Saya, Internet dan Gaya Hidup: Kenali, Manfaatkan tapi Kendalikan.


Saya dan Anda saat ini sedang menggunakan internet, benar bukan? Sudahkah Anda merasa tidak nyaman bila sehari saja tidak membuka e-mail? Atau tidak meng-update status Facebook dan Twitter? Ataukah Anda selalu online karena toko Anda buka 24 jam? Mungkin Anda termasuk orang yang suka berjam-jam di depan layar komputer atau standby dengan Blackberry yang selalu online? Mungkin Anda adalah internetter sejati. Saya bukan penggila internet, setidaknya ‘belum’ walaupun gejalanya sudah mulai muncul, tapi tidak bisa dipungkiri saya sudah ‘terikat’ dengannya. Berikut ide dan pengalaman saya seputar internet.

Saya Mengenal Internet

Saya mulai mengenal internet selepas SMA, tepatnya saat mulai duduk di bangku kuliah. Waktu itu tahun 90-an akhir, internet masih menjadi benda asing buat saya. Saya ingat, ketika saya berkunjung ke teman-teman yang nge-kos di Bogor (karena kuliah di IPB) sering mendengar istilah-istilah baru seperti browsing, e-mail, search engine dan lain-lain. Bahkan beberapa teman saya sempat mengambil kursus internet dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Wah, internet ini ‘hewan’ apa sih? Untunglah, di kampus saya mendapatkan ‘kursus gratis’ karena ada mata kuliah yang dosennya lebih senang praktik di laboratorium komputer. Walaupun belum mahir benar menggunakan internet, sedikit demi sedikit saya mulai ‘terikat’ dengannya. Aktifitas pertama saya di dunia maya ini adalah membuat akun e-mail, he he he supaya bisa bertukar kabar dengan teman-teman sekolah. Waktu itu belum banyak yang saya dapat dari internet, kecuali untuk korespondensi melalui e-mail tentu.

Saya mungkin termasuk yang lambat berinteraksi dengan teknologi informasi (TI) seperti internet, bahkan ketika menyusun tugas akhir pun saya tidak menggunakan satu pun referensi dari internet. Maklumlah karena pengalaman dan pengetahuan saya minim tentang internet, saya belum menganggapnya sebagai media yang pas untuk mencari referensi. Padahal beberapa teman saya sudah sibuk bolak-balik ke warnet untuk urusan mencari referensi ini. Saya lupa persisnya kapan saya mulai paham bagaimana menggunakan internet untuk berbagai kebutuhan selain e-mail, tapi seingat saya bahkan ketika sudah lulus kuliah saya masih belajar tentang search engine dengan seorang teman yang terbiasa ber-internet. Saya jadi teringat kejadian lucu ketika saya masih kuliah, beberapa teman yang suka sekali browsing mendapat hukuman disiplin dari dosen karena ‘berani’ meng-akses situs-situs X-rated hi hi hi … Tahu rasa mereka, disuruh membersihkan laboratorium komputer sebagai hukuman.

Saya Membuat Blog AdSense

Saya sedikit sekali mengetahui perkembangan internet waktu awal bekerja, sampai suatu ketika seorang teman mengenalkan istilah baru yang belum pernah saya dengar sebelumnya, blog. Waduh, ‘hewan’ apa lagi ini? Meskipun saya dijelaskan panjang lebar olehnya, tetap saja saya tidak bisa memahami wujud sesungguhnya blog hingga seorang rekan senior di kantor mengenalkan istilah adsense. Mulailah saya mencari tahu tentang blog dan adsense, lebih karena embel-embel bisa mendapatkan duit darinya. Akhirnya dengan semangat dan prinsip ekonomi itulah saya membuat blog pertama kali sekaligus menjadikannya sebagai media adsense saya. Tanpa pemahaman tentang berbagai teknik SEO (search engine optimizer) dan esensi blog (weblog), jadilah blog perdana saya bertemakan portal informasi pariwisata di Indonesia. Saya menggunakan Blogspot waktu itu dan blog saya lebih banyak hasil copas (copy and paste) dari Wikipedia. Ehem, blogger newbie … mohon dimaafkan.

Ternyata tidak mudah membuat sebuah blog untuk mendapatkan uang dari adsense-nya. Sudah berapa bulan saya jalani, bahkan sempat ‘belajar’ dari situs Anne Ahira lewat ‘program-program gratis’-nya, tidak membuat dollar mengalir ke akun adsense saya. Modal dengkul sih … Bahkan hingga hari ini akun saya hanya berhasil mengumpulkan beberapa dollar saja, akhirnya saya memutuskan untuk menutup blog adsense saya. Hik hik hik … dan mulailah saya beralih dengan blog lain yang lebih ‘politis’ dari sekedar mendapatkan uang hingga sekarang.

Internet dan Pekerjaan Kantor

Suatu kebetulan karena koneksi internet menjadi fasilitas yang disediakan kantor saya. Selain menjadi media untuk saya pribadi berkomunikasi dengan teman-teman dan keluarga, internet juga sangat membantu pekerjaan kantor. Saya bekerja di bagian yang merencanakan program dan anggaran kantor, karenanya salah satu tugas rutin saya adalah mencari referensi harga barang dan jasa yang dibutuhkan kantor. Internet menjadi media andalan untuk mencari perbandingan harga, selain untuk mencari informasi yang terkait dengan program dan kegiatan kantor.

Sayang waktu itu kantor saya belum memanfaatkan jaringan internal (intranet) dan sistem informasi manajemen (SIM) sehingga fungsi jaringan komputer yang sudah terpasang kurang maksimal dan terkesan sekedar untuk memberdayakan sumber daya komputasi atau sarana ber-internet. Fungsi internet pun menjadi kurang maksimal bahkan ada oknum pegawai yang memanfaatkannya sebagai sarana mendapatkan keuntungan pribadi meskipun tidak selalu berujung komersial seperti untuk men-download (mengunduh) film, komik dan game. Juga menjadi media nge-rumpi buat sebagian pegawai yang tidak bisa lepas dari chatting terlebih ketika social networking seperti Friendster menjadi hal yang mulai digandrungi.

Internet menjadi Teman Kuliah Saya

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI). Sebagai kampus yang menjadi barometer penggunaan TI di Indonesia, UI sudah secara luas menggunakan internet sebagai sarana pendukung operasionalnya baik administratif maupun akademik. Ketika saya mendaftar, UI sudah menerapkan pendaftaran mahasiswa online lengkap dengan transaksi realtime melalui ATM. Saya baru pertama kali menggunakan metode ini termasuk ketika harus mentransfer biaya pendaftaran melalui ATM, dan ternyata tidak sulit koq. Administrasinya menjadi lebih ringkas, praktis dan bebas KKN. Salah satu keuntungan internet yang terhubung dengan SIM spesifik.

Setelah lolos seleksi, saya resmi menjadi mahasiswa UI. Yang pertama saya lakukan adalah registrasi akademik. SIAK-NG online, dengannya saya cukup memilih mata kuliah yang hendak saya ambil di semester awal melalui internet (jaringan umum) atau jaringan lokal UI dan menunggu persetujuan pembimbing akademik tanpa harus bertemu langsung dengannya. Sungguh memudahkan mahasiswa. SIAK-NG selain digunakan untuk membuat IRS (rencana studi) juga digunakan untuk mencantumkan hasil evaluasi semester, jadwal perkuliahan, pendaftaran dan bimbingan tugas akhir serta sebagai media konsultasi mahasiswa dengan PA dan evaluasi pengajaran dosen mata kuliah. Walaupun sudah cukup lengkap, SIAK-NG masih didukung dengan beberapa SIM akademik seperti Scelle dan Symfony (khususnya untuk Fakultas Teknik).

Di UI hotspot bisa ditemui hampir di setiap sudut kampus. Walaupun belum ter-cover secara sempurna mahasiswa secara leluasa bisa menggunakan koneksi internet di manapun berada ketika dibutuhkan. Mekanisme registrasi laptop atau mobile device ke Pusat Administrasi UI (PAUI) dan teknik Single Sign-On (SSO) cukup untuk mengontrol penggunaan koneksi internet oleh mahasiswa. Perpustakaan UI dan Fakultas juga menyediakan akses bebas (free of charge) ke beberapa source referensi sehingga mahasiswa mendapat kemudahan untuk mencari referensi yang dibutuhkan. IEEE misalnya telah menjalin kerjasama terbatas dengan Perpustakaan Pusat UI sehingga mahasiswa dapat mengunduh referensi tertentu secara bebas. Koneksi internet yang hampir tak terputus sepanjang tahun (12 bulan, 24 jam) menjadi ‘surga’ bagi mahasiswa karena aksesnya pun tidak dibatasi sehingga bisa digunakan untuk kepentingan pribadi, meskipun kualitas koneksi dan besar bandwidth sering belum memuaskan.

Kondisi ini cukup membantu saya menjalani studi, bahkan untuk masalah referensi lebih banyak yang saya kumpulkan dibanding yang saya baca dan gunakan. Benar-benar kurang efisien, tapi sepertinya tidak sedikit mahasiswa yang berlaku sama lagi-lagi karena koneksi internet hampir tak terbatas dan gratis. Saya sempat terpikir tentang bagaimana mengefisienkan penggunaan referensi ini dengan sebuah database, walaupun berarti kebutuhan media penyimpanan data yang cukup besar tetapi akan mengurangi beban koneksi dan waktu akses mahasiswa. Ya itu cuma sekedar ide, termasuk tentang mesin semacam booth yang berfungsi untuk menggandakan referensi dalam CD dengan membayar sejumlah uang koin.

Internet : Peluang dan Tantangan

Sudah jamak bagi kita, internet menawarkan begitu banyak informasi dan kemudahan. Berbagai sumber ilmu pengetahuan, teknologi dan wawasan bisa diakses melalui internet, juga berita aktual bahkan gosip. Internet ibarat jendela yang menghubungkan kita dengan dunia luar yang sangat luas, dan memang itulah prinsip internet : globalisasi. Sebagaimana ide awalnya, menghubungkan sebanyak-banyak komputer di dunia sehingga tidak ada lagi batas jarak dan waktu, bahkan batasan wilayah dan negara. Semuanya seperti berada tepat di luar jendela rumah kita, bisa diakses kapan pun kita mau.

Internet dengan sifat tanpa batasnya menjadi peluang bagi setiap penggunanya untuk memperoleh apapun yang ia inginkan, mulai dari yang berbayar hingga yang gratis. Demikian pula sebaliknya, pengguna juga bisa mengambil manfaat dari kebutuhan pengguna lain, mulai dari barang hingga jasa. Sekarang internet sudah menjadi media bagi pasar internasional. Pengembangan pasar dan perbankan elektronik merupakan keniscayaan dan akan semakin meluas penggunaannya di masa datang. Internet adalah media yang paling murah untuk berbagai kebutuhan bisnis, mulai dari marketing, transaksi hingga rekrutmen pegawai. Bisnis online sebagai alternatif bisnis konvensional pun menjamur, setiap orang bahkan yang tidak punya banyak modal dan sumber daya pun bisa berbisnis di internet.

Di lain sisi, keterbukaan internet menjadikannya media yang paling sulit dikontrol. Tidak hanya terbuka untuk ‘bisnis putih’, internet juga menjadi media bagi ‘bisnis hitam’ dan berbagai tindak kriminalitas. Sebut saja situs khusus dewasa (X-rated) yang selalu menjadi perbincangan hangat di media tanah air. Tidak sedikit usaha pemerintah untuk menertibkannya sehingga tidak merugikan masyarakat luas terutama anak-anak dan remaja, namun demikian agaknya usaha tersebut tidak cukup karena selalu saja ada celah dari setiap usaha ‘pemblokiran’. Internet juga menjadi media subur praktik kriminalitas mulai dari pelacuran terselubung, perdagangan ilegal, plagiarisme, pemalsuan hingga penipuan. Karenanya perlu kearifan dari setiap pengguna sehingga terhindar dari kerawanan-kerawanan di atas. Salah satunya dengan internetsehat.

Internet : Pilihan Gaya Hidup

Sebagai media elektronik terbesar, internet membawa efek yang sama seperti media massa yang lain yaitu menjadi barometer gaya hidup. Melalui internet media massa mampu menggabungkan semua model dan tipe informasi sehingga mampu menggantikan model media massa yang lain. Konvergensi media akan diikuti dengan konvergensi teknologi telekomunikasi. Sehingga ke depan, setiap informasi yang melalui sarana telekomunikasi apapun terhubung dengan internet sebagai backbone media-nya. Karenanya tidak keliru bila internet menawarkan berbagai pilihan gaya hidup bagi penggunanya.

Saat ini begitu mudah mendapatkan akses ke internet. Berbagai piranti elektronik dan telekomunikasi telah menyediakan interface yang menjamin pengguna melakukan koneksi darinya. Mulai dari netbook, berbagai tab, smartphone, bahkan handphone paling sederhana. Provider telekomunikasi begitu memanjakan pengguna untuk bisa mengakses internet setiap saat. Hal ini ditambah dengan menjamurnya berbagai layanan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Tiada hari bagi pengguna gadget tanpa internet. E-lifestyle tampaknya merupakan kebutuhan yang tidak terelakkan lagi.

Banyak aktifitas yang berubah semenjak e-lifestyle ini merebak. Dulu orang membeli koran atau majalah, sekarang mereka cukup membuka situsnya. Dahulu orang belanja ke toko atau via telepon, sekarang klik-klik maka barang akan datang langsung di depan pintu mereka. Dulu orang bertelepon, berkunjung dan makan malam, sekarang orang e-mail, chat, voice-chat, video-chat, baru makan malam. Penggunaan internet membuat orang semakin jarang berinteraksi dengan orang lain, orang semakin sibuk dengan komunitas di dunia maya ketimbang tetangga rumahnya. Buat saya gaya hidup yang kurang sehat … karena kita manusia, bukan robot.

Namun demikian, walaupun begitu banyak perubahan gaya hidup yang diakibatkan oleh internet tetapi sudah semestinya kita kembalikan teknologi ini ke tujuan awal dikembangkan : meringankan beban manusia (sama dengan tujuan pesawat umumnya, masih ingat pelajaran IPA SD kan?). Tidak heran kini tren e-lifestyle adalah back to nature, green technology, dan lain-lain yang sejenis. So, bagaimana dengan Anda?

Ditulis untuk mengikuti kompetisi blog Bhinneka.com

Sumber foto/gambar :

  1. http://www.antarafoto.com/spektrum/v1279872018/mengenal-internet
  2. http://4.bp.blogspot.com/_b3pV9dyiZ3I/TCj3Fum3zRI/AAAAAAAABYk/6UYPwo2G99U/s1600/blog-adsense.jpg
  3. http://www.tulalipbroadband.com/small_office_internet.aspx
  4. http://fit.uii.ac.id/berita-fakultas/wajah-hall-fti-uii-diperbaruhi-anjungan-komputer-juga-baru.html
  5. http://www.designzzz.com/good-and-bad-factors-that-affect-your-website/
  6. http://ictwatch.com/internetsehat/
  7. http://politikana.com/baca/2010/11/11/copas-hilangnya-hak-warga-negara-di-ruu-konvergensi-telematika.html
  8. http://elifestyle.it/archivio-e-lifestyle/
Iklan

3 thoughts on “Saya, Internet dan Gaya Hidup: Kenali, Manfaatkan tapi Kendalikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s