Jum’at, Hari Ibadah Ummat Islam atau Hari Krida?


Seperti umumnya instansi pemerintah lain, setiap hari Jum’at pagi di kantor saya dilaksanakan senam pagi (atau senam kesegaran jasmani). Ini sesuai dengan himbauan (atau instruksi) dari Menegpora beberapa waktu yang lalu. Arsip beritanya bisa di lihat di sini. Sebenarnya khusus di kantor saya (bukannya menyombongkan) pelaksanaan senam pagi ini tidak terpengaruh ada atau tidaknya himbauan tersebut. Malahan di setiap POR dalam rangka HUT Persandian, panitia biasa memasukkan senam dalam salah satu cabang OR yang dipertandingkan. Asli, saya saja pernah latihan hampir satu bulan penuh bersama rekan-rekan satu ruangan dalam rangka persiapan pertandingan (perlombaan) senam. Sebenarnya bukan itu yang mau saya bahas melainkan tentang pemanfaatan hari Jum’at sebagai hari OR.

Kita tentu paham, bahwa semenjak peraturan hari kerja menjadi hanya 5 hari sejak jaman orde baru dulu maka kita baik yang masih sekolah maupun yang sudah bekerja mengubah kebiasaan kita. Dulu, waktu itu saya masih SMP sehingga saya ingat betul ketika kami menjadi lebih rajin sholat berjama’ah di sekolah karena pulang lewat waktu sholat Asar. Sedemikian sehingga kalo sebelumnya saya bisa sholat Jum’at di rumah (waktu SD) menjadi terbiasa sholat Jum’at di sekolah. Tapi ada yang tidak berubah, salah satunya hari Jum’at yang sejak dulu memang digunakan sebagai hari OR (Hari Krida Nasional).

Lalu bagaimana, apakah hari Jum’at lebih tepat dimanfaatkan sebagai hari ibadah atau hari krida?

Jum’at sebagai Hari Ibadah

Memang sebenarnya ada di antara kita yang mengalami perbedaan terutama tentang hari Jum’at. Di lingkungan pesantren dan madrasah misalnya, hari Jum’at adalah hari libur sedangkan hari Ahad (Minggu) bukan hari libur (alias tetap masuk). Ini lebih terkait dengan keberadaan sholat Jum’at di hari itu, di mana ummat Islam khususnya kaum laki-laki diwajibkan menghadiri khutbah dan melaksanakan sholat Jum’at di masjid-masjid jami’. Hari Jum’at adalah hari raya pekanan bagi ummat Islam, sehingga sebagian ulama mengkhususkannya sebagai hari ibadah. Alasan meliburkan hari Jum’at bertujuan untuk memaksimalkan ibadah di hari yang mulia ini.

Ini tentu berbeda dengan kebiasaan kita umumnya, di mana hari libur pekanannya hari Minggu. Meliburkan hari Minggu jelas bukan tanpa alasan, karena kita mengadop (mengekor) pada manajemen kerja barat (Amerika dan Eropa) sejak jaman penjajahan dahulu yang notabene mayoritas penganut Nasrani maka jadilah hari Minggu diliburkan. Hari Minggu adalah hari ibadah umat Nasrani. Misa-misa (kebaktian) dilaksanakan di gereja-gereja baik pagi maupun petang.

Sebenarnya ini tentu bukan masalah yang perlu diperdebatkan. Masing-masing menginginkan ibadah yang maksimal di hari ibadahnya, karenanya masing-masing meliburkan hari ibadahnya. Yang menarik adalah, bahkan dalam Al Qur-an disebutkan bahwa hari Jum’at ummat Islam bukan tidak boleh bekerja.

Wahai orang-orang yang beriman,apabila diseru untuk sholat pada hari Jum’at, maka hendaklah kamu bersegera untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Demikianlah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. (QS. Al Jumu’ah : 9)

 

Maka apabila telah ditunaikan sholat, maka hendaklah kamu bertebaran di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (QS. Al Jumu’ah : 10)

Ini artinya hari Jum’at memang tidak wajib diliburkan, walaupun afdholnya sebelum sholat Jum’at ummat Islam khususnya laki-laki sebaiknya tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang bisa menyebabkan lalai/lupa memenuhi perintah Allah untuk beribadah. Adapun sesudahnya, pekerjaan yang ditinggalkan bisa dialnjutkan kembali sebagai kelapangan dari Allah untuk mencari karunia-Nya walaupun yang beruntung adalah yang tetap banyak mengingat Allah dalam aktifitas pekerjaannya tersebut.

Jum’at sebagai Hari Krida

Penetapan pemerintah terhadap Jum’at sebagai Hari Krida Nasional lebih dimaksudkan pada penyuksesan program pemerintah Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat yang diasung oleh pemerintah. Pemilihan hari Jum’at sebenarnya hanya karena waktu antara jam masuk kerja (jam 8 atau jam 9) dengan waktu pelaksanaan sholat Jum’at (jam 11.30 sampai dengan  jam 12) dianggap terlalu sempit untuk melakukan kegiatan yang kompleks. Padahal untuk instansi yang terbiasa masuk kerja jam 7.30 maka sampai jam 11.30 itu ada 4 jam yang notabene setengah hari kerja (sayang bila tidak digunakan untuk bekerja), tapi memasukkan kegiatan OR di sela-sela waktu itu pun sebenarnya tidak keliru karena pegawai/karyawan tentu membutuhkan aktifitas OR yang cukup (termasuk dalam hari kerja) untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya bukan?

Memang sih keberadaan hari krida dengan menggalakkan kegiatan OR semisal senam pagi menyebabkan sebagian besar kita berpeluang untuk memanfaatkan waktu setengah hari itu untuk aktifitas lainnya termasuk yang bersifat pribadi seperti belanja, jalan-jalan atau lainnya, tapi pembatasan waktu yang terlalu ketat pun bisa berpotensi menghilangkan minat pegawai/karyawan untuk melakukan OR. Yang negatif memang jangan dicontoh, seperti kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh oknum pegawai di salah satu pemda dengan memanfaatkan waktu OR di hari krida. Arsip beritanya bisa dilihat di sini.

Nah, kalo sudah begini buat kita yang pegawai negeri sudah semestinya memanfaatkan hari Jum’at dengan aktifitas yang positif, kalo pun harus menggunakannya untuk kepentingan pribadi maka ingatlah batas-batasnya. Usahakan tetap memanfaatkan pagi harinya untuk berolahraga, karena OR itu penting untuk kesehatan. Selain itu jangan lupa kalo di tengah hari (bagi ummat Islam, laki-laki) ada perhelatan yang mesti selalu dihadiri yaitu Sholat Jum’at, so jangan lupa untuk mempersiapkan diri. Sebisa mungkin hadir tepat waktu, jangan abaikan khutbah Jum’at karena tanpa mengikutinya maka sia-sialah sholat Jum’at kita.

Semoga bermanfaat …

Sumber gambar :

  1. iis.dikreg47.com
  2. 3.bp.blogspot.com

4 thoughts on “Jum’at, Hari Ibadah Ummat Islam atau Hari Krida?

  1. kalo di tempat saya, jam kerja jam 07.30.
    Jam krida sampai jam 08.05. Terserah mau olahraga mulai jam berapa, yang penting jam 08.05 dah rapi siap bekerja..

    1. Itu bagus karena (mungkin) sesuai aturan main, kebanyakan mulainya jam 7.30 atau jam 8 tapi selesainya terserah yang penting setelah sholat Jum’at atau tepatnya jam 13 atau 13.30 sudah rapi … siap-siap (pulang) kerja

  2. Jum’ah adl hari rayanya Umat Islam. Mengapa ummat Islam kalah getol memperjuangkan syariahnya dibanding dgn Nasrani dan Yahudi. Hal ini menandakan keimanan ummat Islam masih dibawah ummat lain dalam meyakini agamanya, dmn orang Islam masih saja tdk mau istirahat (libur) di hari tsb. “Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli…” (QS. Al-Jumu’ah 62: 9), Orang Yahudi takut atas kutukan Allah karena mengabaikan perintah-Nya dari srt al QS Al-A’raf: 163: “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (di sekitarnya) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” Maka mereka tetapkan Sabtu sebagai hari vakansi.
    Sejarah libur vakansi hari minggu merupakan di Indonesia dan mayoritas negara non muslim di dunia yang berasal dari tradisi agama Romawi Kuno di Italia meliburkan hari Minggu bagi penganutnya. Sebab saat itu bangsa Romawi menguasai banyak Negara di Eropa dan berkembang menjajah banyak negara di dunia. Pengaruh kekuasaan Romawi sampai Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, sampai mendunia. Tradisi libur hari Minggu kemudian diterapkan oleh negara” jajahan Romawi tsb. Termasuk Belanda yang berikut Indonesia adalah sbg negara jajahan selama 350 tahun, sampai sekarang, tradisi libur di hari Minggu masih dipakai dan ditetapkan di Indonesia. Alasannya, selama 6 hari orang sudah bekerja keras dan perlu libur. Pemerintah Indonesia menetapkan hari Minggu sebagai libur Nasional, kemudian berupaya ummat Yahudipun mempengaruhi agar hari Sabtu juga sebagai hari istirahat.
    Bila kita mencari dasar perintah agama supaya tidak beraktifitas atau bekerja pada hari yang dimulyakan oleh Allah SWT, adalah srt al QS Al-A’raf: 163: “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (di sekitarnya) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.”
    Aqidah yang Allah tetapkan buat kaum Yahudi dan pelanggaran mereka, yaitu mereka dilarang bekerja pada hari Sabtu. Namun mereka memperdaya Allah SWT dalam bentuk hiyal dan makar ketika mereka dilarang mengambil ikan di hari Sabtu. Maka mereka memasang jaring (jala) di hari Jum’at dan mengambilnya setelah hari Sabtu. Pedahal larangan bekerja adalah meninggalkan segala bentuk perniagaan, mudah”an kefasikan mereka tsb tdk kita tiru.
    Allah SWT menerangkan kepada kita, agar kita menjauhinya. Hudzaifah ra berkata: “Dahulu para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, adapun aku bertanya kepadanya tentang kejelekan karena khawatir akan menimpaku.”

    Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    “Dan janganlah kalian campur adukkan yang haq dengan yang batil, dan janganlah kalian sembunyikan yang haq itu, sedang kalian mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 42)

    1. Saya sependapat, Mas. Meskipun tidak “perlu” meliburkan hari Jum’at karena sesuai perintah Allah supaya bertebaran di muka bumi untuk mencari rahmat-Nya sesudah sholat Jum’at yang berarti tidak “dilarang” bekerja di hari itu, bukan begitu Mas Ngalam?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s