Jalan-jalan ke Pasar Pagi Jakarta Kota


Hari Ahad seperti pernah saya tuliskan di sini, memang tidak selalu identik dengan bersantai di rumah. Seperti Ahad kemarin, saya mengantar istri (jalan-jalan dan) belanja hadiah untuk doorprize bimbelnya. Lokasi tujuan : Pasar Pagi Jakarta Kota.

Berangkat pagi dengan KRL

Moda transportasi yang kami pilih (karena mengajak anak-anak dan mode penghematan on) adalah KRL. Biaya dari Depok ke Kota hanya Rp 2000,- (sangat murah bukan). Entah kenapa istri memutuskan untuk naik yang ekonomi bukan AC ekonomi seperti biasanya, mungkin karena pengalaman terakhir menggunakan KRL AC ekonomi tidak lebih nyaman dibanding naik KRL ekonomi karena sama-sama berjejal (berdesak-desakan). Berangkat jam 9, motor kami titipkan di penitipan motor di dekat stasiun Depok Baru. Beberapa menit menunggu, 2 buah KRL dimaksud datang dalam waktu hampir berbarengan jadi kami memilih kereta kedua karena alasan kepadatan penumpang.

Hampir satu jam, akhirnya kami sampai di stasiun Kota. Selama perjalanan putra-putri kami tampaknya begitu menikmati pemandangan di sepanjang rel kereta padahal yang dilihat tidak melulu keindahan kota lengkap dengan mobil-mobil mewah (yang begitu dinikmati Faqih) tetapi terkadang juga pemukiman kumuh yang tidak layak huni (tapi tetap menarik buat Fida dan Faqih). Keluar stasiun kami langsung menuju pasar pagi, berjalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh (mungkin sekitar 300 meter) melalui terowongan yang tembus di seberang jalan …

Keunikan Pasar Pagi

Sampailah kami di pasar pagi. Tidak tau dari mana asal nama itu, tapi menjelang tengah hari Pasar Pagi masih ramai, atau malah bertambah ramai. Walaupun menurut istri di hari Ahad tidak seramai hari-hari biasa karena sebagian besar kios permanen tutup, menyisakan kios-kios di bawah jalan layang/rel kereta. Bermacam-macam barang dijual di sana, tapi sepanjang penglihatan saya kebanyakan adalah barang impor China. Mulai dari aksesoris, mainan anak-anak, ATK, tas, sandal/sepatu, payung/jas hujan, suvenir pernikahan, hingga peralatan rumah tangga. Yang menarik tentu di sini harganya jauh lebih miring dibanding toko-toko atau mall. Biasanya yang belanja di sini adalah pedagang, meskipun tidak sedikit pembeli eceran. Yang kurang menarik adalah jaraknya yang jauh dari rumah, he he he … harga murah mesti dibayar dengan capek di jalan. Tapi gak rugi koq, apalagi yang suka jalan-jalan, bisa saja mampir ke beberapa lokasi wisata di Kota Tua seperti Museum Fatahillah.

Sayangnya kemarin putri kami mengajak langsung pulang setelah barang-barang yang dicari istri sudah didapat. Bukan tanpa sebab karena sehari sebelumnya, Fida habis outbond (kegiatan ekskul sekolahnya) jadi badannya masih capek dan pegal-pegal (tentang outbond Fida, kapan-kapan saya akan tuliskan insya’Allah). Saya pun harus mengalah setiap kali Fida minta gendong, padahal beratnya mungkin sudah 18-an kg sekarang. Sudah besar tapi masih suka gendong, ya tak apa lah namanya juga anak-anak. Jadi inget lagu ‘Tak Gendong’-nya Mbah Surip he he he …

Stasiun Jakarta Kota

Waktu sampai sebelumnya kami tidak sempat berhenti di stasiun karena ingin segera sampai di pasar, tapi pulangnya kami sempatkan beristirahat sejenak di stasiun. Sambil menunggu KRL tujuan Bogor, istri saya menyempatkan untuk menyuapi Faqih. Saya iseng-iseng aja jeprat-jepret mencari gambar yang mungkin bisa dikirim ke kontes foto Pemprov DKI. He he he, sesekali ambil foto anak-anak yang kelihatannya begitu senang berada di tempat yang lega dan megah ini. Cheesee …

Stasiun Jakarta Kota +4 M, luar biasa megah. Tidak seperti stasiun-stasiun kereta yang pernah saya temui. Stasiun ini mirip stasiun di negara-negara Eropa walau mungkin ketinggalan beberapa dekade bila dilihat dari sisi teknologinya. Beberapa saat menunggu, tanpa ada pengumuman KRL yang dinanti sudah tiba dan mulai dipenuhi penumpang. Buru-buru kami menuju kereta itu supaya kebagian tempat duduk, maklum bawa anak-anak yang sangat mungkin ketiduran di jalan karena kecapekan. Alhamdulillah masih ada kursi kosong sehingga kami bisa duduk, mungkin juga karena masih siang jadi penumpang tidak terlalu padat. Biasanya KRL padat di pagi dan sore hari, so aturlah waktu berangkat dan pulang Anda bila naik KRL sehingga terhindar dari kepadatan penumpang di waktu-waktu itu.

Beberapa foto keceriaan anak-anak kami selama perjalanan :

Benar saja belum sampai Stasiun Depok Baru, Fida sudah pulas sedangkan Faqih rewel minta turun (mungkin karena sudah kelaparan dan kecapekan). Kasihan anak-anak, tapi sampai di rumah ternyata mereka kembali segar dan akhirnya tertidur pulas sesudah makan siang. Bahagianya … alhamdulillah.

Iklan

12 thoughts on “Jalan-jalan ke Pasar Pagi Jakarta Kota

  1. saya kemaren baru aja dari Pecenongan mas, 3 hari wah asyik ya, cuma saya hanya mengunjungi pasar baru aja itupun sudah malam jadi ga sempat jalan2.

    Bisa jadi referensi saya kalo ada kesempatan ke Jakarta lagi nih

    1. Saya malah belum pernah ke Passer Baroe, padahal kalo malam katanya suasana mirip di Hongkong … banyak yang jualan makanan dengan tenda menutupi jalanan.
      Silakan Mas, semoga kunjungan berikutnya lebih berkesan, kalo sempat mampir juga ke Margonda Depok.

  2. saya cuma sekali aja lewat pasar pagi itu. tujuan utama sih biasanya ke Harco Mangga Dua ya. hehe. sumpek ah sekarang, stress berat di jalan. mending belanjanya di Bekasi atau Depok aja deh sekarang 😀

  3. mau tanya mas,pasar pagi itu letaknya 300 meter arah mangga dua atau arah ke mana bila kita dari stasiun kota,trims sblmnya

  4. ke pasar pagi belum lengkap kalo belum belanja ke toko LEVEL…Lt.5 blok B/56….mariiiii belanja,jalan2 ke ancol aja ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s