Renungan tentang Semut dan Safety Riding (Continued)


Semut = Gajah

Saya sering memerhatikan SEMUT. Betul semut, yang sering membuat kita kewalahan karena mengerubungi makanan atau minuman manis kita. Semut, mulai dari yang berukuran sangat kecil (setitik tahi lalat) hingga yang berukuran cukup besar (sekuku kelingking kita). Makhluk yang unik, karena setiap satu semut itu bernyawa. Begitu berharganya nyawa setiap makhluk sampai-sampai nasib semut-semut pun termaktub dalam Al Qur-anul Karim.

” Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”; Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. QS 27:18-19.

Saya sampai berfikir, sekiranya nyawa seekor semut dipindahkan kepada seekor gajah maka apa yang terjadi ya? Saya selalu menyangka, tentulah akan hidup gajah itu sebagaimana gajah-gajah lainnya. Subhanallah (Mahasuci Allah), karena bila nyawa semut tidak seberharga nyawa gajah tentu Allah swt. tidak akan memerintahkan Sulaiman as. untuk berdialog dengan kerumunan semut-semut itu. Lalu masihkah kita dengan ‘tangan dingin’ masih membunuh semut-semut yang mencari makan untuk bertahan hidup? Mungkin sebagian orang akan berkata, tentu bahkan gajah sekalipun tidak akan kami merasa sayang bila itu mengganggu kehidupan kami.

Anda bebas memilih, karena manusia dikaruniai akal …

Safety Riding (lagi)

Tapi sebelumnya, untuk menghibur Anda akan saya tampilkan lagi second episode dari belajar animasi :

Nah, seperti halnya burung-burung yang kembali ke sarang di sore hari setelah seharian mencari makan, kita juga melakukannya bukan? Bisa dilihat betapa burung-burung yang beterbangan menuju sarangnya begitu ramai (padat merayap, istilah kita) dan saya belum pernah mendengar kabar tentang burung yang mengalami kecelakaan karena bertabrakan dengan burung lain saat terbang. Bagaimana dengan Anda?

Karenanya pada kesempatan ini saya akan mengambil tag : Kendali. Bedanya apa dengan kecepatan? Tentu beda, kecepatan identik dengan gas, sedangkan kendali lebih dekat dengan rem dan setir/setang. Dari sini kita bisa membedakan manusia dengan burung, karena burung diciptakan tanpa akal tapi tubuhnya sudah lengkap dengan perlengkapan navigasi, sedangkan manusia tidak. Manusia harus menggunakan akal dan terutama hatinya untuk bisa melakukan perjalanan bersama-sama dengan manusia lain. Berikut ulasannya.

Masih dengan studi kasus perjalanan dari Beji ke Ragunan, saya coba memberikan ilustrasi sederhana tentang kendali. Di jalan tersebut seperti telah saya tulis sebelumnya, pengendara kendaraan bermotor akan menemui beberapa lokasi yang rawan. Beberapa persimpangan, banyak sekolah yang terletak si sepanjang jalan, termasuk jalan yang ‘bebas hambatan’ di mana kendali ini menjadi hal yang penting. Bagi pengendara kendaraan roda empat (mobil dsb) ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan :

  1. Kemacetan perlu ditanggapi dengan kesabaran, antrian akan memaksa mobil bolak-balik henti-jalan. Pastikan rem kendaraan Anda selalu diperiksa sebelum memulai perjalanan, tidak jarang ditemukan kecelakaan di persimpangan terjadi karena rem mobil tidak pakem sehingga tidak mampu digunakan secara spontan. Ingatlah, kendaraan di depan Anda tidak selalu memberi waktu cukup untuk Anda berhenti dengan jarak aman. Periksalah lalu waspadalah. Hal lain terkait kemacetan, pengendara motor biasa menggunakan sisi kanan-kiri antrian mobil untuk melaju. Berhati-hatilah dengan tidak mengambil jalurnya, risiko menyerempet bahkan menggencet motor perlu dihindari meskipun terkadang cukup membuat emosi ketika motor-motor memotong jalan seenak ‘wudel’ tanpa memberi sign dulu.
  2. Pastikan lampu sign Anda menyala terang ketika akan berbelok, jangan lupa untuk memerhatikan keberadaan motor di samping dan belakang mobil Anda. Sering mobil sudah berada di posisi yang benar, menggunakan lampu sign, tapi jarak tidak aman dengan motor menyebabkan benturan. Jangan sungkan untuk membunyikan klakson atau mengerem mobil ketika Anda merasa motor di sekitar mobil Anda membahayakan.
  3. Ketika melalui ruas jalan yang rawan macet seperti wilayah sekolah, kurangi kecepatan sesuai aturan (misal 10 km/jam) meskipun jalanan sepi karena tidak dalam jam sibuk. Hal ini penting karena pada jam sibuk orang cenderung berebut jalan untuk bisa mendahului, sedangkan di luar jam sibuk orang cenderung memanfaatkan kelengangan jalanan untuk memacu kendaraannya.
  4. Jalanan ‘bebas hambatan’ memberi peluang kepada pengendara untuk memacu kendaraan (bahkan hingga melebihi batas yang diatur). Sering terjadi ‘kebut-kebutan’ baik antarmobil, antarmotor maupun di antara keduanya. Hal ini sungguh berbahaya, terlebih karena jalanan tidak cukup lebar, tidak diberi pembatas (boulevard) dan tidak ada trotoar maupun jembatan penyeberangan bagi pejalan kaki.
  5. Kendaraan umum (angkot/bis) yang ‘biasa’ berhenti sebarang tempat juga merupakan kerawanan tersendiri. Tidak sedikit kecelakaan terjadi akibat angkot berhenti mendadak dan tidak memberi cukup waktu bagi pengendara di belakangnya untuk berhenti atau menghindar, terlebih ketika kendaraan dipacu dengan kecepatan tinggi. Tidak jarang angkot/bis berkejar-kejaran, berebut penumpang. Berada di belakang kendaraan umum memerlukan konsentrasi lebih, so jangan ragu-ragu untuk membunyikan klakson ketika kondisi membahayakan.

Sedangkan untuk pengendara motor, hal-hal yang seringkali dilakukan adalah :

  1. Memaksakan diri untuk mendahului kendaraan lain termasuk motor di antrian panjang sehingga menimbulkan kemacetan di sisi kebalikan. Hal ini selain merugikan kendaraan di arah balik juga menyebabkan antrian yang searah harus bersabar dan memberi ruang untuk para ‘penyerobot’. Anda tentu sering melihat (atau mungkin termasuk pelaku) pengendara motor ini mengambil jalur kanan padahal jalanan sudah penuh dengan antrian, paling kiri motor, di tengah mobil, di kanannya motor. Para penyerobot ini mengambil jalur di kanan motor-motor yang antri, luar biasa. Dalam pemikiran saya (atau umpatan dalam hati ya), koq gak mikir ya ini kendaraan-kendaraan lain antri dan ada kendaraan lain dari arah sebaliknya, main ambil jalan aja. Emang jalanan ini punya Moyang lu apa?
  2. Memacu kendaraan di ruas jalan rawan macet melebih batas yang diatur. Di ruas-ruas jalan ini biasanya ada yang mengatur entah itu polantas ataupun polisi ogak (cepek), sehingga arus kendaraan dibuat bergiliran. Yang biasa terjadi adalah, pengendara motor tidak mengindahkan pengaturan petugas terlebih ketika jumlahnya tidak signifikan. Lihat tulisan saya tentang Macet di Tugu Gong Tanah Baru.
  3. Zig-zag di jalanan yang padat. Ini biasa dilakukan terutama oleh anak-anak muda (ABG) atau yang berjiwa muda (baca : masa muda kurang bahagia), tidak bisa melihat ruang kosong langsung aja main serobot padahal di kiri-kanan banyak kendaraan lain yang mungkin bisa terganggu dengan aksinya itu. Ketika kendaraan di sekitarnya motor, risiko berbenturan dan jatuh secara massal bisa terjadi. Hal ini tentu membahayakan tidak hanya diri sendiri melainkan juga pengendara motor lainnya. Kejadian akan beda ketika kendaraan di sekitarnya adalah mobil, risiko terserempet atau terbentur dan jatuh ada pada pengendara motor. Yang ini tentu membahayakan diri sendiri.
  4. Mendahului kendaraan yang sedang mendahului kendaraan lain (istilah bebasnya double precedes). Sebenarnya ini membahayakan diri sendiri, tapi dalam beberapa kondisi di mana kendaraan pendahulu tidak siap maka ia bisa menjadi korban karena jalannya diambil oleh pendahulu kedua. Bisa juga terjadi benturan di antara keduanya yang bisa berakibat sangat fatal. Seharusnya ketika sebuah kendaraan mendahului kendaraan lain, terlebih dahulu ia memberikan sign ke kanan sehingga kendaraan di belakangnya tidak mendahuluinya. Kendaraan yang terlanjur mengambil posisi mendahului ketika kendaraan di depannya mendahului kendaraan lain sebaiknya menahan diri (dengan mengurangi kecepatan) atau bila terpaksa harus mendahului membunyikan klakson terlebih dahulu sehingga kendaraan pendahulu waspada.
  5. Berhenti dan berbelok tanpa menyalakan lampu sign. Entah disengaja atau tidak, terkadang pengendara motor tidak memberikan tanda ini ketika berhenti atau berbelok, juga saat mendahului kendaraan lain. Risiko terbesarnya adalah tertabrak dari belakang karena pengendara di belakangnya tidak mengetahui bila motor di depannya hendak berhenti atau berbelok. Pengendara motor sebaiknya melengkapi motor dengan kaca spion lengkap (dua bukan salah satu), lampu rem, lampu sign (kiri-kanan, depan-belakang) dan memerhatikan dan menggunakannya ketika hendak melakukan gerakan apapun. Inilah gunanya kelengkapan kendaraan, untuk keselamatan tentunya. 

Mungkin masih ada beberapa hal penting lainnya, tapi untuk tag : Kendali saya pikir cukup. Insya’Allah akan berlanjut di kesempatan lain. Semoga bermanfaat dan berhati-hatilah di jalan.

Ingat, keluarga menunggu Anda selamat sampai di rumah.

9 thoughts on “Renungan tentang Semut dan Safety Riding (Continued)

  1. Tulisan ini panjang dan bernas. Namun maaf, mungkin saya merasa tulisannya kepanjangan sehingga cenderung speedreading.

    Sayang kan, penulisnya sudah bersusah payah menguras ide namun dibalas oleh pembaca dgn membaca sambil lalu saja.

    Kalau boleh saran, tulisan ini baiknya dibagi dua. Hehe. Ini cuma opini saya ya. Semoga diterima baik, bro.

    Semangat!!!!

    1. Makasih masukkannya, Opa. Sungguh berguna buat peningkatan status 😀
      Teknik menulis pendeknya akan saya gali lagi dari guru-guru blogger ternama 🙂
      Siap, tetap semangat!

  2. Saya tersentuh saat diberi pertanyaan, bagaimana bila nyawa semut diberikan pada tubuh gajah..?

    Benar, kita ga bole sembarangan membunuh makhluk yang bernyawa 🙂

  3. Memang bagus kalau posting ini dibagi dua tulisan, karena punya tema masing-masing. Trims sudah berbagi dengan saran yang jitu.

    1. Setuju deh, kan kalo dibuat dua posting bisa ngejar postaday-nya Opa 😀 btw Alris kapan nih update blog-nya? Masih di tengah rimba Borneo ya.

  4. sepertinya memang yang paling susah diatur tuh para bikers T_T
    tentunya bukan semua bikers ya, tapi biker2 yang memang suka pengen seenaknya sendiri dan ga mengindahkan aturan. Yang seperti ini saya lihat masih banyak tuh bertebaran di jalanan.
    suka stress deh sama sikap2 mereka yang begitu T_T
    *jadi curcol deh*
    Salam kenal ^^

    1. Salam kenal juga Ma, lupa ya pernah kasih komen di sini tentang permainan gelembung anak? 😀
      Betul meskipun saya biker (yang bercita-cita menjadi pembalap atau siapa tau Faqih mewujudkan cita-cita saya), saya gak gitu-gitu amat koq kecuali terpaksa (ngejar jam masuk kantor karena kesiangan) 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s