnya. Beliau sudah berumur (paruh baya) tapi masih mau ya membimbing ibu-ibu ini senam. Hapus pikiran Anda tentang instruktur aerobik yang seksi-seksi. Saya pikir memang alasannya secara kultural mengikuti perkembangan zaman.

Dulu ketika orang-orang Nusantara ini masih mengikuti tradisi pada setiap sendi kehidupan maka yang banyak dilakukan orang adalah menari. Saya ingat sekali waktu Om saya menikah, tetamu disuguhi tarian Rama-Shinta. Trus kalo saya liburan dan main ke rumah nenek atau pakdhe di kampung. Kami sering diajak nonton Jatilan, tanpa harus ada festival seni di Alun-alun.

Sekarang orang sudah jarang menggunakan tarian-tarian dalam kehidupan, berganti dengan joget dangdut yang gak jelas atau senam yang menyehatkan. Nah, kalo dulu penari mengambil peran penting dalam pendidikan informal di masyarakat. Mereka melatih anak-anak untuk menari sehingga pada saat ada “gawe”, mereka bisa menampilkan tariannya sebagai hiburan.

Penari profesional sebagian beralih ke instruktur senam. Ya tidak? Asumsi saya sih, tapi mereka berdua mesti memiliki kompetensi yang sama: kelincahan gerak badan. Walaupun ibu-ibu dikenal memiliki sifat lemah gemulai, tidak berarti semua ibu-ibu bisa melakukan gerakan senam dengan baik. Tidak jarang mereka senam dengan gerakan yang kaku bahkan wagu … Wkwkwkwk.

Baiklah, sampe di sini saja opini saya terkait instruktur senam dan penari. Semoga ketika senam kita bisa mengikuti gerakan instruktur senam kita 😊

Hoax Membangun

Disclaimer: ini adalah postingan jenis gimmick. Tujuannya tentu bukan mencari popularitas, lebih pada curcol supaya saya lebih terbuka akan suatu ide yang extraordinary.

Baru kemarin Presiden melantik Kepala BSSN, ungkapan #HoaxMembangun langsung menjadi trending topic setidaknya sampe saya menulis ini.

Dan meskipun kemudian Kepala BSSN mengklarifikasi pernyataannya bahwa itu adalah gimmick sekaligus meminta maaf tapi perbincangan tentang hoax membangun ini masih saja menggelitik.

Mari sholat berjama’ah dulu …

Nah, apa sebenarnya hoax? Apakah hoax di dunia nyata sama dengan hoax di dunia maya? Lalu bagaimana kita menyikapi hoax?

Berikut beberapa artikel yang mungkin mencerahkan kita…

https://www.rappler.com/indonesia/ayo-indonesia/181912-sketsatorial-apa-itu-hoax

https://www.selasar.com/jurnal/4366/Cara-Mendeteksi-Hoaks-di-Dunia-Maya

https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media

Semoga menjadi pencerahan ya. Tapi memangnya tidak ada berita bohong yang positif? Nah, kalo definisi hoax sudah dipahami maka tidak bisa menyamakan hoax dengan berita bohong. Untuk yang terakhir bahkan dalam Islam diatur. Berikut artikelnya.

https://rumaysho.com/8848-bohong-yang-dibolehkan.html

So, saya simpulkan hoax positif/membangun tidak ada tetapi berbohong positif/membangun ada. Marilah kita membangun komunikasi yang jujur dan konstruktif.