Perjalanan Keluarga ke Bandung


Seperti yang telah saya rencanakan, kami sekeluarga akhirnya jadi juga ke Bandung. Ada dua tempat yang kami tuju : rumah Paklik di Cimahi dan rumah Om di Sayati.

Berangkat menjelang Maghrib

Karena Senin kerja seperti biasa, saya dan istri baru sampai rumah hampir jam 17. Segera saja kami bersiap untuk berangkat, untungnya istri sudah menyiapkan barang bawaan dan anak-anak sudah rapi jadi jam 5 sore lebih sedikit kami on the way menuju terminal. Bismillah …

Sebenarnya saya khawatir dengan anak-anak, mereka pasti belum hilang capek setelah Sabtu-Ahad ikut ke Bekasi karena paman mereka pindahan rumah. Tapi namanya juga anak-anak, ketika diajak pergi selalu kebahagiaan yang tampak di wajah mereka. Tetap sehat ya, Nak …

Jalur yang kami lewati ternyata cukup padat meskipun berbalik arah dengan kemacetan waktu pulang kantor, sempat beberapa kali mengerem tajam dan membuang stir menghindari kendaraan yang berhenti mendadak. Syukurlah sampai di perhentian pertama dengan selamat. Hampir Maghrib ketika masuk terminal, sayang setelah hampir satu jam dalam bis perjalanan kami baru dimulai.

Sampai di Bandung hampir tengah malam

Perjalanan lumayan lancar karena mulai masuk tol Cikunir hampir jam 8 malam, keluar tol Pasir Koja jam 10-an. Sempat menunggu dijemput Paklik kira-kira setengah jam hingga sampai di rumah beliau jam 22.30-an. Bandung sempat hujan deras waktu kami di perjalanan, untungnya ketika kami turun dari bis di pintu tol tinggal hujan rintik-rintik dan akhirnya berhenti. Terang tapi tidak terang bulan, meskipun malam itu tanggal 12 Rabbiul Awwal.

Ternyata acara ‘Tasyakuran Kirim Do’a untuk Mbah Putri’ barusan selesai jadi Mama, Papa, dan Paklik-Bulik yang juga datang jauh-jauh dari Megelang pun belum tidur waktu kami datang. Alhamdulillah …

Senang sekali rasanya bertemu dengan orangtua dan saudara-saudara karena kami jarang bertemu kecuali waktu lebaran. Syukurlah, semua sehat wal afiat. Semoga kerukunan keluarga besar kami dijaga oleh Allah hingga turun ke anak-cucu termasuk kami tentunya.

Burung dan bibit pohon Sengon

Paklik yang tinggal di Cimahi memang saya kenal gigih berwirausaha, padahal beliau sudah punya pekerjaan tetap dan posisi yang lumayan di kantornya. Setelah sebelumnya berbisnis konveksi, saya mendapati beliau berbisnis burung dan pohon Sengon. Hmm, so nature

Burung memang salah satu hobi beliau sehingga tidak heran bila itu juga jadi lahan bisnis, sedangkan Sengon … saya ingat pernah di tahun 2000-an tanaman budidaya ini populer tapi ternyata bahkan sekarang pun masih prospek. Apa memang begitu ya?

Paklik dan Bulik memang pasangan yang serasi, selain masih muda mereka selalu mendukung usaha masing-masing. Bisnis dan karir di kantor Paklik tidak membuat Bulik berpangku tangan, usaha busana khas Palembang dijalaninya bahkan sejak sebelum mereka menikah. Trus dijalankan meskipun pasang surut selalu ada, terlebih karena bisnis ini adalah bisnis keluarga besarnya di Palembang.

Berpisah dengan Mama dan Paklik-Bulik

Setelah sekitar 9 jam bersua, Mama dan Paklik-Bulik harus pulang ke Magelang. Mereka diantar oleh Paklik Cimahi dengan mobil pribadi. Sedih mesti berpisah dengan mereka, belum banyak cerita, belum hilang kangen tapi apa boleh buat … the show must go on.

Selepas mereka berangkat, saya sekeluarga dan Papa pamit kepada Bulik Cimahi menuju ke rumah Om yang tinggal di Sayati. Kami diantarkan oleh salah satu staf Paklik Cimahi sampai ke tempat tujuan. Di perjalanan anak-anak ketiduran, sepertinya mereka kecapekan tapi selama di rumah Paklik Cimahi mereka terlihat gembira. Selain bertemu dengan eyang-eyang, mereka juga bermain bersama om-tante kecil mereka. Kecil-kecil sudah jadi om-tante ya …

Belanja mainan di pertokoan Sayati

Mungkin karena capek dan ngantuk, waktu sampai di Sayati putri kami mengamuk. Ia menangis, minta pulang saat itu juga. Kami pun panik, saya dan istri bergantian berusaha meredakan tangisnya. Berbagai usaha gagal hingga akhirnya, ia mau diajak beli boneka. Diam, ya akhirnya dia berhenti menangis ketika kami mengajaknya berjalan-jalan ke pertokoan Sayati untuk membeli boneka.

Dengan uang pemberian Tante Cimahi, dia puas dengan membeli boneka mirip ‘Barbie’ dan seperangkat meja kursinya. Yang mendapat keuntungan adalah adiknya, karena akhirnya ikutan dibelikan mobil-mobilan. Mobil besar yang diinginkannya tapi cukuplah anak seusianya bermain dengan mobil-mobilan kecil. Selain menghindarkan sikap boros dan manja, putra kami termasuk anak yang ‘aktif’ sehingga tidak banyak mainan bertahan ketika ia melemparkannya ke sana ke mari sambil tertawa-tawa. Nak, jangan dilempar … yah, rusak kan.

Bertemu ibu dan saudara sepersusuan

Om yang tinggal di Sayati sebenarnya bukan keluarga ‘kandung’ saya tapi pertemanan keluarga beliau dan keluarga saya sudak sebegitu akrab sehingga bisa dibilang melebihi saudara sendiri. Bagaimana tidak, sebagai sama-sama anak Magelang yang merantau Om dan Papa bertemu sejak mereka belum punya anak. Berteman dan sering menghabiskan waktu bersama selama keluarga saya tinggal di Bandung, bahkan hingga kami harus ‘pulang’ ke Magelang karena dinas Papa.

Om dan Tante di Sayati dikaruniai dua orang anak, yang sulung seumur dengan saya sedangkan yang bungsu seumur dengan adik kandung saya. Kami adalah teman semasa kecil, saudara semasa dewasa. Ingatan masa kecil saya samar-samar masih terlintas, masa remaja kami blank (karena terpisah jarak cukup jauh) hingga lulus SMA barulah saya kembali bertemu dengan mereka saat saya mengikuti UMPTN di Bandung. Semua berubah, kamipun berubah menurut lingkungan pergaulan kami. Meski saya dan mereka sepersusuan, kami menjadi pribadi-pribadi dewasa yang berbeda. Namun demikian, alhamdulillah kami masih bersilaturrahim dan semoga untuk selamanya.

Tante Sayati atau lebih pantas saya panggil ibu, adalah artis teater yang akhirnya mendarma-baktikan hidupnya untuk keluarga. Pilihan berat yang mulia, meskipun tidak semua pilihan berujung pada kebaikan hasil. Bukankah Allah melihat pada niat dan proses bukan hasil? Semoga Allah memberkahi ibu dan keluarganya … aamiin.

Kembali ke Jakarta

Ba’da Dzuhur kami berpamitan. Sedih karena harus berpisah, tapi senang sudah bisa meluangkan sedikit waktu (cuma 3 jam-an) bersama mereka. Setidaknya saya berbagi kebahagiaan (tapi terutama kerepotan) dengan membawa dua buah hati kami, semoga saudara-saudara saya segera menyusul (menikah dan punya anak). Saya sangat beruntung, masih diberi kesempatan Allah untuk bercengkrama dengan Om, Tante, juga Eyang Putri (usianya mungkin sudah 80-an sekarang). Lebih beruntung lagi, ketika mereka yang bukan orangtua kandung saya masih menganggap saya sebagai anak-cucu mereka. Benar-benar perjalanan yang berkesan, semoga saya bisa mengulangnya di kesempatan-kesempatan lain.

Menuju terminal, kami dibekali oleh-oleh banyak. Ada wajik, krasikan, dan emping dari Mama. Ada lapis legit dan jajanan bocah dari Tante Sayati. Anak-anak juga dapat hadiah, uang jajan dari Tante Cimahi dan Eyang Buyut Sayati. Bahagianya ….

Di terminal istri menyempatkan untuk membeli oleh-oleh (lho masih kurang aja ya 😀 ). Kripik-kripik dan gula-gula untuk pengasuh anak dan tetangga dekat kami. Setelah itu perjalanan pulang dimulai dengan dikerubuti oleh calo-calo bis, untungnya gak terlalu agresif tapi kadang bikin kesal juga. Terlebih ketika harga tiket yang disampaikan berbeda dengan harga tiket dari kondektur, palsu

Sampai di rumah menjelang Maghrib

Berangkat jam 2 siang, bis meluncur lancar dan sampai di Jakarta hampir jam 5 sore. Perjalanan dari terminal ke rumah juga lancar, meski badan rasanya remuk kecapekan … sepertinya anak-anak juga begitu karena sepanjang perjalanan mereka tidur pulas dan tidak banyak tingkah. Semoga meski capek kami mendapatkan hikmah dari perjalanan ini.

Saya kembali mendapatkan pelajaran tentang hikmah melakukan perjalanan dengan orang-orang yang saya sayangi. Tidak mudah tapi perlu diperjuangkan, karena tidak ada yang ‘mudah’ dalam hidup ini …

Selingan : Susahnya mengambil foto dinamis dan foto close-up

Saya mengalami kesulitan mengambil foto ketika bergerak dan kepada obyek bergerak. Ini contohnya :

Foto-foto diambil saat dalam bis

Foto-foto diambil ketika burung bergerak bebas

Saya juga mengalami kesulitan mendapatkan foto close-up yang bagus untuk obyek berwarna homogen. Ini contohnya :

Foto bunga merah-putih (jarak dekat, dengan dan tanpa flash)

Mungkin ada di antara Anda yang memiliki pengalaman serupa, boleh dong berbagi trik-nya supaya hasil jepretan kamera saku saya bisa lebih baik lagi. Makasih sebelumnya …

9 thoughts on “Perjalanan Keluarga ke Bandung

  1. wahhh, ceritanya menarik dan banyak foto2nya. Hmmm, Paklik usaha kayu sengon? Dulu saya pernah cari2 kayu itu utk ekspor tapi susah banget. Akhirnya gagal deh bisnis itu. hehe.

    Kapan2 ceritain soal ketentuan saudara sepersusuan dong 😀

    1. Subhanallah, Pak. Kirain blog pribadi, ternyata dari judulnya saja sudah kelihatan ‘bisnis oriented’-nya 😀
      Gak apa-apa, ekstensifikasi usaha itu perlu dan penting. Sukses ya! Salam buat keluarga.

  2. Asalamu’alaikum
    Gimana kabarnya Abu, baik2 juga kan, maaf saya baru berkunjung ke mari, ya mungkin abu dah baca postingan saya.

    Untuk foto bergerak kalo camera ga mendukung biasanya saya ikuti dulu gerakannya, namun lebih bagus memang kalo kameranya mendukung terutama di kecepatan

    1. Wa’alaikumussalam wr.wb.
      Alhamdulillah, Mas. Perasaan saya masuk angin deh, sudah mulai berasa ‘greges-greges’, moga-moga gak berat-berat jadi tetap bisa aktifitas.
      Betul Mas, namanya juga amatir … tapi makasih lho masukannya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s