Hari ke-3, 4, dan 5 Ramadhan 1431H


Hari ini Senin, 6 Ramadhan 1431H sehari menjelang peringatan Kemerdekaan RI yang ke-65. Cuaca cerah … alhamdulillah.

Jum’at 3 Ramadhan pagi, saya tidak ke mana-mana hanya mengerjakan tugas yang diberikan Bos untuk mencermati tujuan perjalanan dinas dari semua unit kerja. Sembari itu saya memantau perkembangan kesediaan calon ketua DKM Al Hidayah. Hasil terakhir menjelang sholat Jum’at semua calon kecuali 2 orang menyatakan ketidaksediaannya untuk dicalonkan menjadi Ketua DKM Al Hidayah. Ba’da sholat Jum’at secara ringkas saya bicarakan tentang perkembangan hal itu dengan beberapa anggota tim formatur dan memutuskan untuk tetap melanjutkan proses sesuai kesepakatan. Siang jam 14, saya berencana ke kampus untuk mengambil transkrip sementara dan mencari informasi lain sehingga sebelumnya saya harus bersegera berkoordinasi dengan sekretaris DKM untuk membuat pengumuman dan surat undangan untuk kepentingan pemilihan ketua DKM tersebut.

Setelah selesai dengan urusan di kampus saya bergegas menuju ke RM Pondok Laras, di bilangan Kelapa Dua Depok untuk mem-booking tempat yang akan digunakan buka puasa bersama Ahad. Ada kekecewaan karena tidak mendapatkan tempat yang diharapkan tetapi tidak mengapa, semua pasti ada hikmahnya. Alhamdulillah, semua urusan terselesaikan dan saya pulang ke rumah untuk mengejar target tilawah saya yang masih tertinggal.

Kesibukan dunia melupakan kita dari akhirat

6 hari terakhir saya menyadari bahwa target tilawah saya agak terhambat kegiatan rutin saya, terbukti bahwa mulai hari ke-2 saya harus melunasi kekurangan target tilawah hari-hari sebelumnya. Subhanallah, betapa sulitnya membuat saya disiplin dengan target ketika saya belum membuat target waktu untuk melakukan aktifitasnya. Sulit memang memanfaatkan waktu luang untuk tilawah ketika di kantor, sisa waktu istirahat di masjid sering lebih dominan untuk merebahkan badan atau mengobrol dengan teman. Namun demikian tilawah di rumah juga tidak sesederhana itu, baru dapat satu halaman bocah-bocah sudah berebut meminta perhatian dan lain sebagainya gangguan datang silih berganti.

Itulah godaan dunia, ketika kita disibukkan dengan pekerjaan dan keluarga, begitu banyak waktu terkuras hingga kesempatan untuk ibadah pun terkadang terpotong. Sebagian orang mampu mengatur hingga seimbang namun lebih banyak orang yang gagal dan mungkin ada pula yang akhirnya tidak memedulikannya. Ya kalo ada waktu baru ibadah lah, kalo tidak ya yang wajib-wajib aja. Jadi, sebagian dari kita memasukkan ibadah dalam daftar tunggu waktu luang bersama dengan hobi-hobi kita. Na’udzubillahi min dzalik …

Ya muqollibal qulub … tsabbit qulubana ‘ala dinika wa tsabbit qulubana ‘ala tha’atika

Hari Sabtu dan Ahad, untuk saya yang PNS berarti hari keluarga. Sabtu pagi, setelah berlatih fisik sedikit dengan membersihkan gundukan tanah di depan rumah karena menggangu orang yang lalu lalang terutama ketika hujan turun, saya mengajak Fida berjalan-jalan naik motor, membayar cicilan pertama motor baru istri dan sekaligus servis pertama. He he he, setelah bersabar lebih dari satu jam sambil bermain HP akhirnya dia mulai gelisah dan rewel minta pulang. Jadilah saya kerepotan untuk menenangkan dia, syukurlah istri saya mau menjemput Fida pulang. Hampir Dzuhur, motor selesai diservis, saya langsung meluncur pulang tapi mampir sholat di salah satu masjid di bilangan PLN Beji. Ada yang mesti saya kerjakan tapi harus bersabar karena anak-anak belum mau tidur siang sehingga saya harus menidurkan mereka, membuat buku saku evaluasi harian untuk saya bagikan kepada adik-adik Lembayung. Sungguh di luar rencana, anak-anak tidak mau tidur dan malah bermain di luar rumah bersama teman-teman mereka. Ya sudah, saya bisa mengerjakan buku saku tetapi ternyata ada yang kurang. Saya keliru menghitung jumlah lembar yang difotokopi sehingga hanya terbikin 5 buku dari target 10 buku. OK, berarti saya harus memfotokopi kekurangannya sekaligus membeli paku beton untuk membuat jemuran baju permanen, sesuatu yang sudah lama diminta istri tetapi saya belum sempat memenuhinya. Sore itu sesuai rencana saya buka puasa bersama adik-adik Lembayung, makan malam dengan sate padang Kampung Kandang dan sholat tarawih di Masjid Jannatin. Hari Sabtu, target tilawah saya lagi-lagi tidak tercapai, astaghfirullah

Ahad pagi, pekerjaan selanjutnya: memasang tali jemuran permanen. He he he, secara saya bukan tukang membuat dudukan tali dengan balok saja membuat kaos saya basah kuyup, memang segala sesuatu itu perlu dilatih sehingga tidak canggung dan kaku. Setelah berjuang hampir 2 jam, akhirnya tali jemuran itu pun terpasang. Ya Allah, semoga tali jemuran ini awet dan bermanfaat sepanjang umurnya. Jam 9 rencananya kami hendak menghadiri sebuah seminar tentang parenting di salah satu masjid di bilangan Tanah Baru, tetapi karena anak-anak tidur kami membatalkan dan mengambil plan B: survei dan menyicil belanja paket THR untuk guru-guru bimbel dan orang-orang terdekat. Jam 11-an berangkat, putar-putar di ITC karena istri ada beberapa keperluan lain, mampir sholat Dzuhur baru akhirnya belanja sesuai rencana. Jam 14.30 kami baru sampai rumah kembali. Maunya, biar anak-anak bisa tidur siang sebelum acara buka puasa bersama di Pondok Laras, ternyata anak-anak tidak mau tidur sedangkan saya tertidur kecapekan.

Bergabung dengan jama’ah adalah suatu kebutuhan

Jam 16.30 saya, istri dan anak-anak meluncur ke rumah makan itu, cuaca agak mendung. Dapat kabar dari teman-teman di bilangan Pamulang dan Sawangan bahwa di sana sedang hujan, harapannya teman-teman tetap bisa hadir karena makanan yang dipesan tentu tidak bisa dibatalkan. Alhamdulillah, dari 7 keluarga yang menyatakan bisa hadir 6 keluarga hadir, satu sisanya berhalangan. Ini buka puasa bersama ke-2 untuk kami setelah tahun kemarin kami adakan di tempat yang berbeda. Tahun ini lebih ramai karena anak-anak bertambah, walaupun tidak semua bisa diajak mengingat kondisi.

Grup kami, sebut aja F4, sudah berjalan lebih dari 10 tahun. Mulai saat kami masih culun dulu sampai saat kami punya anak-anak yang lucu, bukan waktu yang sebentar untuk suatu pertemanan namun belum cukup lama untuk menjadikan kami saudara seiman yang saling takafful. Saya sendiri, selalu berusaha untuk menjadi bagian dari grup ini walau bagaimana pun kondisi saya dan keluarga. Tidak mudah memang tetapi karena menurut saya berjama’ah adalah suatu kebutuhan, kesulitan yang saya hadapi bersama teman-teman, saudara-saudara saya ini, adalah tantangan dalam perjuangan kami. Suatu saat nanti, kami pasti akan merasakan nikmatnya persaudaraan ini, mungkin ketika itu kami tidak selengkap sekarang (seperti halnya teman-teman lain yang sudah lama terlepas-red) walaupun saya sendiri punya harapan kuat (husnudzon-red) bahwa grup ini akan bertahan dan bahkan nantinya dengan formasi yang semakin kuat. Saya terpikir bahwa yang terjadi pada Rasulullah dan para sahabat juga akan kami alami, misal memperjodohkan anak-anak kami atau bahkan menikahi janda saudara-saudara kita itu. Wallahu a’lam bishowab.

Hari ini, siang saya akan memimpin pemilihan ketua DKM Al Hidayah. Semoga semua berjalan menurut kehendak Allah, dan kami mendapatkan pemimpin jama’ah yang adil. Aamiin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s