Hari ke-20 sampai ke-22 Ramadhan 1431H


Bismillaahir rahmaanir rahiim

Beberapa hari terakhir, saya berjuang untuk satu keyakinan :

Allah Mahaluas dan Mahamengetahui

Kenapa?

Karena Allah sedang menguji kami yang sedang berpuasa ini tidak hanya dengan rasa lapar dan dahaga, tetapi juga dengan melimpahnya harta dan makanan.

Nah lho, bukannya itu rezeki yang tidak boleh kita tolak?

Memang sih, dalam kondisi normal di mana tidak ada sisi-sisi kemanusiaan yang terusik dan tidak terkesan berlebih-lebihan, hal itu menjadi karunia Allah yang semestinya kita syukuri. Tapi, ternyata kondisinya tidak se-normal itu. Kalaupun banyak orang yang menganggap itu biasa-biasa saja, tetap saja hati saya tidak bisa berbohong dan berkata :

Ini tidak normal, kenapa mesti begini?

Aneh memang, ketika sebagian besar orang merasa mendapat durian runtuh karena pemberian itu (walaupun sebagian mungkin merasa memang sudah sepantasnya diberikan-red), saya seperti mendapat bola panas yang tidak perlu lama-lama saya mainkan. Saya yakin tidak sendirian, ada sebagian di antara kami yang juga merasakan hal serupa.

Lantas apa masalahnya? Bukankah tinggal ditendang saja maka urusan itu menjadi beres?

Memang sih, ketika tidak ada tarikan dan dorongan maka hal itu mudah untuk dilakukan tetapi menjadi sulit ketika tarikan dan dorongan itu sangat kuat terutama dari orang-orang tercinta kita. Seperti halnya kisah orang-orang terdahulu yang penuh hikmah, saya mencoba untuk benar-benar menyadari bahwa hidayah (petunjuk-red) adalah milik Allah sepenuhnya. Tidak akan mendapatkan petunjuk kecuali yang Allah kehendaki, bahkan orang-orang terdekat dari orang-orang paling beriman sekalipun. Buat saya, ini adalah proses panjang yang kita tidak boleh berhenti atau malah menyerah – pasrah. Allah Mahaluas, hidayah-Nya cukup untuk seluruh manusia, tidak terkecuali untuk orang-orang yang saya cintai.

Kami adalah PNS, dan masyarakat umum sudah paham bagaimana taraf hidup kami, pas-pasan (cukup tapi belum bisa dibilang makmur-red). Apa yang kami terima dari kantor pastilah sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk yang kemarin diberikan. Masalahnya, apakah yang diberikan kantor selalu memang hak kita? Itu selalu menjadi perhatian saya, bukan sok suci tapi lebih pada berhati-hati. Saya sadar tidak lepas dari pengaruh sistem birokrasi di negeri kita yang belum terpuji, sehingga bila diaudit pasti di sana-sini masih ditemukan adanya penyimpangan. Saya juga sadar belum bisa membuat perubahan terhadap kondisi ini secara signifikan, sehingga tidak akan memaksakan diri untuk melakukannya secara frontal. Tetapi saya sadar, perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Adalah narsis (naif-red) bila saya berusaha mengubah orang lain bahkan sistem sementara saya sendiri tidak berubah bukan? Dan Allah Mahamengetahui bagaimana memunculkan hidayah pada diri setiap hamba-Nya, bukankah Dia Yang menciptakan kita.

Saya punya cerita sendiri tentang hidayah itu, bukan cerita yang menyenangkan tetapi akan selalu saya ingat seumur hidup saya. Mungkin kapan-kapan akan saya tuliskan, sebagai wasiat untuk istri dan anak-anak saya kelak.

Tiga hari ini saya punya hutang target tilawah yang tidak main-main 5 juz, kenapa bisa begitu? Ya, saya tahu jawabannya, karena saya tidak konsisten terhadap komitmen yang sudah saya buat. Ada banyak kegiatan tambahan yang tidak terjadwalkan tetapi cukup memakan waktu sehingga jadwal tilawah saya tidak berjalan sesuai rencana. Walaupun demikian, saya masih punya harapan koq. Masih ada 7-8 hari ke depan, untuk menuntaskan target tilawah saya yang tidak muluk-muluk, cuma : 1 juz / hari atau yang berarti satu kali khatam Al Qur-an di bulan Ramadhan ini. Saya niat untuk memaksimalkan malam-malam terakhir terutama ganjil untuk mengejar target itu, semoga Allah memudahkan usaha saya ini. Ada satu target lagi yang saya agak pesimis: menghafal 8 surat awal Juz ‘Amma. He he he, bisa gak ya dapat setengahnya aja? Insya’Allah …

Mudik

Jum’at, saya dan keluarga mudik ke kampung kami di Magelang, Jawa Tengah. Rencana yang sudah lama kami buat, diskusikan, perdebatkan dan insya’Allah wujudkan. Bukan hal yang mudah, bahkan ketika kami sudah memikirkannya jauh-jauh hari sebelumnya. Biasa, urusannya selalu saja terkait dengan dana. Yang terakhir ditambah lagi dengan masalah cuti yang tidak bisa saya dapatkan, jadi agak rumit dan terkesan memaksakan diri memang. Saya sadari itu, tapi buat saya itu adalah pengorbanan yang pantas karena memang :

Saya ingin pulang

Seperti judul lagu atau sinetron ya. Saya jadi teringat waktu awal-awal saya bisa membaca dulu (SD kelas 1 mungkin-red) pernah membaca buku di perpustakaan tentang perjuangan seorang anak kecil untuk bisa pulang ke kampung halamannya. Sayang saya lupa apa judul buku itu, yang masih bisa saya ingat adalah anak itu harus numpang mobil tanki BBM sampai harus naik di atas tanki-nya hingga kehujanan dan akhirnya bisa sampai di rumah. Luar biasa, tak pernah terpikirkan oleh saya ternyata hal itu memang benar-benar dialami oleh para pemudik, dengan sikon yang berbeda tentu.

Saya berharap mudik kali ini membawa arti terbaik dalam sejarah per-mudik-an dalam hidup saya. Semoga Allah memudahkan saya untuk urusan ini sehingga tidak terlalu menyita waktu dan perhatian saya yang bisa mengalihkan konsentrasi saya dari memaksimalkan ibadah di sisa Ramadhan ini.

Ayo Raih Ramadhan Terbaik !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s