4 Pola Pengasuhan Anak


Pagi ini saya menghadiri undangan dari TK-nya Fida. Agendanya : kajian psikologi dan rapat ortu murid. Saya hadir karena istri (ortu memang tidak harus diidentikkan dengan ibu, tapi umumnya di negara kita masih seperti itu) harus ngajar di bimbelnya pagi ini, sedang saya bisa ijin datang terlambat ke kantor (belum banyak pekerjaan di awal tahun). Kajian psikologi diisi oleh Ibu Fatma bertemakan “Pola Pengasuhan Anak”. Berikut ini saya tuliskan yang sempat saya catat. Semoga bermanfaat … tapi sebelumnya silakan isi kuisoner berikut, agar penilaian lebih obyektif tanpa membaca tulisannya terlebih dahulu.

Kuisoner Pola Pengasuhan Anak

Silakan download di sini. Setelah mengisi kuisoner, silakan Anda membaca tulisan berikutnya.

Pengantar

Cara ortu mengasuh anak biasanya dilakukan secara turun-temurun. Maksudnya cara pengasuhan diambil dari pengalaman saat kecil, dari ortunya dulu, diterapkan kepada anaknya. Tidak ada sekolah/kursus tentang pengasuhan anak (kecuali psikologi dan pendidikan tetapi tentu tidak spesifik) sehingga ortu mestin belajar dari banyak sumber, salah satunya dengan mengikuti kajian/seminar parenting. Banyak dari yang dilakukan ortu adalah keinginan ortu bukan keinginan atau kebutuhan anak.

4 Pola Pengasuhan Anak

  • Pola Otoriter

Ortu yang menerapkan pola ini biasanya mengedepankan keinginannya harus dituruti oleh anak. Segala sesuatu disikapi dengan kaku, tidak jarang dengan kemarahan (emosional) dan teriakan. Anak yang diasuh dengan pola ini biasanya mempunyai sifat dingin (tidak hangat/ceria), pasif (tidak ekspresif).

  • Pola Permisif

Pola yang satu ini biasanya longgar, tidak ada banyak aturan, mengikuti keinginan anak. Ortu tidak pernah menyalahkan anak, tidak ada penjelasan/dialog lebih lanjut tentang salah-benar, boleh-tidak boleh. Anak dengan pola ini biasanya tidak mandiri, manja, kurang daya juang, susah mendengar nasihat/perintah.

  • Pola Demokratis

Ortu demokratis biasanya mengotrol anak dengan dialog, menasihati dengan komunikasi dan penjelasan. Membuat aturan yang dispakati bersama, sehingga suasana keluarga hangat, penuh ungkapan sayang, pujian dan permintaan maaf. Anak dengan pola asuh ini biasanya mandiri, percaya diri, ceria, berwawasan lebih baik karena lebih eksploratif.

  • Pola Lepas Tangan

Pola terakhir adalah berasal dari keluarga yang mengalami kesulitan hidup, baik ekonomi maupun sosial. Ortu yang depresi atau broken home. Anaknya menjadi tidak punya orientasi, cenderung bebas, melambai dan sebagainya. Ortu tidak punya waktu untuk mengurus anak dengan serius, tidak ada aturan, nasihat.

To be continued …

Iklan

6 thoughts on “4 Pola Pengasuhan Anak

  1. saya sendiri sulit untuk memahami pola yang bagaimana yang saya terapkan, karena anak saya baru 3 tahun, selama ini kadang masih otoriter dibanding pola yang dilakukan istri saya, kadang saya juga terlalu lepas tangan dalam arti pembiaran untuk hal yang saya anggap biasa.
    Semoga kedepan bisa lebih baik saja

    1. Sudah coba kuisonernya, Mas? Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah kita dapat mengukur kebiasaan pola asuh kita, menurut bu Fatma memang tidak salah menerapkan pola yang mana saja tetapi mesti disesuaikan dengan usia anak dan situasi kondisi yang dihadapi. Saya sendiri masih terus belajar, mumpung anak-anak masih di usia emasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s