Mengambil Hikmah dari Semua Kejadian


Pekan kemarin saya berkesempatan mengikuti pelatihan Kriptografi Modern. Menarik, karena selain bisa melihat kembali almamater tercinta juga menyegarkan kembali pengetahuan yang dulu pernah dipelajari. Sayangnya, tidak banyak pengetahuan baru yang saya dapat dari pelatihan itu meskipun bukan berarti tidak ada yang sama sekali baru. Tulisan tentang kursus itu insya’Allah akan saya buat di page tersendiri yang lebih sesuai.

Ilmu itu Nilainya Tak Terhingga

Boleh dibaca: Investasi SDM itu mahal tetapi tanpa SDM tidak ada sistem yang akan bertahan. Untuk sementara sih, karena pertentangan ide tentang siapa yang akan memimpin dunia ini apakah manusia atau mesin masih hangat, setidaknya dari film-film fiksi ilmiah macam Matrix, game-game interaktif dan novel-novel teknologi. Satu sisi manusia dengan modal kecerdasan, kemauan, dan perasaannya mampu membuat mesin untuk meringakan beban manusia hingga ke hal-hal yang detil dan rumit (di mana manusia sudah tidak mampu melakukannnya sendiri), sementara di sisi lain mesin yang diciptakan manusia semakin hari semakin cerdas karena dilengkapi dengan artificial intelligent (AI) sehingga bisa menggantikan beberapa fungsi manusia termasuk sebagian pengambilan keputusan.

Nah lho, koq jadi ke sana-sana ya? Begitulah kalo punya pikiran yang gak dilatih berpikir teratur jadinya random mind. Back to the topic, saya sempat berbincang ringan dan santai dengan sesama peserta pelatihan di sela-sela waktu rehat. Tentang biaya untuk mendidik satu orang A**i S***i Tk.3 (D3), karena di antara mereka ada yang pernah mendapat tugas untuk mencari indeks per orangnya. Singkat cerita didapatlah angka lebih kurang 125 juta, jumlah yang tidak sedikit bukan. Itu pun belum  termasuk biaya yang dikonsumsi secara bersama-sama seperti akomodasi asrama dan lain-lain. Secara bodoh saya mencoba mengkalkulasi andai yang bersangkutan melanjutkan S1 dan S2 dengan beasiswa kantor, maka indeksnya bisa mencapai angka 250 juta. Sambil berkelakar saya bilang, bisa disebut The Half Billion Rupiahs Man dong …

Yah itu cuma hitung-hitungan matematis bodoh saja, yang lebih penting lagi adalah apakah setelah menghabiskan biaya sebesar itu yang bersangkutan akan memberikan tanggung jawab moralnya yang seimbang? Saya bilang moral di sini, karena bila yang diminta tanggung jawab material maka boleh jadi tidak akan lunas meskipun yang bersangkutan sudah pensiun. Meskipun sering kita mendengar tuntutan kerugian immaterial (moral) biasanya lebih besar nilainya dibanding kerugian materialnya. Apapun itu, sudah sewajarnya bagi setiap orang yang mendapatkan dukungan biaya dari institusinya untuk menuntut ilmu sampai mencapai gelar apapun, mendarma-baktikan ilmu dan pengalaman yang dimiliki untuk institusinya. Tentu juga untuk negara dan bangsa ini.

Saya sering mendengar bagaimana seseorang karena mendapat kesempatan menuntut ilmu bisa melancong ke luar negeri, bahkan menempuh S1, S2 dan S3 di luar negeri dengan beasiswa dinas. Selebihnya, saya tidak banyak mendengar orang-orang yang mendapat kesempatan seperti itu kemudian mengambil porsi yang penting di negeri ini memberikan sumbangsih yang besar bagi kemakmuran masyarakat luas. Kalo Anda ada cerita seperti itu mungkin bisa di-share di sini.

Kesehatan itu Nilainya Tak Terhingga

Sabtu malam sepulang dari arisan RT, saya menggigil kedinginan. Badan demam, saya pikir saya masuk angin biasa. Sebelum tidur saya minum jamu sachet-an. Paginya memang agak enteng, cuma badan rasanya nyeri-nyeri terutama di persendian. Istri tercinta menawarkan kerokan, obat mujarab masuk angin di keluarganya, karena ingin cepat sembuh saya terima tawarannya. Lumayan, sesudah itu bisa tidur pulas sampe lewat jam 9 pagi. Mumpung libur sih, kan gak perlu ke mana-mana. Tapi saya lupa, istri sudah menjanjikan kepada putri pertama kami untuk mengajaknya jalan-jalan ke pasar kaget membeli jas hujan Princess. Ya ya ya, selain karena ia ultah, jas hujannya terdahulu sobek di beberapa bagian sehingga perlu diganti. Jadilah dengan sedikit memaksakan diri saya mengantarkan mereka jalan-jalan …

Mencari dengan spek detil ternyata memang tidak mudah. Giliran ada, ukurannya untuk anak belasan tahun. Ketemu jas hujan Hello Kitty yang akhirnya disetujui putri kami, tapi masih ingin mencari ke tempat yang lain. Harapannya nanti bisa balik kalo gak dapat, ternyata sudah keduluan orang. Apa boleh buat akhirnya harus mencari di sisa-sisa pedagang yang mulai berbenah karena cuaca mendung. Tiba-tiba … bresssss, hujan seperti tumpah dituang dari langit. Untungnya saya sudah siap-siap jas hujan, sehingga kami tidak basah kuyup. Tetap saja istri meminta untuk menepi, mencari tempat berteduh yang lebih nyaman karena si kecil kami ajak juga. Jadilah saya kehujanan di atas motor, sementara istri dan anak-anak berteduh di depan sebuah ruko yang tutup. Mungkin karena ngantuk atau kesal tidak mendapatkan yang diingini, putri kami menangis sejadi-jadinya, minta pulang. Untung hujan deras itu cuma sebentar sehingga kami bisa segera melanjutkan perjalanan. Sambil jalan, istri saya membujuknya untuk membeli payung saja. Syukurlah ia mau dan akhirnya mendapatkan payung yang diinginkan.

Badan saya rasanya lemas sekali, sampai rumah langsung ganti baju yang kering trus rebahan karena rasanya mau pingsan. Sholat-sholat sesudah itu akhirnya harus saya kerjakan di rumah sendiri, padahal biasanya di musholla samping rumah. Semoga pahalanya tetap mengalir … tapi, malamnya sesudah sore saya dibawa istri ke klinik 24 jam langganan kami, tenggorokan saya rasanya perih sekali. Sakit, bahkan untuk menelan ludah sekalipun. Badan juga demam, jadi Senin saya putuskan untuk tidak masuk berharap badan bisa cepat pulih sehingga esok hari bisa kembali bekerja seperti sebelumnya. Bahkan penyembuhan butuh proses, hingga hari ini pun tenggorokan saya masih sakit. Begitu menyiksa terutama saat menelan makanan, sampe-sampe saya tidak habis makan meskipun istri sudah berusaha memasakkan sayur dan lauk yang tidak banyak minyak dan tidak pedas. Betul kata orang: Kesehatan itu Mahal Harganya ….

Memang sih, kalo dihitung-hitung biaya berobat saya selama beberapa hari ini tidak terlalu mahal, itu karena kami punya cadangan uang bagaimana dengan yang tidak? Buat saya kesehatan itu nilainya tak terhingga, ya karena ketika kesehatan itu direnggut oleh Empunya dari kita maka tidak ada lagi yang nikmat di dunia ini. Tidur, gak nyenyak. Ngobrol, susah. Makan, gak ketelen padahal di kantor lagi banyak makanan. Mandi, kedinginan. Sholat pun, gak asyik banget jadinya. Subhanallah, nikmatnya sesuatu memang lebih berasa saat kita kehilangan itu …

To be continued … (saya sering nulis ini dan sering tidak berlanjut, kenapa koq masih nulis ini terus ya?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s