Belajar dari Pengalaman, Tragedi Ini Tidak Boleh Terulang


Kita tentu masih ingat (atau sudah lupa???) tentang tragedi ini: Mahasiswa STSN Tewas, (Kompas.com). Kejadiannya sendiri sudah berlalu 8 bulan yang lalu, namun putusan hukum terhadap terdakwa kasus ini baru diputus beberapa pekan lalu. Wisnu (alm), calon mahasiswa STSN yang sedang menjalani orientasi (PPMB) meninggal dunia sebelum dilantik menjadi mahasiswa. Kasus ini tentu saja tidak bisa disembunyikan dan akhirnya menjadi headline di berbagai media informasi. Kasus ini sebenarnya baru pertama kali dialami oleh STSN namun menjadi penting karena kasus-kasus serupa juga terjadi di berbagai sekolah kedinasan lain seperti STPDN dll.

Pada sidang putusan sebelum jatuhnya vonis, Hakim menyebutkan bahwa tidak cukup bukti tersangka menyebabkan kematian korban walaupun hal itu mengarahkannya pada tindakan penganiayaan yang menyebabkan tersangka divonis 5 bulan penjara dan denda Rp 2 juta (Solopos.com). Di sidang itu saksi ahli menyebutkan bahwa korban mengalami memar dan lecet pada punggung serta tangan selain ditemukan darah pada paru-paru yang disebabkan benturan benda tumpul. Namun hal ini dipatahkan oleh kesaksian pembanding dari FKUI bahwa kematian korban disebabkan karena dehidrasi.

Kita menghormati proses hukum yang sedang berlangsung, semoga keadilan dari Allah bagi semua pihak baik keluarga korban maupun keluarga terdakwa. Keduanya adalah bagian dari institusi ini, STSN khususnya dan Lemsaneg sudah selayaknya memberikan dukungan yang sebaik-baiknya sehingga tidak terkesan lepas tangan dari tanggung-jawab yang sudah semestinya dipikul. Satu hal yang lebih utama lagi adalah belajar dari pengalaman, agar tragedi ini tidak terulang lagi.

Bila kita mencermati yang menjadi penyebab kematian baik dari fakta-fakta di pengadilan maupun fakta yang kita temui di lapangan dari pengalaman pelaksanaan PPMB maka dehidrasi adalah faktor yang sangat krusial. Bagaimana tidak? Dalam pelaksanaan PPMB, calon mahasiswa diberikan tempaan fisik berupa kegiatan-kegiatan yang hampir tidak terputus mulai Subuh hingga Maghrib (bukan puasa tentunya). Sementara itu, di bawah tekanan fisik yang memang ditujukan untuk penguatan mental itu, mereka tidak diperkenankan beristirahat kecuali dengan instruksi atau ijin dari panitia. Berdasarkan pengalaman, waktu kegiatan meliputi waktu-waktu di antara jam 5 pagi sampai dengan jam 12 dan di antara jam 13 sampai dengan jam 6 sore di mana peserta PPMB berada di lapangan (untuk samapta dll) atau di kelas (untuk pengarahan dll). Sedangkan waktu istirahat adalah di sela-sela kegiatan, sekedar tiarap, duduk, jongkok atau berdiri dengan minum diberikan oleh panitia dalam jumlah terbatas (misal satu botol air mineral 1 liter untuk 40 orang). Istirahat cukup panjang ada di jam 12 sampai jam 13 di mana mereka sholat dan makan siang. Aktifitas fisik dan mental ini betul-betul menguras tenaga, keringat mulai pagi sampai sore bisa tidak berhenti menetes bahkan membasahi pakaian mereka.

Kegiatan ini sebenarnya tidak menjadi masalah untuk peserta yang sehat dan bugar tetapi akan menjadi fatal untuk mereka yang mempunyai penyakit seperti gejala tifus, maag akut atau penyakit lain yang sangat membutuhkan istirahat serta air minum yang cukup. Walaupun hal ini sudah diantisipasi oleh panitia, misal dengan mendata calon mahasiswa yang mempunyai penyakit-penyakit berat dan memberikan tanda khusus sebelumnya, namun tidak jarang kondisi peserta yang semakin lemah karena tempaan fisik kurang diperhatikan oleh panitia. Kejadian seperti muntah hingga pingsan sebenarnya merupakan indikasi kuat seseorang mengalami dehidrasi. Pengetahuan ini seharusnya dimiliki oleh setiap panitia khususnya penanggung jawab medis. Dehidrasi yang disebabkan oleh aktifitas fisik berat dan kurangnya asupan cairan dalam tubuh bukan hal yang ringan. Selain menyebabkan menurunnya fungsi organ, dehidrasi bisa berujung pada kematian (Gresnews.com). So, ini bukan main-main. Siapapun panitia kegiatan PPMB ke depan mesti memerhatikan kebutuhan minum dan istirahat para peserta PPMB, calon mahasiswa STSN.

Sesuai hasil visum dan pengakuan saksi memang Neo tidak terkait langsung dengan kematian Wisnu. Kalaupun Neo terbukti menyebabkan memar sesungguhnya seluruh panitia (termasuk Neo) bertanggung jawab tidak hanya kepada Wisnu melainkan juga kepada seluruh peserta PPMB yang lain karena mereka mengalami hal yang sama (memar di sekujur tubuh, bukan begitu?). Atau yang berarti tanggung jawab atas kejadian ini dikembalikan kepada panitia PPMB. Sudah sepantasnya panitia mulai dari Penanggung Jawab hingga Anggota Seksi melakukan evaluasi, tragedi semacam ini tidak boleh dan tidak perlu terjadi lagi di masa datang.

Akhir kata, Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fuanhu, selamat jalan Wisnu insya’Allah engkau Syahid dalam perjalananmu menuntut ilmu. Astaghfirullahal ‘adhzim, mohon maaf kami para seniormu tidak mampu berlaku amanah, semoga Allah SWT. mengampuni kami semua.

Referensi :

1. Pengalaman pribadi

2. Kompas.com

3. Solopos.com

4. Gresnews.com

Sumber foto :

1. http://www.jak-tv.com/index.php?modul=detail&catID=25&key=1392

2. http://sonasnews.wordpress.com/2009/12/21/penganiyaan-yang-dialami-wisnu-anjar-kusumo-siswa-sekolah-tinggi-sandi-negara-%E2%80%93-stsn-dinilai-tim-pengacara-terdakwa-sebagai-bagian-pembinaan-mahasiswa-baru/

3. http://diajar.hostoi.com/berita-terbaru-hari-ini/wisnu-korban-ospek-di-bogor.html

Iklan

3 thoughts on “Belajar dari Pengalaman, Tragedi Ini Tidak Boleh Terulang

  1. “Akhir kata, Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fuanhu, selamat jalan Wisnu insya’Allah engkau Syahid dalam perjalananmu menuntut ilmu. Astaghfirullahal ‘adhzim, mohon maaf kami para seniormu tidak mampu berlaku amanah, semoga Allah SWT. mengampuni kami semua.”

    Amiiin yaa rabbal ‘alamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s