Ahad Kelabu … Astaghfirullahal ‘adzhim!


Sebagai ungkapan kesedihan atas tragedi yang terjadi di Cikeusik, Pandeglang, Ahad 6 Februari 2011. Sudah semestinya sesama makhluk Allah SWT menyesal atas yang telah terjadi …

Waktu itu saya kelas 1 atau 2 SMA, di lingkungan kami sering terjadi pencurian. Sampai-sampai saya sering diajak Ayah saya untuk ronda malam, di rumah kami sendiri. Hingga suatu malam …

“Maliiiiing, hajar!” “Maling sialan, kamu mo nyuri lagi kan?”, bak buk … bak buk … seorang yang tadinya tiduran di serambi masjid sekarang jadi bulan-bulanan massa. Massa yang kalap, dendam dengan pencuri yang merongrong kampung. Tanpa ampun, belasan pukulan bersarang di tubuhnya, terhuyung-huyung … beberapa tendangan dan pukulan benda keras pun kembali dilancarkan, seperti tak cukup. Sampai akhirnya seorang polisi menghentikan kekerasan itu, ia menarik ‘maling’ itu dari kerumunan massa. Polisi itu lalu mengamankannya ke halaman rumah kami, massa pun tenang … teriakan-teriakan masih terdengar tapi beberapa saat kemudian hening.

Saya dekat sekali dengan kerumunan itu, saya diam … terpaku dan tidak bisa berbuat apa-apa. Saya sedih, marah … tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin saya takut, takut terhadap keberingasan massa yang kalap. Takut, bahkan ketika jiwa manusia terancam di depan mata saya.

Seperti polisi-polisi yang saya lihat di Cikeusik dari video itu di youtube, cuma bisa ‘melarang’ tapi tidak kuasa ‘menyelamatkan’. Meski cuma 1 menit-an, video itu begitu jelas ‘menceritakan’ kondisi yang dialami kedua ‘korban’. Keberingasan massa, telah merenggut nyawa mereka. Saya sedih, bagaimana mungkin massa yang masih manusia juga seperti korban yang mereka ‘habisi’ bisa melakukan hal sekeji itu. Dan bahkan hukuman mati pun tetap menjaga perikemanusiaan, bukan begitu? Ini memang bukan kejadian pertama, sering saya dengar di media massa tentang kekerasan berujung kematian seperti ini di tanah air kita tercinta. Tapi yang ini, menyadarkan saya kembali untuk ber-‘istighfar’, betul … kembali pada Sang Khalik memohon ampunan dari-Nya, atas darah yang tumpah di bumi Allah …

Saya berpikir, apakah harus seperti itu? Apakah tidak ada jalan yang lebih ‘adil’, beradab, dan mendidik? Yang terakhir ini sangat penting, bukan apa-apa tapi boleh jadi akan kita sesali di usia tua kita. Kejadian ini adalah ‘pendidikan yang salah’ untuk kita, untuk keluarga kita, untuk anak-cucu kita. Bila kejadian ini tidak ditindak dengan adil dan tegas maka kita telah memberikan pendidikan buruk untuk generasi kita di masa datang. Jangan bertanya kenapa anak-anak kita suka dengan film dan game berbau kekerasan, kenapa remaja-remaja kita suka tawuran. Karena kita, orangtua mereka, telah memberi contoh buruk dan kita gagal menjelaskan kepada mereka bahwa tindakan ini adalah tindakan yang keliru. Saya berjanji dalam hati, anak-anak saya tidak boleh tertular ‘virus’ ini. Tapi bagaimana caranya? Sedangkan lingkungan sekarang memang keras …

Tentang pertentangan keyakinan berujung ‘pembunuhan’ ini, jangan tanya siapa yang salah. Pelaku kekerasan apapun bentuknya dan kepada siapapun mesti bertanggung jawab, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Karena keluarga ‘korban’ akan menuntut, karena SangPencipta ‘korban’ juga akan menuntut. Tapi lebih penting memikirkan bagaimana mencegah kejadian ini terulang, dan ini bukan perkara mudah. Adalah tanggung jawab besar bagi ‘penguasa’ untuk mengatur kehidupan rakyatnya, juga melindungi mereka dari penindasan dan ketidakadilan. Bukan berarti rakyat tidak punya tanggung jawab yang sama, karena pemimpin lahir dari rakyat. Rakyat yang baik akan memunculkan pemimpin yang baik pula, maka jangan berharap pemimpin yang adil sedangkan kita tidak mau berlaku adil.

Suatu ketika, Rasulullah SAW berdakwah ke Thoif, kota dingin sekitar 80 km selatan Mekkah. Bersama salah satu sahabatnya, Zaid bin Haritsah, beliau mengajak penduduk Thoif untuk mengesakan Allah dan mengakui kerasulan beliau. 1 bulan penuh beliau tinggal di kota kecil itu, namun yang beliau dapat sungguh memedihkan. Para tokoh kota itu menolak melindungi beliau, bahkan mengusirnya, mengganggu beliau dengan gangguan yang sangat parah, menghina beliau dengan penghinaan yang tak bisa dipikul oleh hati siapapun. Bahkan saat beliau meninggalkan kota itu, mereka mengerahkan anak-anak dan budak-budak untuk berbaris di kedua tepi sepanjang jalanan kota Thoif untuk melempari beliau dengan batu. Zaid berusaha keras melindungi beliau dari lemparan-lemparan batu hingga kepalanya bocor berdarah. Nabi sendiri kakinya bengkak-bengkak berdarah akibat lemparan itu. Akhirnya terpaksa Nabi berlindung di salah satu perkebunan di Thoif, yang ternyata kebetulan milik salah satu tokoh Makkah, Utbah bin Rabi’ah. Di bawah sebuah pohon, seraya bersandar, Nabi berdoa lirih : “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengeluh atas lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya usaha dakwahku..kepada siapa Engkau akan menyerahkanku? Apakah kepada musuh yang menyerangku?…Namun jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli, hanya saja kasih sayang-Mu lebih luas bagiku.. Hanya pada Engkau tempat bernaung hingga Engkau ridho, tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin-Mu”. Saat itulah, datang malaikat penjaga gunung, dan menawarkan beliau untuk menimpakan pada penduduk Thoif sebuah gunung besar. Tetapi beliau menjawab :” Tidak, aku berharap dari keturunan mereka nanti akan muncul generasi yang mengesakan Allah”.

Ya Allah, apakah aku mampu mencontoh Rasul-Mu? Bahkan mencontoh Zaid pun, aku belum sanggup. Ya Allah, kuatkanlah hamba-Mu ini, agar mampu menegakkan keadilan di muka bumi. Menyerukan kebesaran-Mu bersama hamba-hamba-Mu yang berserah diri …

Pasukan kaum Muslimin terus marangsek masuk membanjiri Mekkah. Rasulullah SAW berada di atas untanya, berserban hijau tua, dengan menundukkan kepala dan sikap khusyu kepada Allah SWT. Di atas punggung untanya beliau duduk dengan badan membongkok tampak sangat merendahkan diri sehingga janggut beliau hampir menyentuh punggung untanya. Iring-iringan pasukan tersebut terus bergerak mau menuju jantung kota suci Mekkah. Pemimpinnya yang rendah hati dan berbaju besi andaikan mau memberikan isyarat atau perintah serbu yang dinanti-nantikan oleh pasukannya, maka sanggup membersihkan apa pun yang ada di Mekkah. Pada hari itu Beliau memasuki Mekkah sebagai pemenang, bukan lagi buronan. Kemuliaan besar yang dijanjikan Allah SWT ini membuat Beliau semakin bersyukur dan semakin khusyu membongkok dan menunduk di atas punggung untanya, beliau lalu berkata : “Hari ini hari Ka’bah harus dihormati, hari ini orang-orang Quraisy dimuliakan Allah! Kepada pasukannya Beliau SAW memerintahkan jangan menyerang kecuali diserang lebih dulu. Setelah itu masuklah semua regu dari semua penjuru Mekkah. Mekkah pun takluk tanpa perlawanan dan agama Allah SWT menguasai seluruh pelosok kota dan orang memasukinya berbondong-bondong. Rasulullah SAW menuju Baitullah, Ka’bah, dan lalu thowaf, lalu menghancurkan berhala-berhala dan patung-patung yang terdapat di sekitar Ka’bah. “…Kebenaran tiba dan lenyaplah kebatilan! Sesungguhnyalah, bahwa kebatilan pasti lenyap.” (QS Al Isra : 81) Beliau kemudian mengucapkan pujian ke hadirat Allah SWT dan berkata : “Tiada Tuhan selain Allah, yang telah memenuhi janji-Nya, dan telah menolong hamba-NYA dan telah pula mengalahkan pasukan Ahzab! Hai orang-orang Quraisy, menurut pendapat kalian, tindakan apa yang hendak kuambil terhadap kalian?” Mereka menyahut serentak :“Tentu yang baik-baik! Hai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia.” Beliau lalu berkata ; “Kukatakan kepada kalian apa yang dahulu pernah dikatakan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya ; Tak ada hukuman apa pun terhadap kalian. Pergilah kalian semua! Kalian semua bebas!” Setelah orang-orang Quraisy bubar dan mendapatkan putusannya, Bilal naik ke atas Ka’bah mengumandangkan adzan. Kalimat-kalimat agung kemenangan tersebut membahana membelah angkasa di atas kota Mekkah menambah iman orang-orang yang beriman dan menyebarkan takut di hati setan-setan sehingga melarikan diri. Allahu Akbar…Allahu Akbar…! Pada hari itu semua penduduk Mekkah memeluk Islam, walau pun ada sebagian dari mereka yang masih ragu. Peristiwa tersebut terjadi di bulan Ramadhan, dan Beliau SAW tinggal di Mekkah setelah itu selama sebulan. Lima belas hari beliau tidak berpuasa dan melakukan shalat Qashar. Futuh Makkah atau penaklukan kota Mekkah adalah kemenangan gemilang dan besar untuk kaum Muslimin.

Clean sheet, genius! Tidak ada korban jiwa, bahkan ketika sebelumnya di kota itu kaum muslimun mendapat siksaan yang berat dari kaum kafir. Karena di dalam hati mereka ada iman, yang lebih besar dari dendam mereka bahkan telah menghapusnya dan menggantinya dengan kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin). Inilah sebaik-baik contoh, kekuatan jumlah adalah untuk menundukkan bukan untuk menghancurkan … Wallahu a’lam bish showab.

Sumber Shiroh Nabawiyah :

  1. http://biografinabi.blogspot.com/2010/03/dakwah-ke-thoif-1.html
  2. http://arrahmah.com/index.php/blog/read/2364/futuh-makkah-kemenangan-besar-di-bulan-ramadhan

2 thoughts on “Ahad Kelabu … Astaghfirullahal ‘adzhim!

    1. Salam kenal juga Mas Alris, sukses selalu dan jangan bosen2 berkunjung. Link updated … sobat blogger bertambah lagi (semoga selalu sempat blogwalking ya 🙂 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s