3 bulan bersama Honda Revo


Setelah kami memilih-milih motor untuk keperluan istri (lihat tulisan saya sebelumnya di sini) , akhirnya kami memutuskan untuk membeli Honda Revo 110 tipe-R. Pertimbangannya, selain lebih mantap tampilannya, penunjuk gigi persnelingnya juga lebih lengkap N-1-2-3-4 dibanding tipe-Standar yang hanya N-Top Gear.

Semua berbasis pada kebutuhan, kesenangan, dan kondisi keuangan istri karena memang motor ini akan dipakai istri untuk aktifitasnya sehari-hari terutama bekerja. Saya sendiri hanya membantu mengurus administrasi dan memberikan sedikit sekali masukan. Semoga istri puas dengan motor barunya dan semoga juga motor Honda Revo ini cocok dengan pemilik barunya.

Walaupun istri termasuk lihai membawa motor sendiri karena sudah bisa mengendarai motor sejak masih kuliah dulu, tapi ternyata membawa motor baru adalah hal yang dikhawatirinya. Sempat beberapa kali mencoba, tapi istri akhirnya meminta saya untuk membawa dulu motor baru itu untuk saya bekerja sedangkan ia membawa motor lama kami, Honda Supra X. Beberapa hal yang dikhawatirkan istri adalah :

  1. Motor tergores karena jatuh atau terserempet, mengingat istri merasa motor baru lebih berat dari motor lama dan lalu lintas rumah ke kantornya atau sebaliknya lumayan ramai. Padahal saya tentu saja tidak bisa menghindari kedua hal di tersebut, bila memang sudah nasib.
  2. Motor baru menimbulkan keseganan menghadapi tetangga dan teman di tempat kerjanya, karena sebagian orang masih menganggap membeli motor berarti punya uang banyak alias kaya. Padahal setiap orang yang berpenghasilan tetap bisa saja mengambil kredit motor, bahkan dengan uang muka yang sangat murah. Jadi motor baru tidak selalu bisa diidentikkan dengan banyak duit atau kaya.
  3. Motor baru menjadi incaran pencuri kendaraan bermotor, apalagi di daerah tempat kerjanya sangat rawan curanmor. Padahal bahkan di kantor saya yang dijaga satpam 24 jam, komputer dan laptop bisa juga hilang. Tinggal bagaimana kita ikhtiar mengamankan motor misal dengan memberi kunci pengaman ganda dan bagaimana nasib kita apakah motor itu rejeki kita atau bukan.

Namun demikian, saya berterimakasih karena masih mendapat kepercayaan dari istri karena diijinkan membawa motor baru itu untuk sementara waktu sampai ia siap mengendarai sendiri. Se-cemas-cemas-nya istri saya ketika berboncengan dengan saya dan menghadapi situasi rawan, ia masih lebih percaya pada saya untuk urusan bermotor dibanding dirinya sendiri. Semoga saya dapat bersikap amanah, dan Allah melindungi saya dan motor ini.

Btw, bagaimana nasib motor lama saya? Saya terlanjur punya banyak kenangan bersamanya, karena sudah lebih dari 4 tahun saya membeli motor itu, second dari atasan saya. Walaupun kondisinya sudah tidak 100% karena mengalami modifikasi ketika dipakai anak atasan saya yang masih ABG, saya tetap menganggap motor itu motor yang paling keren (bukan memuji lho). Tidak jarang ketika saya membawanya di jalan yang lengang, saya memacunya untuk bersaing dengan motor-motor baru atau motor racing dan saya percaya motor itu masih bisa mengimbangi performa motor-motor itu. Mungkin motor itu juga percaya sama saya, he he he …

Tiga bulan berlalu bersama motor baru, saya mulai merasakan kenyamanan mengendarai motor ini. Memang beda motor baru dengan motor lama, kalo dibandingkan seperti remaja dan orang tua. Kebiasaan buruk yang muncul ketika mengendarai motor yang mudah dikebut adalah ngebut ketika ada biker yang sok ngebut seperti sedang berada di track balap MotoGP. Bukan untuk menjadi juara tapi untuk menyadarkan mereka bahwa mereka tidak bisa menjadi juara di jalan umum dan tidak semestinya atau sepantasnya yang bukan juara ngebut sembarangan di jalan bahkan bila ia seorang juara di track balap sekalipun. Cuma gawatnya, seringnya sih malah terjadi kebut-kebutan yang tidak terkontrol. Capek dech … ingat istilah Jawa aja kalo gitu.

Sing waras, ngalah.

2 thoughts on “3 bulan bersama Honda Revo

    1. Bukan dahsyat, cuma masih banyak waktu luang. Artinya koq malah jadi tidak produktif ya :D. Belajar dari blogger lain, tidak mesti sesuatu yang berat dan padat kan karena blog pribadi memang pengganti diary … Trims kembali berkunjung, jangan bosan-bosan ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s