Musholla Ideal (Bagian 1)

Tidak terasa Ramadhan 1438 H sudah masuk hari ke-9, betapa cepatnya waktu berlalu… apa saja yang sudah kita lakukan selama bulan suci ini. Masyaa’Allaah

Ada yang berbeda di Ramadhan tahun ini… anggota keluarga saya bertambah dengan kehadiran Fia. Di hari kedua Ramadhan, tepatnya Ahad pekan lalu istri saya melahirkan putri pertama kami (sekaligus anak keempat saya). Setelah menjalani proses persalinan normal selama hampir 12 jam, akhirnya istri harus menjalani operasi cesar. Lahirlah Shofia Zahra Ramadhani, 3 kg 47 cm dengan bantuan dokter Dewi di RS. GPI. Alhamdulillaah … cerita terkait saya tuliskan di sini.

Sepekan terakhir rencana padat saya mengisi Ramadhan dengan berbagai amaliyah sedikit tergeser dengan “agenda dadakan” atas kelahiran Fia. Agak tertinggal memang, tetapi bukan saatnya untuk mengeluh sekarang karena Ramadhan terlalu sayang untuk dilewatkan tanpa perjuangan kan. Saatnya menata kembali agenda meraih Ramadhan Terbaik. Eh … saya jadi lupa mo nulis apa he he he gagal fokus.

Seperti tahun-tahun lalu, menjelang dan selama bulan puasa selalu ada keseruan terkait pengurusan musholla kami, Nurul Iman. Tahun ini lebih seru lagi karena kami… lebih tepatnya saya kurang memerhatikan waktu persiapan Ramadhan, jadilah pengurus belum ada persiapan bahkan ketika hadirnya tinggal beberapa hari. Untung saja hal yang bisa dilakukan dadakan seperti kerja bakti membersihkan musholla tetap berjalan sehingga tidak seperti tahun lalu yang minim peserta. Padahal kami bahkan telah melakukan pengecatan ulang dinding musholla dan kusen di dua pekan sebelum Ramadhan. Di sinilah kemudian muncul sedikit permasalahan, sebagian jama’ah musholla mempertanyakan dari mana dana pengecatan itu mengingat kas musholla yang “biasa” minim. Duh … yang begini ini kadang bikin emosi, tapi memang mesti disikapi secara positif. Mengapa? Karena itu hak jama’ah mengetahui aliran dana musholla, dan kewajiban pengurus untuk menyampaikan secara akuntabel dan transparan. Inilah azas yang perlu dipahami oleh Musholla Ideal.

Setiap organisasi masyarakat mempunyai kewajiban menyampaikan kepada masyarakat secara akuntabel dan transparan terkait pengelolaan dana dari masyarakat, tidak terkecuali musholla.

Nah … akhirnya dengan usaha maksimal, kami menyusun laporan keuangan peningkatan sarana prasarana musholla lalu menyampaikannya di malam pembukaan sholat Tarawih. Semoga seluruh jama’ah memahami dan memakluminya. Pengurus juga manusia…

Cerita musholla ideal berikutnya ada di sini. Marilah kita optimalkan interaksi kita dengan masjid/musholla di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Salam Ramadhan Terbaik

Iklan

And Fia Is Her Name

Saya tergagap dibangunkan istri jam 2.30-an pagi ini. Di hari kedua sahur, saya berharap bangun jam 3-an karena biasa sahur di akhir waktu. Ternyata istri bilang kalo dari jam 2-an sudah mules terus dan sudah keluar flag (saya tidak tau istilah yang benar, yang saya tulis lebih dekat dengan istilah komputer). MasyaaAllaah … berarti sudah waktunya istri saya melahirkan. Saya bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke Poned. Sesudahnya saya membangunkan adik dan biyung lalu mengeluarkan motor dari halaman rumah. Istri sudah menyiapkan tas berisi perlengkapan yang mesti dibawa, kami membawa sedikit bekal lalu berangkat ke Puskesmas.

Istri saya berjalan kaki dari rumah ke Poned sementara saya naik motor di sebelahnya. Beberapa kali orang berlalu di dekat kami, pandangan mereka sedikit aneh, entah apa yang mereka pikirkan karena saya fokua pada kondisi istri. Tidak sampe 15 menit kami tiba di gerbang Poned, satpam membuka pintu pagar dan kami masuk ke dalam. Petugas yang piket sudah bangun untuk makan sahur, mempersilakan istri saya masuk ke ruang periksa sementara saya mengisi formulir di meja administrasi.

Baru bukaan satu…, begitulah kira-kira yang disampaikan petugas setelah memeriksa dalam kandungan istri saya. Istri keluar dari ruang periksa, kami pun duduk menunggu di kursi tunggu. Beberapa saat berlalu petugas memanggil kami ke meja administrasi. Mereka menyampaikan kondisi dan rencana aksinya. Istri dipersilakan menunggu di ruang perawatan Poned, saya pamit mencari makan sahur dan sholat Shubuh karena waktu sudah menunjukkan jam 4.15.

Setelah menyantap sahur di menit-menit akhir Imsak, saya pun menuju masjid untuk sholat Shubuh. Saya berdo’a semoga istri dan anak kami diberikan keselamatan dan kesehatan oleh Allah. Saya pun beranjak kembali ke Poned, menunggui istri saya. Kami berinisiatif menghitung frekuensi dan durasi kontraksi istri dengan aplikasi yang saya unduh di Playstore. Jam 6 istri saya diperiksa dalam lagi, baru bukaan dua. Jam 8 istri saya diperiksa lagi, baru mendekati bukaan 3. Istilah “bukaan”, bagi yang awam, silakan googling ya.

Sesuai prosedur yang disampaikan di awal oleh petugas, lewat jam 8 petugas piket berkonsultasi dengan penanggung jawab Poned melalui telpon (karena hari ini hari libur) untuk menyampaikan kondisi dan mengambil tindakan. Saya pun diminta mencari RS yang diinginkan sebagai rujukan mengingat risiko kelahiran istri. Saya bergegas menuju RS. GPI untuk mencari informasi, dan Alhamdulillah diterima setelah proses pengecekan yang lumayan panjang. Hampir jam 11, istri saya diantar dengan ambulance puskesmas ke UGD RS. GPI tanpa biaya. Kami menggunakan BPJS Kesehatan, fasilitas dari kantor saya.

Di UGD, istri saya langsung menjalani pemeriksaan rekam jantung bayi dan dirinya sendiri. Saya tidak tau hasilnya, bidan yang memeriksa bilang hasilnya akan disampaikan oleh dokter kandungan. Perawat kemudian memasang infus, sementara bidan berkonsultasi dengan dokter melalui telpon. Walhasil, dokter memutuskan istri saya harus menjalani operasi cesar untuk melahirkan bayi kami. Terjadwal jam 13 hari ini. Subhaanallaah

Istri lalu dipindahkan ke ruang tindakan kebidanan sementara saya mengurus administrasi pendaftarannya. Sesudahnya saya bergantian dengan biyung menunggui istri di ruang tindakan karena anak-anak saya ikut semua ke RS kecuali Fida yang sedang ada kegiatan di sekolah. Mereka ingin menunggui Mama mereka melahirkan adik kecil yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Tim dokter datang agak terlambat, hampir jam 14 baru lengkap sehingga jam 14.30 istri baru masuk ke ruang operasi. Selama menunggu istri digantikan baju, diberi penjelasan tetang bius lokal dan diganti infusnya. Dag dig dug

Lewat satu jam sejak istri masuk ke ruang operasi, mas Faqih sudah tidak sabar. Berkali-kali dia menanyakan, kapan mamanya keluar dan kapan dede bayinya lahir. Entah kenapa selain excited, dia juga sangat emosional. Agak beda dengan dik Faisal yang lebih tenang, juga kak Fida. Semoga setelah adiknya lahir, mas Faqih bisa lebih tenang. Tiba-tiba box bayi lewat di depan kami, perawat lalu memanggil keluarga bayi yang dibawanya. Saya lalu menghampirinya, dan perawat langsung mengenalkan bayi itu pada ayahnya. Alhamdulillaah … ini putri saya, bahkan kami belum punya nama untuknya. Setelah adzan dan iqomah, perawat menyilakan saya memotretnya dengan kamera hape … cepret cepret !!


Lebih dari 1 jam kemudian barulah istri keluar dari ruang operasi. Menjelang Maghrib hari ini, Allah mengabulkan do’a saya di Shubuh tadi. Saya bersyukur, bayi dan mamanya diberikan keselamatan dan kesehatan. Terima kasih ya Allaah …

Beberapa hari kemudian kami berdua sepakat memberinya nama Shofia.

Belajar Baca-Nulis (Lagi)

Saya mulai menulis blog ini beberapa saat sesudah kelahiran putra kedua saya (hampir delapan tahun lalu). Waktu itu saya sedang kuliah, dan aktif berlanjut sampai sebelum saya mulai aktif mengajar di kampus. Seiring aktifitas saya sebagai pengajar itulah kira-kira saya jadi agak malas menulis. Entah karena jarang punya waktu luang untuk menulis atau memang semangat menulis saya mati eh… mati suri maksud saya. Padahal saat ini, ketika saya sudah memutuskan untuk menjadi full-timer pengajar, menulis menjadi salah satu kewajiban saya. Duh…

Sebenarnya menjadi blogger itu aktifitasnya memang tidak hanya menulis, melainkan membaca juga. Nah ini… yang saya juga menurun sekali semangatnya. Saya ingat dulu waktu masih di SD, mungkin sampe SMA lah, begitu menyukai membaca. Dulu memang belum ada internet, jadi sebagian besar waktu luang saya habiskan untuk membaca wabil khusus komik dan novel he he he… Tapi sejak kuliah hingga sekarang semangat membaca saya menurun drastis. Meski saya masih suka komik dan mungkin juga novel tapi saya jarang sekali melakukannya. Gantinya lebih asik membaca dan menulis di medsos terutama grup-grup Whatsapp. Ups… ini masalahnya.

Sekarang, saat saya sudah hampir 2 tahun bekerja di kampus, saya merasa sudah saatnya saya kembali harus memaksakan diri untuk menjadikan kembali membaca dan juga menulis menjadi hobi saya. Titik.

Saya mesti meluangkan waktu khusus untuk itu dan bukan lagi hanya waktu luang. Sepertinya beberapa menit sebelum tidur bisa menjadi alternatif utama saya untuk melakukannya. Bismillah…

Cacat Produksi?

Sudah beberapa kali saya melihat yang seperti ini di jalanan. Mungkin 1-2 dari yang saya lihat memang mengalami tabrakan atau setidaknya serempetan. Tapi sisanya saya lihat mulus-mulus saja. Mungkinkah ini cacat produksi?

Sekilas dari yang saya lihat, sambungan bodi atas ban depan terlepas dari bagian bodi depan. Sepertinya desain sambungannya tidak terlalu kokoh dan tidak ada bautnya, melainkan menggunakan pengait yang menjadi bagian dari keduanya tetapi kurang klik sehingga mudah terlepas ketika mendapat benturan atau beban yang cukup besar.

Sepertinya Toyota mesti memerhatikan lagi desain bodinya mengingat harga sebuah Avanza sekarang semakin mahal. He he he… mohon maaf kalo komentar saya terlalu dangkal atau malah salah total, mengingat saya bukan pengguna. Salam.

Info Masjid (1)

Jika Anda sedang melintasi Jalan Sawangan Raya dari atau menuju Jalan Nusantara dan saat itu waktu sholat maka Anda bisa berhenti untuk menunaikan sholat di Masjid Nurul Islam. Lokasinya di pinggir Jalan Mangga Raya sekitar 15 meter ke Barat dari persimpangan Jalan Rambutan Raya dan Jalan Mangga Raya. Insya’Allah Anda tidak akan kesulitan  menemukannya bahkan tanpa menggunakan peta sekalipun.

Fasilitas Masjid

Masjid Nurul Islam adalah masjid jami’, artinya di masjid ini diselenggarakan sholat berjama’ah 5 waktu dan di hari Jum’at diselenggarakan sholat Jum’at. Kapasitas/daya tampung masjid ini cukup besar, sekitar 600 jama’ah. Terdiri dari 2 lantai, di waktu sholat fardhu selain Jum’atan yang digunakan hanya lantai utama dengan jama’ah putri/akhwat di belakang jama’ah putra/ikhwan dibatasi dengan hijab tidak permanen.

Tempat wudhu dan toilet baik untuk ikhwan maupun akhwat terletak di sudut Barat Laut masjid. Tempat wudhu tambahan ada di bagian depan Tenggara masjid khusus untuk ikhwan.

Tempat parkir motor terletak di Utara masjid, sedangkan parkir mobil belum tersedia. Bila Anda membawa mobil maka bisa titip parkir di parkir minimarket di dekat masjid atau di pinggir jalan depan masjid.

Masjid ini dilengkapi dengan karpet tebal yang nyaman dan pendingin ruangan berupa kipas angin dan AC. Juga tersedia sarana multimedia berupa televisi LCD di dua sisi dinding Barat masjid. Sound system masjid juga cukup bagus dengan kualitas suara yang jernih.

Marilah kita ramaikan masjid dengan sholat fardhu 5 waktu secara berjama’ah.

Tentang Chemistry (Bagian 2)

Pemotor yang Termarjinalkan

Sebelum saya lanjut dengan teori saya terkait chemistry (proses kimiawi), saya ingin mengkritisi sedikit sistem yang umum di pusat-pusat perbelanjaan modern (sebut saja mall). Baru-baru ini saya diajak makan bos kecil ke mall di bilangan Cilandak. Saya pernah ke sini sekali, dulu banget… seingat saya waktu saya baru menikah. Kami ke sini sepulang dari kontrol ke RS. Fatmawati, waktu itu kami ke mana-mana naik angkot atau bis kota.

Nah… setelah sekian lama, akhirnya saya balik ke sini lagi. Kali ini saya naik motor dari tempat kerja. Karena belum pengalaman, saya bertanya ke satpam di depan mall di manakah parkir untuk motor. Dengan ramah pak satpam menunjukkan kalo parkir motor sejalan dengan akses parkir mobil: masuk ke kiri lalu turun. Saya ikuti petunjuknya, agak bingung karena baru sekali ke parkir mall ini di basement. Ketemu tempat parkir motor eh ada tulisan khusus member. Oleh petugas di situ saya diarahkan ke parkir motor futsal. Wah… di mana itu? Putar-puter sana -sini, tengak-tengok eh sampe pintu keluar. Nyasar…

Akhirnya sampe juga. Tempatnya di ujung area mall hampir keluar, di seberang lapangan futsal indoor. Jaraknya sekitar 150 meter dari gedung utama mall, dan tanpa atap. Saat itu cuaca masih bersahabat meski sudah mendung, tapi bisa dibayangkan jika turun hujan lebat. Kasihan deh pemotor… Sebagai pengguna motor saya merasa agak didiskriminasi. Meski begitu, satu keuntungannya untuk saya adalah dekatnya parkir motor dengan musholla. Ya sudahlah… mohon maaf jika kurang berkenan.

Uniknya Chemistry Manusia

Pernahkah Anda mendengar nasihat seseorang yang membuat Anda menangis tersedu-sedu. Sadarkah Anda, nasihat itu pernah Anda dengar dari orang lain tapi Anda mengabaikannya? He he he… saya sih sering. Kelumrahan hal inilah, menurut saya, yang menyebabkan banyak orang menasihatkan, jangan lihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang disampaikan. Benar atau tidak kesimpulan saya ini, silakan Anda menilai sendiri.

Jangankan di organisasi yang cukup besar model kampus saya, bahkan di keluarga kecil saya sekalipun pengaruh chemistry adalah  hal yang biasa. Misal, setiap kali saat sholat fardhu tiba reflek saya mengajak anak-anak untuk menunaikan sholat. Seringkali mereka masih asyik dengan aktifitasnya entah nonton tivi, baca buku atau bermain gadget saat saya sudah selesai sholat. Meskipun beberapa kali saya ingatkan mereka untuk sholat, jarang mereka langsung berangkat. Beda saat yang mengingatkan mama mereka, lebih mudah mereka melaksanakannya. Kalo dibilang kurang tegas sepertinya tidak juga, tidak jarang saya menggunakan nada tinggi komando meski kadang saya menggunakan sikap lembut persuasif. Saya lebih suka menyebutnya chemistry. Mengapa demikian?

Sesuatu yang kita pahami nilainya, baik buruknya bahkan manfaatnya, belum tentu mendorong kita untuk menyetujuinya apalagi melaksanakannya. Tetapi ketika sesuatu itu menyentuh perasaan kita, entah nyaman atau tidak nyaman maka itu lebih mendorong kita untuk menyetujui lalu melaksanakannya. Karenanya kita lebih sering tergoda dengan iklan, promosi, dll. yang mungkin secara riil tidak benar-benar kita perlukan. Chemistry itu bisa muncul dari pandangan, pendengaran, sentuhan meskipun tidak jarang juga muncul dari persepsi bahkan prasangka. Kalo dibilang baper ya mungkin tidak sepenuhnya keliru. Mirip-mirip… tapi tidak persis sama.

Chemistry adalah yang membuat Anda memilih beberapa sahabat dari banyak teman Anda. Chemistry adalah yang mendorong Anda melamar calon istri Anda. Chemistry pula yang mendorong staf Anda bersemangat, sementara saat bos yang lain mereka ogah-ogahan. Memang chemistry bisa dimanipulasi dengan obyek lain tapi yang saya yakini dia lebih kuat ketika muncul dari hati yang tulus dan niat ikhlas.

Sementara sampe di sini dulu ya teori saya tentang chemistry. Bagaimana menurut Anda? Kapan-kapan kita diskusi lagi… terima kasih.  

Tentang Chemistry (Bagian 1)

Baru-baru ini (ternyata sudah setahun) saya dipercaya institusi menduduki suatu jabatan manajerial akademis di kampus. Bukan suatu hal yang saya harapkan sebenarnya tapi apa mo dikata amanah tetaplah amanah. Yang tidak bisa dihindari lagi, bahwa posisi ini mengharuskan saya deal with berbagai situasi kompleks hubungan antarmanusia. Mulai dari menjalankan perintah bos besar dan bos kecil, berkoordinasi dgn sesama middle manager sampai mengatur staf. Belum lagi jika mesti negosiasi dengan bos sebelah atau clients. Dunia yang beda banget dibanding ketika saya bergelut dengan clerical works dulu.

Nah, di sinilah ilmu yang kita pelajari jaman SMA dulu diaplikasikan. Matematika dan bahasa mah wajib itu, tapi ini sesuatu yang menerapkan keduanya bahkan tanpa kita sadari. Kira-kira apakah itu?

KIMIA, inilah yang saya maksud.

Bagaimana bisa Kimia diaplikasikan dalam keseharian saya sebagai middle manager? Berikut ini penjelasannya.

Manusia adalah makhluk yang diciptakan Sangkholik dengan 3 aspek: jasmani (fisik), ruhani (metafisik) dan akal (termasuk di dalamnya perasaan). Nah, aspek terakhir inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain, baik itu hewan dan tumbuhan maupun jin dan malaikat. Sebenarnya kalo ditilik dari ilmu biologi, tempat akal itu bentuknya fisik juga (otak, sedangkan perasaan itu di “hati”). Tetapi yang berperan dalam pembentukan akal dan perasaan ini sesungguhnya reaksi antarzat fisik dalam organ tersebut. Istilah ilmiahnya kimiawi (atau chemistry).

Bersambung demi tautatis…

Barokallohu, Nak…


Kemarin hari lahir Faisal. Sudah 3 tahun usianya sekarang, tapi saya masih ingat saat-saat istri akan melahirkannya dulu. Tahun ini ultahnya disyukuri tanpa umminya, meskipun alhamdulillah ada mamanya. Sedari kemarin lusa Faisal gelisah, tengah malam bangun minta dikelonin mamanya. Kemarin juga seharian minta gendong terus, sepertinya dia ingat pada umminya. Sabar ya, Nak…
Entah sampai kapan Faisal akan mengingat umminya, karena dia tentu belum paham kondisinya. Sesekali dia masih menyebut, “Ummi sudah sehat ya?”. Mungkin dalam pikirannya umminya masih di RS, meskipun sudah sering kami mengajaknya ke makam umminya. Di usia sekecil itu, saya merasakan kondisi yang dia tidak pahami tetapi dia tidak bisa ungkapkan. Saya bahkan sudah tidak pernah menemukan Faisal menangis mencari umminya. Semoga keberadaan mamanya bisa mengisi sesuatu yang hilang itu.

Faisal anak yang cerdas, saya rasa dia secerdas umminya. Cuma dia pemalu, mungkin seperti saya waktu kecil dulu. Dia juga humoris, empatik dan punya kemauan kuat. Semoga dia mau mengikuti jejak mamanya, menjadi penghafal Quran. Teriring do’a abi untukmu anakku:

Ya Allah. Berkahilah dia sepanjang hidupnya. Engkau telah membahagiakan kami dengan kelahirannya di dunia, maka semoga kelak dia membanggakan kami di surga-Mu. Jadikan dia bagian dari hamba-hamba-Mu yang sholih, yang selalu bersyukur, yang berbakti kepada orangtuanya, yang sayang kepada saudaranya dan bermanfaat bagi ummatnya. Aamiin.

Membuat SIM A di Pasar Segar (Percobaan #2)

Ini kali kedua saya datang ke Pasar Segar Depok untuk membuat (mengurus pembuatan -red) SIM A. Kali ini sesuai instruksi, saya langsung menuju ke tempat tes praktik. Petugas penguji praktiknya masih sama, sehingga beliau langsung mengenali saya.

Eng ing eng… saya langsung dag dig dug. Sempat ngobrol sebentar dengan mbak-mbak yang sudah ada di situ setelah mengikuti ujiam praktik dan berhasil. Dia bilang itu kali keduanya, meskipun pengakuannya sudah biasa bawa mobil sendiri. Ya ya ya… saya berharap juga bisa sukses ujian.

Bapak petugas segera menyilakan saya masuk ke dalam mobil. Saya duduk tenang lalu menyalakan mobil brem brem brem… sesuai instruksinya saya maju lalu belok kanan. Berhenti di depan cone, saya lalu mundur masuk ke area parkir seri di kanan. Sukses…!

Selanjutnya saya maju lalu belok kiri, kemudian atret (mundur -red) untuk parkir paralel di kiri. Sekali belum pas, saya disilakan petugas maju lagi untuk mengulang. Dua kali, ternyata malah belakang mobil menyentuh balok kayu. Duh… gagal maning… gagal maning...

Saya kembali mendapatkan slip biru tanda mengulang ujian praktik 2 pekan lagi. Pesan bapak petugas penguji: ” Datangnya lebih pagi besok ya, Pak Guru…”. Apa boleh buat, saya mesti balik lagi ke sini untuk ketiga kali. Uhuk…