Langit tiba-tiba mendung Gerimis tipis turun Mengiringi kepergian sang guru Menghadap Rabb-nya

Selamat jalan Ustadz Hilman Rosyad Syihab 😢

Iklan

Ikutan Full Kumpul FTUI 2018

Berawal dari kiriman email Iluni kemarin lusa, saya memberanikan diri untuk ikut event ini.

Nah, niatnya pingin bisa ketemu temen-temen alumni yang dikenal dulu tapi sepertinya gak pada datang. Jadi saya putuskan ikut yang ini saja.

Sudah lama gak ikutan lari marathon, sambil jajal kebugaran. Saya ajak anak-anak cowok, biar mereka juga mulai mengenal jenis olah raga murmer ini 😊

Berangkat jam 5.30 hanya bersama babang Faqih (sebutan baru mas), karena mas Faisal gak mau dibangunin padahal dia semangat banget pas diajak kemarin, efek begadang semalam kayanya. Sampe kampus pas jam 5.45-an, langsung registrasi. Dapat gelang FTUI runner ini.

Kami mengambil paket 5 km saja sebagai pemula. Meskipun babang semangat banget pingin ikut yang 14 km, saya khawatir nanti dia kecapekan he he he… biasa semangat pemula. Jam 6.30-an Dekan FTUI mengibarkan bendera Start di depan kampus dan kami pun mulai berlari.

Sekilo awal babang masih semangat, sengaja saya tahan supaya tidak terlalu cepat. Biasanya dia sprint kalo lari, tapi saya yakin kalo langsung cepat bakalan gak sampe finish ntar. Dua kilo berlalu, babang mulai kecapekan. Sesekali jalan dan mulai nanya kapan sampenya hi hi hi. Kami mulai melambat, dan tertinggal rombongan.

Sampe di depan tulisan UI ada pembagian air minum, kami berhenti sejenak. Babang mulai keringetan banyak, ngos-ngosan sambil bilang masih jauh ya… dia jalan dari situ. UI mulai rame saat kami melintasi pintu utama, semakin banyak orang-orang yang jogging di jalan utama UI menuju FT. Kami mulai dilewati rombongan bapak-ibu sepuh yang tadi jauh di belakang.

Saya mulai goda babang, mosok kalah sama ibu-ibu. Dia terpancing, kami lari lagi saat melintasi FEUI. Saya mulai sprint menuju garis Finish sementara babang mengejar saya sambil teriak-teriak di belakang. Jam 7.15-an kami sampe FTUI dengan selamat. Stand-stand Iluni sudah siap menyambut kami, mulai dari Kopi pak Dekan sampe Duren Ilusin.

Kami menjajal beberapa butir duren, segelas kopi, dan sebungkus lopis. Kenyang… baru kali ini ikut lari marathon tapi pulang dengan perut penuh. Untung stand Bakso Atom belum dibuka, coba kalo sudah wah bisa-bisa kami pingsan karena perut kekenyangan wkwkwkwk.

Ok deh, memang target untuk membuat jaring saya belum terwujud tapi setidaknya saya sudah berani menghadiri event yang masih asing itu. See you next time, Campus … 😁 Berikut hasil lari pagi ini.

Instruktur Senam adalah Penari

Pagi ini saya mengantar anak buat rujukan di Puskesmas. Eh ketemu ibu-ibu pegawai Puskesmas sedang senam pagi. Jadi inget zaman kids saya dulu, senamnya SKJ ’86 😁

Saya melirik (bukan melotot ya) ke instruktur senamnya. Beliau sudah berumur (paruh baya) tapi masih mau ya membimbing ibu-ibu ini senam. Hapus pikiran Anda tentang instruktur aerobik yang seksi-seksi. Saya pikir memang alasannya secara kultural mengikuti perkembangan zaman.

Dulu ketika orang-orang Nusantara ini masih mengikuti tradisi pada setiap sendi kehidupan maka yang banyak dilakukan orang adalah menari. Saya ingat sekali waktu Om saya menikah, tetamu disuguhi tarian Rama-Shinta. Trus kalo saya liburan dan main ke rumah nenek atau pakdhe di kampung. Kami sering diajak nonton Jatilan, tanpa harus ada festival seni di Alun-alun.

Sekarang orang sudah jarang menggunakan tarian-tarian dalam kehidupan, berganti dengan joget dangdut yang gak jelas atau senam yang menyehatkan. Nah, kalo dulu penari mengambil peran penting dalam pendidikan informal di masyarakat. Mereka melatih anak-anak untuk menari sehingga pada saat ada “gawe”, mereka bisa menampilkan tariannya sebagai hiburan.

Penari profesional sebagian beralih ke instruktur senam. Ya tidak? Asumsi saya sih, tapi mereka berdua mesti memiliki kompetensi yang sama: kelincahan gerak badan. Walaupun ibu-ibu dikenal memiliki sifat lemah gemulai, tidak berarti semua ibu-ibu bisa melakukan gerakan senam dengan baik. Tidak jarang mereka senam dengan gerakan yang kaku bahkan wagu … Wkwkwkwk.

Baiklah, sampe di sini saja opini saya terkait instruktur senam dan penari. Semoga ketika senam kita bisa mengikuti gerakan instruktur senam kita 😊

Hoax Membangun

Disclaimer: ini adalah postingan jenis gimmick. Tujuannya tentu bukan mencari popularitas, lebih pada curcol supaya saya lebih terbuka akan suatu ide yang extraordinary.

Baru kemarin Presiden melantik Kepala BSSN, ungkapan #HoaxMembangun langsung menjadi trending topic setidaknya sampe saya menulis ini.

Dan meskipun kemudian Kepala BSSN mengklarifikasi pernyataannya bahwa itu adalah gimmick sekaligus meminta maaf tapi perbincangan tentang hoax membangun ini masih saja menggelitik.

Mari sholat berjama’ah dulu …

Nah, apa sebenarnya hoax? Apakah hoax di dunia nyata sama dengan hoax di dunia maya? Lalu bagaimana kita menyikapi hoax?

Berikut beberapa artikel yang mungkin mencerahkan kita…

https://www.rappler.com/indonesia/ayo-indonesia/181912-sketsatorial-apa-itu-hoax

https://www.selasar.com/jurnal/4366/Cara-Mendeteksi-Hoaks-di-Dunia-Maya

https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media

Semoga menjadi pencerahan ya. Tapi memangnya tidak ada berita bohong yang positif? Nah, kalo definisi hoax sudah dipahami maka tidak bisa menyamakan hoax dengan berita bohong. Untuk yang terakhir bahkan dalam Islam diatur. Berikut artikelnya.

https://rumaysho.com/8848-bohong-yang-dibolehkan.html

So, saya simpulkan hoax positif/membangun tidak ada tetapi berbohong positif/membangun ada. Marilah kita membangun komunikasi yang jujur dan konstruktif.

Mengapa Tidak Mengucapkan Selamat Tahun Baru?

Tahun baru kali ini memang beda dengan tahun lalu, seperti halnya perayaan tanggal 25 Desember oleh umat Nasrani tahun ini. Yang membedakan lebih pada suasana di media sosial, wabil khusus WAG. Ya… tahun ini sepi ucapan selamat.

Kalo mo dicari sebabnya mesti banyak cari data, dan mesti analisis yang mendalam mengingat kampanye akan 2 event itu khususnya di televisi tidak bisa dibilang menurun. Nah, satu saja event yang mungkin jadi penyebab. Tidak lain dan tidak bukan, aksi 212. Ya… yang kemudian memunculkan berbagai gerakan umat Islam menuju kesatuan umat. Salah satunya tentu, aksi tidak mengucapkan selamat sebagai bagian dari tidak ikut merayakan Natal dan Tahun Baru Masehi.

Di WAG sendiri, terlalu banyak meme yang mengkampanyekan hal tersebut yang kemudian menjadi viral bahkan di grup yang NB tidak semua anggotanya muslim. Tapi apakah ini menjadi efektif. Secara sederhana saya bilang, ya ini efektif. Tahun ini saya bisa bilang hanya 10% anggota WAG yang saya ada di dalamnya mengucapkan selamat atas 2 event tadi. Dan saya termasuk dalam 90% yang lain. Apa alasannya?

Ya, saya sendiri setuju bahwa keyakinan (baca: iman) mesti diwujudkan dalam ucapan dan perbuatan. Artinya, untuk urusan keyakinan agama lain saya berpegang pada QS. Al Kafirun ayat terakhir: Lakum dinukum waliyadin (Bagimu agamamu dan bagiku agamaku). Dan di sinilah arti toleransi yang sesungguhnya, tidak turut campur (baik arti positif ataupun negatif) dalam urusan keyakinan agama.

Secara sederhana khusus untuk tahun baru, saya tidak mengucapkan selamat karena tahun adalah bagian dari waktu yang sama dengan bagian yang lain seperti: detik, menit, jam, hari, pekan, dan bulan. Artinya, tiap saat kita bertemu dengan bagian yang baru dari waktu detik baru, menit baru, jam baru, hari baru, pekan baru, dan bulan baru. Lalu mengapa untuk tahun yang baru kita mesti mengucapkan selamat seolah bagian waktu yang lain tidak terlalu bermakna. Ya, ini sekedar pemikiran saja. Yang paling penting dalam setiap pergantian waktu sesungguhnya adalah kesadaran kita sedang menuju ke arah yang lebih baik atau tidak. Jika ya maka kita beruntung, itu saja.

So, bagaimana menurut Anda?

Lelaki Berkalung Gendongan

Membaca judul di atas mungkin mengingatkan Anda dengan sebuah judul film nasional beberapa tahun lalu, di mana digambarkan seorang wanita di lingkungan pesantren yang mempunyai pandangan berbeda dengan lingkungannya secara umum.

Tapi saya tidak akan membahas itu lho. Sekedar analogi saja. Malah saya punya ilustrasi menarik. Berikut…

Gimana, kira-kira pas gak judul di atas? Wkwkwk. Buat seorang yang bertitel ayah, segagah apapun Anda maka jika memang jantan suatu saat pasti akan mengalaminya. Ya, Anda adalah: Lelaki Berkalung Gendongan.

Kira-kira malu gak jika Anda sesekali mesti menggendong bayi dengan kain gendongan? Buat saya tidak sama sekali, bahkan ini membanggakan. Menjadi ayah adalah kebanggaan buat saya, meskipun saya bukan ayah terbaik. Tapi setidaknya untuk anak-anak saya, yang terbaik yang akan saya usahakan. Bagaimana dengan Anda?

Sasirangan Banjarmasin vs Sasirangan Jogja

Bila Anda perhatikan, foto di atas sang model memakai batik motif warna merah. Jangan lihat posturnya yang kurus, fokus pada motif batiknya. Apakah jenis batik yang ia pakai? Biar lebih jelas saya berikan contoh motifnya sebagai pembanding.

Atau yang ini.

Nah, menurut Anda mirip tidak? Ya kalo gak mirip, dimirip-miripin lah… Trus kenapa saya tuliskan judulnya seperti itu? Ceritanya begini. Suatu saat bos saya dinas ke Kalsel, dan pulangnya kami staf seruangan dibelikanlah kain Sasirangan. Beliau bilang kita buat kain ini seragam panitia Rakor tahun depan. Kami tentu senang, tapi… seorang rekan membisiki saya sesuatu. Ssstt… Sasirangan bukannya berbahan sutera, Mas. Eng ing eng… segera saja saya cek di internet, karena sebagai muslim saya tidak boleh memakai sutera. Dari sini saya dapatkan jawaban dan kemudian saya berpikir tapi belum ada jalan keluar.

Akhir tahun itu saya berkesempatan pulang kampung sekeluarga. Malahan kami mengajak bapak-ibu dan mertua jalan-jalan ke pantai Depok, Jogja. Saat pulang kami sempatkan mampir di Malioboro. Dan tentu ke pasar Beringharjo. Nah, di sanalah ide saya muncul tiba-tiba. Di sinikan pusat batik, pasti ada motif Sasirangan. Tanya satu-dua penjual eh bener… saya mendapatkan satu kain dengan motif mirip dengan yang saya cari. Langsung saja saya kontak teman-teman cowok ruangan tentang ini dan spontan hampir mereka semua titip dibelikan dengan warna yang sesuai. Singkat cerita ketika kami jadi panitia rakor yang kebetulan di Jogja, bos-bos kami pakai Sasirangan Banjarmasin sedangkan staf-staf cowok pakai batik Jogja motif Sasirangan. He he he… what a wonderful life 😁

Musholla Ideal (Bag. 2 – Habis)

Sedih, Ramadhan tinggal sehari atau 2 hari lagi. Ke mana aja saya sebulan ini? Duh… target mana target. Insidently, saya kembali lagi tidak bisa mengejar target yang saya buat sendiri. Sungguh ini awalan yang kurang bagus untuk menulis tema di atas, tapi apa boleh buat the post must go on.

Mengejar Laily. Subtema ini agak nyerempet bahaya, tapi biar saya semangat nulisnya terusin deh. Ingatan saya terbang ke masa-masa SMA, hampir 20 tahun lalu. Waktu itu saya mulai mengenal Islam dengan lebih serius, tapi saat itu juga saya mulai tertarik dengan makhluk yang halus-halus (pastinya bukan hantu).

Tersebutlah sebuah nama di suatu kelas yang jauh dari kelas saya, Laily. Asli … bahkan sampai hari ini saya cuma kenal wajah dan tau alamat rumahnya dulu (selain itu blank). Tapi saat itu, cukup buat saya memimpikan yang indah-indah di sepanjang hari saya hingga saya tersadar. Memang cinta (meski monyet) sanggup menggerakkan seseorang berbuat yang di luar batas kewajaran, termasuk pada saya he he he …

Ya itu cerita lama, sekarang saya mo fokus pada hal yang pertama: Islam. Dengan modal pengetahuan yang minim tapi dengan semangat membara saya terus berusaha menjaga ketertarikan saya pada agama ini sampai saat ini. Sehingga alhamdulillah saya tidak lagi ingin mengejar Laily tapi saya ingin menikmati lail yang lain: Lailatul Qodar. Ya, saat-saat menjelang akhir Ramadhan seperti sekarang ini saya ingin memutar kembali waktu 20 tahun ke belakang agar bisa mengejarnya. Ya Allah …

Kira-kira apa hubungan musholla ideal dengan lailatul qodar? Saya sedang memikirkannya sambil menulis post ini. Beberapa saat sebelum Ramadhan memasuki asyrul awakhir (10 hari terakhir), seseorang mem-BC sebuah tulisan tentang bolehnya melakukan i’tikaf di musholla (bukan masjid jami’) dan di malam 25 saya mendengarnya langsung dari ustadz pengisi ceramah di suatu masjid terkait hal tersebut. Dari situ saya akhirnya memutuskan menghabiskan malam-malam terakhir yang tersisa di musholla dekat rumah karena beberapa alasan.

Nah, musholla yang dikenal di sini karena tidak digunakan untuk sholat Jum’at juga tidak dijadikan sasaran tempat i’tikaf. Mungkin ada yang nekat i’tikaf di musholla meski banyak yang menganggap tidak sah, tapi sudah selayaknya musholla dan masjid melengkapi fasilitasnya untuk jama’ahnya yang ingin mengoptimalkan ibadah di bulan Ramadhan. Fasilitas apa saja yang semestinya ada di bulan Ramadhan?

Fasilitas Musholla Ideal. Musholla sebagai tempat ibadah sekaligus aktifitas lain yang berhubungan dengan bidang pendidikan, sosial dan keagamaan sebaiknya dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Untuk urusan peribadatan misalnya, musholla yang ideal menyediakan ruang sholat yang nyaman baik bagi jama’ah putra maupun putri. Nyaman tidak berarti harus mewah, tetapi setidaknya bersih, rapi dan aman. Karpet sholat, pendingin ruangan (kipas angin atau AC), sound system, dan tempat wudhu. Khusus untuk tempat sholat putri, sebaiknya diberikan pemisah/hijab, perlengkapan sholat/mukena, dan tempat wudhu terpisah.

Untuk aktifitas lain seperti majelis ta’lim atau TPA butuh buku, kitab, dan referensi acuan untuk mendukung pembelajaran. Sebagai fasilitator majelis ta’lim, perlu juga disediakan guru/ustadz/ustadzah yang kompeten dan komit terhadap jama’ah.

To be continued…

Sepiring Bertiga

Saya ingat waktu saya kecil dulu tinggal di asrama TNI, di mana seperti asrama pada umumnya tentu ada warung makan di dekatnya untuk para penghuni asrama membeli makan-minum sehari-hari terutama saat tidak masak sendiri. Ayah saya termasuk penggemar kuliner dan warung makan depan asrama adalah salah satu destinasi favoritnya. Nah, saya satu dari anaknya yang paling sering diajak ngiras (makan di warung makan -red) 😀

Nah, apa yang saya pelajari saat itu? Saya tidak sadar, dan yang paling berkesan tentu menu masakannya. He he he… ada nasi senerek, nasi soto, nasi tongseng, nasi mangut dan lain-lain yang sampe sekarang menjadi menu favorit saya. Warung depan asrama memang bukan satu-satunya lokasi wisata kuliner ayah saya, dan beberapa tempat lainnya saya juga masih ingat lokasinya meski namanya mungkin saya lupa. Tapi bukan itu saja sebenarnya yang saya pelajari…

Sepiring Ber-…

Sewaktu kecil dan belum biasa makan sendiri saya tidak dibelikan seporsi makanan sendiri. Ayah saya biasa memberikan bagian makanan di piringnya untuk saya juga. Bahasa kerennya kembulan (makan bersama dari 1 tempat). Mungkin buat sebagian orang ini terkesan negatif, misal jorok atau manja atau ngirit atau kesan-kesan buruk lainnya tapi tidak buat saya. Sepiring bersama (berdua, bertiga, dst) ternyata banyak manfaat dan hikmahnya.

Berikut manfaat dan hikmah kembulan buat saya:

  • Mempererat ikatan batin
  • Melatih kepekaan hati dan rasa
  • Mengajarkan kesederhanaan
  • Menumbuhkan sikap syukur dan sifat tawadhu’ (cukup)

Mungkin masih banyak lagi pelajaran yang saya dapatkan selain hal-hal di atas. Tapi apapun itu saya sudah dan masih melakukannya juga untuk anak-anak saya sekarang. Seperti hari ini, saya dan anak ketiga kami sarapan di warung makan sepiring bertiga (dengan kucing) 😁