Kemiskinan dan Popularitas


Kemarin, menjelang siang saya ditelepon oleh seorang rekan. Beliau meminta saya untuk mengisi kultum (kuliah tujuh menit) di masjid kantor. Deg, wah apa saya siap ya? Langsung saja otak saya bekerja, mencari topik yang menarik dan paling penting bisa saya sampaikan. Jujur, terlalu banyak topik menarik (dalam hal agama) yang selalu ingin saya diskusikan. Tapi kultum beda dengan diskusi kan, karena diskusi bebas nilai sedangkan kultum lebih banyak dipandang sebagai transfer ilmu, wawasan atau minimal opini. Hmmm …, saya coba mencari di internet sambil terus mencari di otak saya topik menarik itu. Akhirnya saya putuskan mengambil topik :

Tolong-menolong dalam Kebaikan dan Takwa

Kira-kira apa yang mau saya sampaikan?

Kisah Bapak Penjual Pakaian Keliling

Beberapa waktu yang lalu, mungkin setahun lalu, saya sholat Dhuha di sebuah musholla dekat kantor istri. Maklum, karena masih tugas belajar waktu saya agak lebih fleksibel sehingga sempat antar-jemput istri ngantor. Selepas sholat, saya dihampiri oleh seorang ustadz muda yang saya kenal di musholla itu. Saya diajak bertemu dengan seorang bapak. Saya mengenali beliau sebagai penjual pakaian keliling, beliau termasuk sering datang ke musholla ini baik untuk istirahat maupun untuk sholat. Sang ustadz memberikan pengantar dari pertemuan kami, beliau menceritakan secara singkat bahwa bapak tersebut sedang mengalami masalah berat lalu mempersilakannya menceritakan sendiri permasalahannya pada saya.

Bapak penjual pakaian menceritakan tentang kesulitan dirinya beberapa waktu terakhir. Usahanya menjual pakaian keliling mengalami kesulitan, tidak seperti di awal-awal usahanya dahulu. Sering kali beliau tidak mendapakan uang sepeser pun dalam sehari, bahkan untuk makan tidak ada. Yang menopang kehidupannya selama ini adalah si bos yang memberikan pekerjaan itu. Si bapak menjualkan pakaian dari bos-nya dan mendapatkan penghasilan dari keuntungan penjualan, sedangkan modalnya kembali ke bos. Tidak ada gaji tetap, tergantung berapa banyak pakaian terjual. Beliau bercerita, sudah menanggung hutang yang tidak sedikit pada bos-nya. Selain hutang yang ditanggung keluarga yang ditinggalkannya karena beliau tinggal sendiri di Jakarta sedangkan keluarganya di kampung. Sudah lebih dari sebulan beliau tidak pulang kampung untuk bertemu dengan keluarga, alasannya cuma satu : tidak ada uang nafkah yang bisa dibawa pulang. Sungguh miris.

Si bapak berkata kalo dia tidak pernah putus asa dari rahmat Allah dan selalu berusahan menjaga ibadah dan akhlaknya. Tidak pernah lepas sholat berjama’ah, bahkan sholat tahajjud, tapi pertolongan Allah sepertinya masih jauh dari harapan. Beliau bercerita, pernah suatu kali ketika waktu Dzuhur beliau sholat di sebuah masjid. Selepas sholat beliau beristirahat sejenak melepas lelah, sementara di masjid itu beberapa orang juga beristirahat selepas sholat. Di antara jama’ah yang beristirahat itu, ada seorang yang membawa tas kecil yang beliau yakini itu berisi uang yang banyak (mungkin karena beliau sempat melihat uangnya) dan orang itu tertidur tanpa khawatir sedikit pun terhadap tas yang tergeletak di sampingnya. Dalam hati si bapak muncul bisikan untuk mengambil uang itu, tapi dengan segera langsung beliau tepis lalu membangunkan si-empunya tas dan mengingatkannya akan risiko bila orang itu benar-benar tertidur. Sontak si-empunya tas langsung saja berterima kasih atas kebaikan si bapak penjual pakaian. Alhamdulillah, ternyata dalam ujian berat si bapak masih sabar dan tidak mengikuti bisikan syetan.

Akhirnya si bapak menyatakan maksudnya, meminta tolong kepada saya dan sang ustadz untuk mencarikan pekerjaan lain yang bisa memberinya penghasilan tetap. Harapannya, dengan penghasilan tetap itu beliau bisa membayar hutang dan memberi nafkah kepada keluarganya di kampung. Harapan yang wajar bagi seorang bapak tentu. Saya tertegun, mencoba untuk menyelami perasaan si bapak yang bercerita sambil berlinang air mata. Sesaat hening, sang ustadz lalu bertanya pada saya apakah bisa membantu si bapak tersebut. Perlahan saya menjawab pertanyaan sang ustadz, saya sendiri tidak punya lowongan baik di rumah maupun di kantor. Tapi saya berjanji untuk mencarikan.

Beberapa hari kemudian saya bertemu dengan si bapak penjual pakaian, masih di tempat yang sama. Saya mendapat informasi, seorang teman mencari sopir pribadi untuk keluarganya. Sungguh sayang, si bapak tidak bisa nyetir mobil. Beliau bilang cuma bisa pekerjaan kasar, tukang kebun, kuli bangunan atau apalah. Saya lalu mencoba mencari di sekitar kantor istri yang kebetulan ada beberapa lokasi yang sedang melakukan pembangunan rumah. Tidak ada lowongan, semua pekerjaan bangunan sudah ada tukang dan kernetnya. Apalagi ya? Si bapak bercerita bahwa selama beliau menjalani kesulitan hidup, ada saja yang memberikan bantuan. Salah satunya seorang pemuda marbot (penjaga) masjid di bilangan Kebagusan. Si pemuda marbot memberikan kepadanya sejumlah uang yang tidak sedikit. Bahkan orang kaya sekalipun belum pernah ada yang berbuat serupa, kata si bapak. Sayang, beberapa waktu kemudian si pemuda marbot pindah ke tempat lain karena diterima bekerja di sebuah perusahaan. Saya coba usulkan si bapak untuk jadi pemulung (logika saya yang modalnya tidak terlalu besar, pendapatannya di Jakarta cukup menjanjikan) tapi beliau menolak karena alasan sudah terlalu banyak pemulung. OK, saya akan coba carikan yang lain, sabar ya Pak …

Lebih satu bulan sejak pertama kali bertemu dengan si bapak penjual, saya bertemu lagi dengannya masih di lokasi yang sama. Beliau masih berjualan pakaian, masih murung seperti kemarin-kemarin. Walaupun begitu senyum tidak pernah lepas dari wajahnya. Saya coba memberinya informasi lowongan pekerjaan di lokasi yang kebetulan dekat dengan tempat tinggalnya, sayang ketika beliau mendatangi lokasi itu dan bertenu dengan CP perusahaan, lowongan itu untuk usia maksimal 30 tahun (padahal tidak ada di persyaratan yang saya lihat di tempel di dinding sebuah tempat fotokopi). Belum rejekinya kali Pak, begitu saya coba menghiburnya. Si bapak sepertinya sudah hampir putus asa, beliau kemudian meminta saya untuk mempertemukannya dengan pengurus musholla. Beliau ingin meminta waktu untuk berbicara di depan jama’ah untuk mengemukakan maksudnya :

Menjual segala amal dan ibadahnya selama hidup untuk ditukar dengan sejumlah uang

Saya heran, tapi mencoba untuk memahami apa yang beliau sampaikan. Apa mungkin ya, ada di antara jama’ah yang mau membeli amal dan ibadah si bapak dengan sejumlah uang? Terminologi yang bahkan saya belum pernah dengar sebelumnya, tapi saya pikir bukan tidak mungkin. Saya menghubungi pengurus musholla, meminta waktu untuk bisa mempertemukan si bapak untuk menyampaikan maksudnya. Sayang, ketika kami bertemu dengan salah satu pengurus musholla, bukan sambutan baik dan ijin yang diberikan olehnya tapi ucapan pedas yang buat saya saja menyakitkan. Bagaimana dengan perasaan si bapak ya? Sepertinya usaha si bapak belum akan berhasil, perjuangan belum berakhir …

Sepekan kemudian saya sedang beristirahat di sebuah warung, sambil membeli teh botol. Tanpa terduga si bapak penjual pakaian lewat di depan warung itu, langsung saja saya memanggilnya dan menyilakan beliau istirahat dulu sambil minum teh botol. Dengan nada pasrah, si bapak itu mengusulkan sesuatu yang saya sendiri baru baca di media atau tonton di film (bukan kenyataan) :

Menjadi donor ginjal (menjual satu ginjalnya kepada orang lain yang membutuhkan)

Wah, apa saya bisa mencarikan ya? Saya teringat pada seorang rekan di kantor yang mendapat ujian Allah menderita penurunan fungsi ginjal beberapa waktu lalu. Saya hubungi dia, tapi penjelasannya menyadarkan saya bahwa menjadi donor ginjal bukan hal yang sederhana. Ada banyak prosedur yang harus ditempuh sampe uang pengganti bisa dicairkan. Itupun tanpa ada jaminan kalo satu ginjal tersisa bisa berfungsi normal seumur hidup, bagaimana kalo malah gagal ginjal? Apa gak malah jadi beban seumur hidup …

Sudah lama saya tidak bertemu dengan si bapak penjual pakaian keliling. Saya belum membantu apa-apa untuk meringankan beban hidupnya, semoga hanya Allah lah sumber pertolongan buat beliau dan tempat beliau mengembalikan segala urusan.

Menjadi Problem Solver atau Mencari Popularitas

Setelah membuat catatan kecil berisi ayat Al Qur-an dan Hadits tentang topik yang saya pilih, saya segera berangkat ke masjid. Dalam hati saya masih bertanya, akan seperti apa saya menyampaikan topik ini. Bukan masalah menariknya, sekarang intinya adalah bagaimana caranya agar jama’ah memahami apa yang saya sampaikan. Menggunakan isitilah motivator : harus ada ice breaking-nya. Apa ya kira-kira ice breaking topik ini? Selepas sholat Dzuhur, sambil berdzikir saya teringat dengan kisah si bapak penjual pakaian keliling. Mungkin ini kisah yang Allah pilihkan untuk jadi pembuka kultum saya, bolehlah akan saya coba.

Dari rencana awal tujuh menit, saya sudah berdiri di mimbar hampir lebih dari 15 menit. Jama’ah sepertinya cukup bisa menangkap topik yang saya sampaikan. Walaupun di awal ada beberapa jama’ah yang meninggalkan masjid (mungkin karena ada keperluan) dan sebagian jama’ah yang tertidur (mungkin karena kelelahan bekerja atau sehabis begadang), sebagian besar jama’ah mengikuti kultum dengan seksama. Sungguh saya berharap idenya bisa meresap di hati kami, sama sekali bukan penampilan atau indahnya kisah yang saya ceritakan (melankolis sekali, kata seorang rekan).

Hikmah atau makna, itu yang paling utama

Kisah yang bercerita tentang sekelumit kemiskinan di negeri tercinta ini, adalah gambaran dari kemiskinan hati dari saudara-saudara muslim yang lain. Benar, bila Rasulullah SAW bersabda bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukanlah kekayaan harta benda melainkan kekayaan hati (HR. Muslim) maka miskin yang sesungguhnya bukanlah kemiskinan si bapak penjual pakaian keliling, melainkan kemiskinan hati-hati kita. Mungkin saya, sang ustadz, pengurus musholla dan saudara-saudara muslim yang lain. Kemiskinan yang membuat kita segan, enggan bahkan takut untuk memberikan pertolongan kepada saudara muslim yang sedang tertimpa kesulitan hidup. Segan karena merasa tidak punya kekuatan untuk membantu. Enggan karena merasa diri dan keluarganya pun belum terpenuhi kebutuhannya. Dan takut karena merasa khawatir tertipu atau menjadi terikat dengan seseorang yang selalu membutuhkan bantuan. Padahal Rasulullah SAW, yang konon menjadi panutan bahkan tidak segan membantu walaupun harus dengan berhutang atas nama beliau, tidak enggan memberi sedekah meskipun karenanya beliau hanya bisa membeli baju berkain kasar, tidak takut menyuapi seorang pengemis tua buta meskipun dia seorang non muslim.

Sungguh kemiskinan hati adalah kemiskinan yang menyedihkan, bukan karena tidak mendapat nikmat tetapi karena ironis nikmat Allah yang diterima tidak bisa memberi manfaat untuk sesama manusia. Sebagian rekan memberikan pujian atas kultum saya, tapi bukan itu tujuan saya. Sudah semestinya ketika seseorang mengingatkan kita akan permasalahan yang ada di sekitar kita, maka masing-masing kita :

Menjadi problem solver dan bukan mencari popularitas

2 thoughts on “Kemiskinan dan Popularitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s