Hari pertama Ramadhan 1431H


Hari pertama Ramadhan … subhanallah.

Sholat maghrib di musholla Nurul Iman masih seperti biasa, agak ramai dikit. Giliran sholat Isya’, nah lho … saya yang tinggal di sebelah musholla aja gak kebagian tempat di dalam musholla, gimana yang rumahnya agak jauh? Beranda musholla tidak terlalu layak untuk jadi shaf tambahan tapi apa boleh buat, he he he. Benar-benar di luar rencana tapi so far so good lah.

Hari pertama memang extraordinary. Sholat tarawih 23 rokaat (biasanya 11 aja-red), tadarus bareng di musholla (biasanya di rumah-red), sahur bareng Fida (tahun kemarin dia belum belajar puasa-red), antar-jemput ustadz penceramah di masjid kantor (biasanya tinggal duduk manis-red), juga mimpin rapat formatur sampai lewat waktu kerja (selama Ramadhan pulang jam 15-red). Benar-benar hari yang melelahkan (tapi mengasyikkan lho-red).

Memaknai perbedaan

Sholat tarawih, ada yang 11 rokaat, ada yang 23 rokaat. Ketika sebagian menunjukkan kekurangan dari yang lain, saya coba melihat kelebihannya. Sholat tarawih 23 rokaat membutuhkan kebugaran tubuh, karena jumlah rokaat yang banyak maka gerakan sholatnya pun diulang lebih banyak. Seperti senam kebugaran, gerakan yang diulang-ulang tentunya membutuhkan energi lebih dan tentu nafas yang kuat (jantung dan paru-paru-red). Mungkin karena saya tidak terbiasa berolahraga, setelah melakukan sholat tarawih 23 rokaat, kaos dalam saya basah juga dengan keringat. Alhamdulillah, semoga bertambah bugar saya dengan amalan ini.

Waktu tadarus bareng di musholla, saya jadi lebih mengenal bagaimana saudara-saudara (tetangga-red) saya membaca Al Qur-an. Kami berlima, bergantian membaca satu ‘ain-satu ‘ain. Awalnya saya membaca dengan agak cepat, tetapi giliran selanjutnya sengaja saya perlambat karena di antara kami ada yang masih terbata-bata. Satu hikmah yang saya dapat dari tadarus bareng: memahami kemampuan saudara muslim kita dalam membaca Al Qur-an. Hal ini penting untuk menentukan porsi tugas dalam berjama’ah, misal ketika jama’ah memilih siapa yang akan menjadi imam sholat, tentunya pilihan pertama semestinya ditujukan pada siapa yang mampu membaca Al Qur-an dengan fasih (benar sesuai hukum tajwid-red).

Dalam perjalanan antar-jemput ustadz, kami terlibat perbincangan yang umum tentang awal Ramadhan, biasa tentang NU, Muhammadiyah dan MUI: siapa yang menentukan apa? Alhamdulillah, tahun ini (1431H-red) ketiganya mempunyai kesimpulan yang sama tentang awal Ramadhan, 11 Agustus 2010. Info dari ustadz yang saya antar-jemput, bahkan Muhammadiyah telah menentukan kalender hijriyah untuk 10 tahun ke depan, walaupun menurut beliau khusus untuk Ramadhan lebih afdhol juga melihat bulan (ru’yatul hilal) seperti yang diterapkan oleh MUI.

Ba’da sholat Dzuhur, saya tidak mengantar ustadz pulang tetapi memimpin rapat Tim Formatur Pemilihan Ketua DKM Al Hidayah. Di rapat kedua ini ada dinamika yang signifikan dibanding rapat sebelumnya. Persepsi tentang posisi dan tanggung jawab tim ini dipertanyakan, sebagai syura atau sekedar panitia? Memang kedua posisi tersebut berimbas besar pada tanggung jawab dan kewenangan tim ini, karena dalam pemahaman Islam syura memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan (bahkan tanpa melibatkan jamaah-red) sedangkan panitia memiliki tanggung jawab yang besar untuk memfasilitasi dan melibatkan jamaah dalam prosesnya. Nah, dead-lock jadinya. Akhirnya diputuskan, untuk kemaslahatan jamaah, tim formatur memposisikan diri sebagai syura terbatas (sampai menentukan kriteria dan calon yang direkomendasikan-red) dan panitia pemilihan (sampai memfasilitas pelaksanaan pemilihan ketua DKM yang baru). Semoga ini tidak menyalahi hak dan kewajiban kami, ya Allah mudahkan urusan kami dan ampunilah dosa khilaf kami.

Menentukan target dan berusaha mencapainya

Saya sudah mempunyai target ibadah selama bulan Ramadhan tahun ini (sesuai kesepakatan grup-red). Sekarang tinggal bagaimana usaha saya untuk mencapainya. Hari pertama, ada yang sesuai target tetapi ada juga yang masih di bawah target misal tilawah, saya baru mendapat 1/2 juz lebih sampai Maghrib sedangkan targetnya 1 juz/hari. Artinya, saya punya target tidak tercapai yang harus saya bayar di hari berikutnya. Semoga hari-hari padat seperti ini tidak banyak ya, sehingga saya benar-benar bisa menikmati untuk meluangkan lebih banyak waktu berinteraksi dengan Al Qur-an.

Btw, dari 3 langkah yang saya rencanakan untuk memaksimalkan ibadah Ramadhan, ternyata baru satu yang saya kerjakan: membuat daftar evaluasi ibadah harian (dalam bentuk buku saku-red), itupun belum sempat saya perbanyak. He he he, semoga hari kedua bisa saya kejar ketiganya, aamiin.

Ayo Raih Ramadhan Terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s