Idul Qurban


Allahu akbar allahu akbar allahu akbar wa lillahilhamd …

Takbir berkumandang di seluruh penjuru bumi, mengagungkan asma Allah Rabb Yang Mahakuasa. Tidak terkecuali di Beji, semenjak Maghrib Selasa kemarin takbir tiada henti diserukan di masjid-masjid dan musholla-musholla bahkan hingga menjelang Subuh. Rabu paginya ba’da Subuh pun, takbir kembali menggema hingga menjelang jam 7-an saat ribuan bahkan jutaan ummat muslim melaksanakan sholat Ied di hari Idul Qurban ini.

Idul Qurban tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, walaupun yang umum dilakukan masyarakat Indonesia sama yaitu menyembelih hewan kurban. Yang berbeda adalah bahwa menjelang Idul Qurban tahun ini, Indonesia didera dengan berbagai bencana alam. Mulai dari banjir banding di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai, hingga gunung Merapi di Jawa Tengah yang meletus dan menyisakan pedih mendalam bagi ribuan pengungsi di barak-barak pengungsian. Sungguh memilukan memang, tapi Allah Mahapengasih dan Mahapenyayang. Tidak sedikit pun Ia ingin menyusahkan manusia, cuma sedikit ujian bagi kita untuk melihat siapa yang beriman dan siapa yang kufur. Peringatan yang akan semakin mendekatkan hati-hati orang beriman kepada Sang Khalik dan menjadikan orang-orang kafir menjauh dari rahmat-Nya.

Sudah sewajarnya bagi manusia untuk mengembalikan segala urusan kepada Penciptanya, sebagaimana keikhlasan Ibrahim as. dan ketegaran Ismail as. atas perintah Allah kepada mereka berdua. Tiada logika yang bisa membenarkan perintah itu, kecuali iman. Dan tiada yang lebih berat dalam kehidupan ini kecuali memegang iman tetap ada di hati, lisan dan perbuatan kita. Boleh jadi di setiap langkah kita, cobaan dan godaan untuk meruntuhkan dan menyesatkan iman kitab selalu dihembuskan oleh syetan. Tidak hanya dari orang-orang yang asing bagi kita, bahkan pula dari orang-orang terdekat kita termasuk keluarga dan saudara.

Keluarga Ibrahim as. adalah contoh yang benar-benar patut dijadikan teladan, terlebih di masa saat kondisi lingkungan di sekitar keluarga kita sangat tidak kondusif karena gempuran gelombang hedonisme dan materialisme. Harta, tahta dan wanita/pria, tiga yang selalu menjadi ukuran kebahagiaan yang diusung oleh kaum sekuler, yang selalu berusaha menjauhkan diri kita (ummat muslim – red) dan keluarga kita dari nilai-nilai agama (Islam – red). Karenanya dalam meniti kehidupan khususnya berunmah tangga, sudah sepantasnya kita mengambil rujukan dari keluarga-keluarga yang teruji kesholihannya bukan untuk disebut sholeh tentunya tetapi lebih utamanya untuk menyelamatkan diri kita dan keluarga kita dari api neraka, baik di dunia maupun di akhirat.

To be continued …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s