Menjadi Praktisi Teknis atau Praktisi Manajemen?


Saya pernah menulis di blog ini tentang topik yang serupa : Kembali ke komunitas lama atau bergabung dengan komunitas baru? Nah, ternyata sejak saya diberikan pertanyaan itu dan akhirnya menyelesaikan tugas belajar (tubel), saya sering diberi pertanyaan : “Sekarang di mana?”, “Koq masih di situ terus sih?”, dsb ketika bertemu dengan teman-teman kantor. Dan lagi-lagi saya hanya bisa menjawab : “Belum kali, we’ll see …” atau sekedar senyum.

Dua kali atau lebih (saya lupa persisnya, tapi yang saya ingat sih dua kali), saya bertemu dengan seorang pejabat Eselon III di lingkungan kantor saya (seorang kasubdit) yang kebetulan pembimbing tugas akhir saya sewaktu pendidikan diploma dulu. Beliau bertanya hal yang sama, lalu mengajukan tawaran : “Bagaimana kalau gabung dengan unit saya?”. Yang terakhir kali malah saya diajak berdiskusi panjang lebar tentang kondisi kantor kami, tentang potensi rekan-rekan dan sikap yang beliau ambil. Beliau juga bercerita banyak tentang pengalaman selama bekerja, maklum beliau termasuk senior (malah beliau adalah senior SMA saya, hi hi hi tapi terpaut jauh sih). Saya hanya bisa menjawab : “Silakan Bu, saya siap-siap saja.” Dalam hati pertempuran terjadi antara menerima dan menolak, saya berusaha bersikap obyektif tapi banyak faktor yang sering membuat saya ragu-ragu dalam melangkah. Dalam kesempatan itu kemudian saya bertanya :

“Apakah saya lebih baik pindah ke unit teknis atau tetap bertahan di unit manajemen?”

Manajemen di sini mungkin lebih banyak berarti administrasi, karena saya masih staf walaupun setiap PNS mempunyai jabatan tertentu.

Beliau memberikan masukan, tidak masalah apakah berada di unit teknis atau di manajemen karena yang terpenting adalah bertanggung jawab terhadap profesi yang dijalani (profesional maksudnya). Menjaga integritas profesional dan integritas pribadi, pilihan yang tidak mudah bahkan untuk pejabat yang sudah memiliki power untuk mengambil kebijakan sekalipun. Sebagai seorang yang dibekali ilmu dan wawasan teknis melalui tubel, saya sadar bahwa sudah sepantasnya saya menjaganya dengan mengaplikasikan segala yang saya dapat untuk kantor saya. Inilah bentuk pertanggungjawaban moral bagi siapapun yang telah diberi kesempatan oleh institusi untuk menuntut ilmu melalui tubel. Termasuk saya, tidak sepantasnya meninggalkan kompetensi teknisnya ‘hanya’ karena telah duduk di jabatan struktural yang tidak terkait dengan kompetensi teknis tersebut.

Pertanyaan saya di atas muncul sebagai konsekuensi logis dari kedua pilihan. Dalam persepsi saya, ketika seseorang telah memilih jalur praktisi teknis maka ia tidak akan lagi mengambil peran dalam pengambilan kebijakan karena itu menjadi ranah praktisi manajemen. Padahal kalo dilihat dari peraturannya, bahkan untuk unit teknis sekalipun memiliki kewenangan dalam perumusan kebijakan yang terkait dengan bidangnya. Nah, padahal kalo saya perhatikan, di sinilah kelemahan sistem yang ada di kantor saya : kebijakan teknis dan regulasi terkait dengan bidang teknis. So, mungkin ini adalah clue-nya. Saya mesti mempertajam kompetensi teknis saya supaya ketika berada di unit teknis mampu merumuskan suatu kebijakan terkait bidang teknis saya. Why not?

Ketika saya kembali dari tubel beberapa bulan lalu, saya langsung dilibatkan dengan kegiatan rutin unit saya yang lebih banyak berhubungan dengan administrasi. Hal ini dengan kesadaran penuh telah melalaikan saya dari kebiasaan selama tubel yaitu menggali ilmu dan wawasan teknis sehingga sekarang pun saya sudah mulai ‘malas’ berhubungan dengan hal-hal teknis tersebut. Sungguh jebakan ‘zona aman’ …, sampai-sampai saya berpikir untuk mulai belajar manajemen agar bisa merumuskan kebijakan bidang manajemen khususnya untuk unit saya. Belajar dan paham manajemen memang penting bahkan untuk seorang staf di unit teknis sekalipun, karenanya mungkin niatan saya itu akan tetap saya wujudkan meskipun ketika suatu saat nanti saya dirotasi ke unit teknis. Insya’Allah bermanfaat, tapi saya mesti belajar dari mana ya? Kuliah magister manajemen saat ini bukan pilihan terbaik, karena selain baru selesai tubel saya masih punya beberapa tanggungan lain selain perhatian kepada anak-anak dan istri yang sedikit banyak berkurang selama saya tubel. Semoga ada jalan lain yang bisa saya tempuh, ya Allah mudahkan urusan hamba-Mu ini … aamiin.

Mungkin ada di antara Anda yang mengalami hal serupa, mungkin bisa berbagi dengan saya. Atau juga buat Anda yang memahami proses belajar mandiri (otodidak), boleh dong bagi-bagi ilmunya. Terima kasih.

Source definisi : id.wikipedia.org

4 thoughts on “Menjadi Praktisi Teknis atau Praktisi Manajemen?

  1. tawaran pindah ke unit teknis sebenarnya sayang untuk dilewatkan. kita bisa belajar banyak dan mengaplikasikan ilmu yg kita dapat.

    nanti selepas ‘lulus’ dari unit teknis tersebut dan masuk ke manajemen, pasti akan lebih mantap dalam melaksanakan tugas manajerial kan 😀

    1. Saya setuju, Opa. Saya sendiri khawatir mulai terjangkit virus ‘zona aman’ jadi semoga saya dan takdir memang berjodoh … Opa sendiri, sudah menjalankan fungsi teknis dan manajerial sekaligus bukan? Terima kasih nasihatnya.

    1. He eh, Cha. Aamiin semoga Allah berikan yang terbaik buat saya dan kantor ini. Mungkin membosankan, tapi lebih banyak jebakannya … kita mesti hati-hati 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s