Yang HOT di Kepala Beberapa Hari Terakhir


PNS, Gaji dan Gratifikasi

Jum’at siang kemarin, karena menjelang tahun baru 2011 kantor dipulangkan agak cepat. Alasannya kurang jelas, yang pasti itu berlaku di hampir semua instansi pemerintah mungkin bahkan swasta. Yang pasti, hampir semua pegawai menyambut gembira “perkenan” tersebut.

Saya sendiri sebenarnya agak malas menanggapi situasi ini, tapi ya sudahlah mungkin waktu bisa saya manfaatkan untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat (di rumah dengan keluarga). Beberapa saat sebelum beranjak meninggalkan kantor, seorang rekan bertanya tentang sesuatu yang baru-baru ini menjadikan sebagian besar pegawai tersenyum dan sebagian kecil bertanya-tanya. Sehingga terjadilah diskusi panjang lebar lewat YM untuk menjaga perasaan rekan-rekan lain. Bukan sangat sensitif sih, cuma mungkin bisa mengganggu kenyamanan saja. Tentu ada di antara kita yang enggan meninggalkan “zona nyaman” bukan? Tanpa menjelaskan secara detil isi diskusi itu (lagi-lagi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan), saya terpaksa mengakhiri diskusi via chatting itu karena istri saya menelpon untuk memastikan saya tidak pulang terlalu sore.

Jadilah saya menuju rumah sambil terus berpikir, sebenarnya apa sih yang terbaik terkait hal tersebut di atas. Saya selalu berpikir bahwa pemerintah (dalam hal ini Departemen/Kementerian Keuangan) telah menyusun suatu sistem keuangan terbaik bagi PNS, terkait dengan gaji dan tunjangan. Karena saya belum pernah mempelajari sistem itu baik dengan membaca peraturan perundangan maupun SOP-nya, saya coba berasumsi bagaimana pemerintah menyusun sistem keuangan tersebut. Hmmm, ambil satu clue : tunjangan. Departemen Keuangan (dulu), dikenal sebagai instansi pemerintah yang memberikan tunjangan “paling” besar bila dibanding instansi pusat lainnya. Alasannya (masih asumsi saya) Departemen Keuangan adalah instansi yang mengurusi keuangan negara yang notabene hajat hidup orang banyak. Selain itu, lebih spesifik direktorat-direktorat jenderal departemen ini adalah “penghasil” pundi-pundi uang bagi kas negara, misal lewat pajak. Kesimpulan sementara, bila dibuat “levelitas” pasti ada pertimbangan instansi mana yang lebih penting dibanding instansi lain sehingga ada daftar intansi pemerintah mulai dari yang paling penting hingga yang “cukup” penting saja. Saya pakai kata “cukup” karena pastinya tidak ada instansi pemerintah yang mau disebut “tidak” penting, walaupun bila dilihat kinerjanya jeblok. Nah daftar inilah yang menjadi dasar pemberian tunjangan yang berbeda-beda antarinstansi pemerintah, mulai yang paling besar hingga yang paling kecil. Ini tentu berbeda dengan pemda yang memberikan tunjangan berdasarkan PAD-nya.

Saya coba mencari memikirkan model sistem yang mendasarkan pertimbangan lain untuk membuat daftar tersebut. Satu yang mungkin paling krusial, fungsi/tupoksi instansi yang terkait dengan kemaslahatan masyarakat luas. Walaupun ini tentu bisa saja disamakan dengan hajat hidup orang banyak, tapi saya coba berpikir simpel saja lebih karena dengan suatu simulasi tertentu mungkin kita bisa melihat seberapa pengaruh suatu instansi pemerintah terhadap kemaslahatan masyarakat.  Hmm, sepertinya bahkan otak saya belum mampu membayangkan sistem itu seperti apa, terutama karena sedikitnya ilmu yang saya miliki (dan karena saya lemah dalam hal membaca buku-buku berbobot seperti manajemen dan keuangan). Saya hampir lupa kenapa saya memikirkan ini, saya cuma berpikir bahwa sistem itu sekarang mungkin sedang diterapkan oleh pemerintah lewat pengguliran Program Reformasi Birokrasi yang berujung pada Program Remunerasi. Ya, saya sempat membaca sebuah materi presentasi tentang reformasi birokrasi dan mata saya tidak bisa lepas dari halaman yang menjelaskan tentang sistem penggajian yang sesuai pasca reformasi birokrasi tersebut. Beberapa yang saya ingat adalah, besaran gaji yang disesuaikan dengan kebutuhan hidup (yang berarti diperhitungkan kewajarannya dengan tempat tinggal), tunjangan kinerja yang sesuai dengan kinerja dan tunjangan fungsional yang terkait dengan fungsi/tupoksi baik pegawai maupun instansi. Nah sepertinya yang terakhir itu menginspirasi saya untuk memikirkan sistem pemberian tunjangan berdasarkan pengaruhnya pada kemaslahatan masyarakat luas.

Kenapa trus mikirnya jauh ke sana ya, padahal yang saya diskusikan dengan rekan terkait dengan gratifikasi? Jawabannya adalah karena kami berbeda pendapat, dan itu sah-sah saja. Pemberian tunjangan selain daripada yang sudah dialokasikan dalam anggaran instansi semisal THR adalah kebijakan pimpinan instansi. Sebagian (yang merasa senang dengan kehadirannya) mungkin beranggapan itu sah-sah saja (alias halal) sedangkan sebagian yang lain (yang bertanya-tanya dari mana kehadirannya) mungkin beranggapan bahwa penggunaan anggaran instansi untuk hal tersebut merugikan negara (atau setidaknya masih meragukan kehalalannya). Yang pertama (termasuk rekan saya) menilai penggunaan anggaran itu adalah murni hak dan tanggung jawab pimpinan (karena anggaran sudah disetujui Depkeu), so kalo pun dibagi-bagi ke pegawainya untuk THR adalah sah-sah saja. Yang terakhir (termasuk saya) menilai penggunaan anggaran yang tidak sesuai peruntukannya adalah penyimpangan anggaran dan itu tidak bisa disebut sah-sah saja melainkan ilegal dan boleh jadi tidak halal. Bagaimana menurut Anda? Silakan baca tulisan saya terdahulu di sini. Solusi yang mungkin adalah remunerasi yang mensyaratkan reformasi birokrasi, semoga … Bukannya saya pesimis dengannya, tapi bila reformasi birokrasi hanya mengubah sistem saja tanpa mengubah SDM yang mengawakinya (birokrat) maka boleh jadi grand design ini akan menjadi sia-sia belaka. Kalo pun, pembentukan pokja-pokja bisa dihilangkan dengan remunerasi bagaimana dengan mark-up harga pengadaan barang/jasa? Siapa yang bisa menjamin …

Beberapa link dan referensi yang mungkin bermanfaat untuk Anda (minimal menambah wawasan kita) :

Poligami, Rekayasa Sosial dan Sifat Manusiawi

Kemarin saya baca headline di Yahoo, Aa Gym dan Teh Ninih tetap rukun meski sudah bercerai. Bercerai??? Gimana ceritanya? Koq gak ada beritanya sama sekali sih … Wah pasti ini akan jadi headline dalam beberapa hari ke depan, ingat prinsip media :

Good News is Bad News, Bad News is Good News.

Saya berusaha untuk tidak bereaksi karena informasi yang beredar masih sangat sedikit, walaupun berita di headline tersebut bersumber dari orang-orang terdekat atau terpercaya. Eh hampir Subuh tadi, istri ngajak ngobrol tentang poligami karena habis mimpi saya nikah lagi sama perempuan lain sehingga akhirnya berita miring itu pun jadi bahan diskusi. Saya mencoba menanggapi supaya gundah istri saya mereda. Saya sadar, walaupun mimpi adalah bunga tidur tetapi sedikit banyak di alam bawah sadarnya istri menyimpan kekhawatiran yang besar jika saya akan menempuh poligami. Saya mestinya bersyukur, nah lho koq malah bersyukur? Karena itu tandanya istri saya sangat mencintai saya, sehingga tidak bisa menerima saya membagi cinta dengan perempuan lain. Meskipun saya yakin istri mengimani ayat tentang poligami, tetapi sebagai seorang manusia ia belum bisa menerima (atau dalam bahasa optimisme saya, istri belum siap dan sedang berproses).

Sebenarnya kami bukan pertama kali ini berdiskusi tentang poligami dan masing-masing kami sudah menyampaikan pikiran serta perasaan kami, tapi entah kenapa diskusi tentang poligami seperti sesuatu yang menantang untuk diulang-ulang. Analoginya seperti makan sambal rawit saja, meskipun sudah tau bakalan kepedasan tapi kita tidak pernah jera atau bosan mencobanya kan? Mungkin ini cara kami mengukur sampai di mana pemahaman dan tingkat keimanan kami masing-masing terhadap ayat poligami, karena memang dari sinilah semua berawal. Anda mungkin masih ingat saat Aa Gym diwawancarai dalam acara Kick Andy beberapa waktu yang lalu tentang keputusan beliau untuk berpoligami. Beliau mengatakan bahwa prosesnya tidak mendadak, beliau sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari (istilah saya memantapkan pemahaman dan keimanan Teh Ninih juga). Proses itulah yang menyebabkan Aa Gym mantap menempuhi poligami (istilah banyak orang menduakan Teh Ninih dengan Teh Rini, istri mudanya).

Ada banyak kontroversi dalam kasus di atas (bukan kasus saya tentu). Namun sangat sedikit yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang dijalani oleh mereka berdua, dan berlanjut kepada mereka bertiga. Bahkan Aa Gym sendiri menurut saya tidak menjelaskan grand design apa yang sedang direncanakan dan dijalani, apalagi Teh Ninih yang tentu menurut sebagian besar orang menjadi subyek yang paling dikorbankan. Padahal penjelasan dalam sebuah penyikapan adalah penting, terutama bagi masyarakat yang awam terhadap proses pelaksanaan suatu hukum atau perintah Allah. Tidak ada yang tanpa proses, bila menuju poligami Teh Ninih mesti diproses (dipersiapkan oleh suaminya), maka tidak terkecuali Aa Gym sendiri. Apalagi Teh Rini, istri keduanya yang notabene orang baru dalam keluarga poligami mereka, tidak bisa tidak mesti tau aturan mainnya. Demikian pula keluarga besar masing-masing, dan yang paling penting masyarakat luas terutama jama’ah mereka.

Saya sedang membaca buku, judulnya Rekayasa Sosial lewat Malam Pertama tulisan Ahsad Kusuma Djaya, terbitan Kreasi Wacana (2000). Sebenarnya buku ini sempat dipinjamkan calon istri saya dulu sebelum saya menikahinya (tepatnya saat kami sedang berproses menuju pernikahan) tapi sayang saya tidak selesai membacanya. Untungnya istri termasuk yang teliti terhadap koleksi buku-bukunya sehingga saya berkesempatan membacanya lagi (melanjutkan) karena setelah membaca pengantarnya saya semakin tertarik untuk menuntaskannya. Isinya akan saya ulas pada kesempatan lain (insya’Allah), tapi sebagian isinya membantu saya memahami hikmah yang terkandung di balik ayat poligami ini.

“Dan jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil terhadap anak-anak atau perempuan yatim (jika kamu mengawininya), maka kawinlah dengan perempuan lain yang menyenangkan hatimu; dua, tiga, atau empat. Jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil (terhadap istri yang terbilang), maka kawinilah seorang saja, atau ambillah budak perempuan kamu. Demikian ini agar kamu lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya” (An-Nisaa`:3)

Sedikit dari buku ini tentang poligami yang saya tangkap, bahwasanya poligami itu adalah perwujudan keadilan seorang mukmin terhadap wanita-wanita yatim (yatim struktural bukan harfiah) yang potensinya perlu dilindungi dari pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan pribadi. Hal ini dilakukan karena hakikat pernikahan (malam pertama) yang dihubungkan dengan suatu grand design (rekayasa sosial) yang membawa pengaruh besar tidak hanya bagi pasangan yang menikah tetapi juga kepada masyarakat secara luas. Hal ini tentu berbeda dengan pemahaman atau anggapan sebagian besar orang bahwa menikah lebih banyak berhubungan dengan urusan pribadi antara dua orang yang saling mencintai, kalo pun punya efek sosial hanyalah salah satu fungsinya melahirkan keturunan yang akan menyambung generasi manusia.

Beberapa waktu terakhir sejak saya membaca buku ini, pemahaman inilah yang saya bawa dalam diskusi-diskusi saya baik dengan istri saya maupun dengan teman dan sahabat lainnya. Saya semakin yakin (karena itu juga sejalan dengan prinsip perbaikan dalam manhaj tarbawi) bahwa menikah adalah langkah kedua untuk melakukan perbaikan di masyarakat (setelah yang pertama : perbaikan diri sendiri). Membentuk keluarga sakinah adalah modal bagi perbaikan masyarakat, bangsa dan negara. Saya juga mencoba memandang dengan kacamata ini, shiroh (sejarah) Rasulullah SAW dan para sahabat RA melalui riwayat-riwayat mereka berkenaan dengan pernikahan. Sama sekali bukan masalah pribadi, melainkan suatu bagian dari sistem sosial yang dimusyawarahkan bukan ditentukan sendiri. Mungkin saja pendapat ini ditepis, sah-sah saja koq …

Masalahnya, walaupun sistem itu dibuat dengan sempurna oleh Sangkhalik, tetapi pelakunya tetap manusia biasa yang tidak lepas dari lupa dan khilaf. Hal inilah yang menurut saya terjadi pada Aa Gym dan keluarganya. Saya tidak akan memandang beliau memperturutkan hawa nafsunya ketika menikahi istri keduanya, beliau hanya berusaha mewujudkan hukum Allah dalam kehidupan keluarganya. Adapun yang terjadi sekarang hanyalah ujian yang niscaya terjadi di semua keluarga tidak terkecuali di keluarga-keluarga monogami. Berapa banyak perceraian terjadi dari perkawinan monogami akibat perselingkuhan atau hadirnya pihak ketiga tanpa adanya poligami? Tentu bukan angka yang sedikit bukan. Kedua kondisi itu adalah bukti bahwa para pelakunya adalah manusia, yang punya hati di mana sifatnya mudah terbolak-balik. Kalo pun kesepakatan telah terjalin di antara pasangan yang menjalani pernikahan (baik monogami maupun poligami), hati masing-masing tetap bisa berubah. Di keluarga poligami istilahnya ketidakadilan (antaristri) oleh suami, sedangkan di keluarga monogami istilahnya ketidaksetiaan (bisa istri bisa suami). Bahkan ketika masing-masing sadar bahwa pasangannya adalah manusia biasa, sehingga berusahan memaklumi bila bisa berbuat salah maka bisikan-bisikan syetan tak akan pernah berhenti mengganggu ketenangan batin mereka. Bahkan untuk yang belum menikah sekalipun …

Sepertinya pandangan saya tentang hal ini cukup sampai di sini dulu. Anda boleh berbeda dan boleh setuju, pilihan ada di tangan masing-masing.

Sumber gambar :

  1. ustadchandra.wordpress.com
  2. eramuslim.com
Iklan

6 thoughts on “Yang HOT di Kepala Beberapa Hari Terakhir

  1. tentang pekerjaan, saya juga sedikit heran dengan teman-teman yang mengucapkan Alhamdulillah ketika diberikan uang yang bukan haknya, apakah itu mentalitas pegawai kita? Justru kadang ketika kita memikirkan hal tersebut dianggap aneh juga! Lha mau dikemana tubuh kita ini.
    Berharap saja gaji yang saya terima halal karena diterimakan diawal sebelum saya kerja dan tentu harus dibayar mahal dengan melaksanakan kewajiban, yaitu kerja

    1. Memang sih Mas, kebutuhan hidup sekarang membuat kita yang pegawai bergaji tetap inipun kelimpungan untuk memenuhinya sampe-sampe tidak lagi pusing-pusing bertanya apakah sifat rejeki yang diterima. Aamiin, saya juga berharap hal yang sama, Mas Tony. Semoga juga teman-teman yang lain.
      Makasih sudah berkunjung, apa kabar Jogja? Semoga yang membara cepat mereda ya …

  2. saya pikir merubah mental orang sekarang sangat susah. yang terbaik adalah memutus regenerasi mental sprti itu dg pendidikan yang sehat pada generasi muda. miris juga mendengara kabar korupsi dan gratifikasi dimana2..

    1. Pendapat yang agak pesimis, padahal Rasulullah SAW berdakwah di semua kalangan (anak-anak sampe kakek-nenek) dan tidak sedikit yang mendapatkan hidayah. Bukankah emas di jaman jahiliyah tetap emas di masa kejayaan Islam? Seperti Umar bin Khaththab …
      Mas Anang, semakin susah insya’Allah semakin besar pahalanya di sisi Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s