Mohon maaf bila tidak berkenan …


Pagi ini saya tidak langsung online, karena ada pemeriksaan kesehatan untuk pegawai di kantor saya. Lumayan, general check-up kan mahal, jadi fasilitasi seperti ini perlu disukseskan lah. Mulai jam 8 selesai jam 9.30, cukup lama juga tapi alhamdulillah lancar. Karena hampir lebih dari 1o jam puasa, panitia menyediakan makan sarapan. Nah, sambil sarapan itu saya mulai membuka email dan blog.

Eng ing eng, ternyata ada pengunjung yang memberi komentar miring. Saya sebut miring bukan berarti jelek atau salah, cuma mengesankan spam. Bukan isinya, tapi karena yang bersangkutan tidak mencantumkan alamat email dan website yang valid. Anonymous memang tidak keliru di dunia maya, tetapi etika blogging mungkin bisa lebih dipahami untuk menambah kenyamanan dan keindahan berbagi lewat tulisan. Berikut saya copas screenshot-nya :

Terpaksa saya masukkan sebagai spam, walaupun saya yakin sekali yang bersangkutan adalah pemilik blog yang saya kunjungi atau minimal pembaca komentar saya di suatu blog. Secara komentarnya copas dengan komentar saya atas keberhasilan sobat-sobat blogger Depok memenangi perlombaan blog. Untuknya saya hanya bisa mengucapkan :

Mohon maaf bila tidak berkenan …

Memang terkadang saya gajebo, atau terlalu normatif dalam banyak hal tapi begitulah adanya saya. He he he … jadi serius gini. Sebenarnya pagi ini ada beberapa ide yang ingin saya tuliskan di blog ini. So, saya teruskan saja rencana itu supaya pembaca tidak merasa bosan san san lagi.

14 Tahun Makan dengan Tiga Jari

Kira-kira apa ya, isinya?

Mungkin Anda akan mengira bahwa seseorang cacat yang karena suatu sebab, jari tangannya terpotong sehingga harus makan dengan tiga jari yang tersisa. Kalau Anda berpikir begitu maka Anda keliru …. Inilah foto ilustrasinya :

Makan dengan tangan, menggunakan tiga jari sudah menjadi kebiasaan saya sejak kelas 2 SMA (kira-kira tahun ’96). Awalnya saya seperti orang kebanyakan bila makan dengan tangan menggunakan lima jari, tetapi suatu peristiwa menyebabkan kebiasaan saya berubah. Begini ceritanya : Saat liburan kenaikan kelas, sekolah kami mengadakan pesantren kilat untuk kali pertama (pesat paling bersejarah di sekolah kami). Nah, sebagai peserta perdana kami menjadi pionir untuk melakukan aktifitas keseharian dan ibadah secara berjama’ah. Salah satunya adalah kegiatan makan. Sebenarnya kami disuruh membawa alat makan sewajarnya (piring, sendok, gelas masing-masing), tapi karena ada sebagian di antara kami (peserta pesat – red) tidak membawa peralatan makan maka sebagian mengusulkan untuk makan dengan nampan bukan piring, dan menggunakan tangan bukan sendok. Jadilah kami berenam (kira-kira karena saya lupa persisnya – red) makan bersama-sama satu nampan (ngariung – red).

Ada yang menarik dalam aktifitas makan bersama ini. Kami melihat sesuatu yang tidak biasa pada salah satu peserta, M. Sigit A.R. (I missed you so, Bro …). Beliau makan dengan tiga jari tangannya bukan lima jari, luar biasa. Ketika kami menanyakan tentang hal itu, beliau menjelaskan tentang sunnah Rasulullah SAW saat makan seperti saya kutip berikut :

Dan dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari. Dan setelah selesai, beliau menjilat jari – jarinya’. (Hr. Muslim)

Adapun keutamaan dari praktik makan ini diuraikan sebagai berikut :

  1. Makan dengan tiga jari berarti memperkecil jumlah makanan yang masuk ke dalam mulut setiap suapannya, jumlah makanan dalam mulut yang tidak terlalu banyak memudahkan yang bersangkutan mengunyah makanan dengan lebih sempurna. Hal ini tentu sangat masuk akal, karena volume mulut berbeda masing-masing dan ukuran suapan tangan masing-masing juga berbeda.
  2. Makan dengan tiga jari memungkinkan jari-jari tangan masuk ke mulut beserta dengan makanannya, sehingga tidak ada makanan yang tercecer keluar tanpa harus bersusah payah membuka mulut. Ini tentu agak berbeda dengan metode makan dengan lima jari. Dengan tiga jari, lebih menyerupai makan dengan sendok, ukuran makanan lebih kecil dan sendok masuk sempurna ke mulut. Ada yang berkata tentang enzim yang ada di sela-sela kuku jari tangan, yang memberikan manfaat untuk pencernaan. Tapi hal ini belum saya cari landasan logisnya.

Nah, setidaknya dua hal itu menjadi keutamaan makan dengan tiga jari. Dan karena sudah adzan Dzuhur, saya sementara mencukupkan tulisan ini dengan kesaksian :

Mengikuti sunnah Rasulullah SAW, awalnya aneh mungkin berat. Seiring berjalannya waktu, dan pembiasaan maka tidak ada kebaikan yang akan terlewat walaupun keutamaan dan hikmahnya mungkin belum terungkap.

Indahnya hidup dengan Islam … 🙂

Iklan

4 thoughts on “Mohon maaf bila tidak berkenan …

  1. Jadi ingat dengan kegiatan mabit dulu sekali di jaman SMA. Saya makan sekenanya saja, sementara dua teman saya makan dengan tiga jari dan santun.. Pun dengan tata cara minumnya. Mereka tidak menegur saya, cukup memberikan contoh dan saya tau bahwa cara itulah yang disunnahkan Rasulullah. Ah jadi kangen mereka.

    1. Subhanallah, walaupun sudah lama memori indah masih teringat ya, Mas. Boleh dong sesekali kita reuni (dengan memori itu – red) walaupun kita baru kenal lewat tulisan (alias belum pernah ketemu muka – red). Boleh juga tuh Mas, menyambung silaturrahim dengan teman-teman lama … 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s