Berbagi Pengalaman tentang TORCH


Sudah tahukah Anda tentang TORCH?

TORCH di sini bukan BB, juga bukan alat penerangan tempo dulu (a.k.a. obor) tapi akronim dari Toxo, Rubella, CMV, dan Herpes (mohon maaf bila salah dalam penulisan nama dan gelar). TORCH adalah grup penyakit atau tepatnya penyebab penyakit, yang berhubungan dengan kemandulan, kehamilan, keguguran dan kelainan janin/bayi/anak. Setidaknya itulah yang saya pahami karena sungguh saya belum pernah mendapatkan info atau penjelasan dari dokter manapun, selain dari seorang terapis TORCH yang kepadanya saya dan istri saya berobat. Berikut kisahnya.

Kehamilan dan Keguguran Pertama

Saya gembira ketika istri saya diketahui hamil setelah beberapa bulan pernikahan kami di akhir 2003. Waktu itu saya hampir menyelesaikan S1, hingga akhirnya istri saya yang sedang hamil muda menjadi pendamping wisuda saya. Kami benar-benar bahagia, harapan saya seperti berturut-turut akan terwujud: selesai S1 dan punya anak ke-1. Bagaimana tidak?

Tidak ada yang menyangka begitu pula saya setelah wisuda dan malamnya tasyakuran di rumah kakak, saat pulang istri saya mengeluh sakit di perutnya atau lebih tepat di kandungannya. Kami saat itu hanya berpikir mungkin istri saya kecapekan, maklum kehamilan pertama. Saya malah masih sempat meninggalkannya untuk datang ke arisan bersama teman-teman kantor. Beberapa hari setelahnya istri sepertinya sudah sehat dan kami pun kembali ke aktifitas biasa: saya ngantor sedang istri mengajar di sebuah yayasan sosial di lingkungan kami tinggal. Akhir pekan kami memeriksakan kandungan istri ke RSU dan kami mendapat kabar kurang menyenangkan: blighted ovum. Apaan tuh? Kami sama-sama tidak paham.

Penjelasan singkat dokter adalah istri saya hamil dengan kondisi yang mudahnya disebut ’kehamilan kosong’. Artinya janin yang dikandung istri saya tidak bagus kondisinya sehingga tidak berkembang dan akan gugur dalam waktu dekat. Dokter tidak menjelaskan lebih lanjut tentang penyebabnya, hanya menyampaikan bahwa mungkin kecapekan atau kualitas sel telur/sperma kami tidak baik. Dokter menyarankan istri saya untuk dikuret tapi istri saya menolak karena ia baru melihat USG pertama kali sehingga seperti yakin bahwa janin itu masih hidup, dokter tidak memaksa dan menyerahkan keputusannya pada kami dengan segala risiko tentunya. Dokter berpesan, janin itu akan gugur jadi bila sewaktu-waktu terjadi pendarahan segeralah ke RS untuk mendapatkan pertolongan. Kami pulang, hati dan pikiran kami campur aduk tidak karuan.

Benar saja, malam harinya istri sama sekali tidak bisa tidur karena sakit yang sangat di sekitar pinggang dan panggulnya. Muncul bercak-bercak darah dari jalan lahirnya dan badannya mulai demam. Malam itu hujan bahkan hingga pagi hari masih gerimis, niat saya untuk membawa istri ke RS di malam hari urung dan baru saya kerjakan pagi harinya. Saya meminjam motor seorang sahabat dan segera membawa istri ke RSU. Hari itu istri saya keguguran, di kehamilan pertamanya. Saya sedih tapi pasti istri saya lebih sedih lagi.

Kehamilan dan Keguguran Kedua

Sudah lebih dari setahun sejak kejadian itu, istri saya belum hamil juga. Trauma akibat kejadian itu sepertinya menyebabkan kondisi penolakan akan kehamilan, setidaknya itu yang saya rasakan. Saya sendiri tidak memaksakan istri untuk segera hamil, saya sadar lebih penting menjaga kondisi psikologis istri ketimbang mendahulukan keinginan untuk segera mendapat momongan. Atasan saya, seorang ibu, menyarankan saya untuk sholat tahajjud dan memohon kepada Allah untuk itu. Sebagai ’anak’ saya lakukan nasihatnya.

Allah MahaMendengar Doa hamba yang meminta kepada-Nya, persis seperti janji-Nya. Perlahan tapi pasti psikologis istri saya semakin membaik hingga suatu saat keinginannya untuk mempunyai momongan bahkan melebihi keinginan saya. Awal 2005 istri saya hamil yang kedua kali, saya sangat bahagia sebahagia istri saya. Allah telah mengabulkan do’a kami. Di kehamilan kedua istri saya kami lebih behati-hati, istri sementara saya larang terlalu capek, ia tidak lagi mengajar di yayasan untuk sementara waktu. Keluarga dan teman-teman pun menganjurkan hal yang sama sehingga kami hampir yakin bahwa itulah yang harus kami lakukan. Hampir 2 bulan berlalu usia kehamilan istri saya hal yang tidak terduga-duga terjadi, istri saya kembali merasakan kondisi tidak nyaman pada kandungannya. Kami pun berkonsultasi ke dokter, dan diberikan obat penguat. Sayang kejadian pertama terjadi lagi pada kehamilan kali ini, suatu siang istri saya menelpon ke kantor. Ia meminta saya segera pulang karena rasa sakit yang sangat di sekitar pinggang dan panggulnya, dalam hati saya berkata: Astaghfirullah, kejadian lagi nih …

Saya berlari ke rumah kontrakan kami yang tidak jauh dari kantor saya, melihat kondisi istri yang lemah kemudian segera berlari lagi ke jalan raya untuk memanggil taksi. Saya dan istri segera meluncur ke RSU dan kami sama-sama sangat cemas. Saya menelpon ibu mertua di kampung untuk memberi kabar dan berharap beliau bisa menemani kami dalam situasi genting ini. Saya pasrah, ini adalah kehendak Allah. Hampir Maghrib ketika dokter akhirnya memeriksa dengan USG dan menyatakan janinnya sudah mulai luruh. Proses curet dilakukan saat itu juga lalu menunggu observasi kedua, istri masih di UGD ketika ibu datang dengan wajah cemas. Saya hampir tidak bisa menahan air mata saya tapi ibu mertua tidak bisa menahan kesedihannya, beliau menangis bersama istri. Hari itu saya sedih tapi saya lebih tenang dari yang sebelumnya, entah kenapa …

Saat kontrol paska keguguran kedua, saya dan istri menanyakan penyebabnya kepada istri namun dokter tidak memberikan jawaban yang spesifik. Hanya prediksi beliau setelah berkonsultasi dengan sesama dokter spesialis kandungan, mungkin ada faktor X yang perlu diketahui sebelum ada kehamilan lagi. Sekedar mengantisipasi supaya keguguran tidak terjadi lagi. Kami diberikan surat rekomendasi untuk memeriksakan darah ke Makmal UI, Salemba. Beliau bilang biayanya memang cukup mahal sekitar 1 jutaan dan sepertinya memang belum menjadi prosedur wajib bagi ibu hamil/calon pengantin. Wah, waktu itu besaran segitu adalah cukup besar untuk saya yang pegawai rendahan tapi kami niatkan untuk menabung dulu dan melakukannya sebelum berencana hamil lagi.

Kehamilan Ketiga dan Pemeriksaan TORCH

Mungkin hampir 2 bulan berselang sejak istri saya keguguran yang kedua, kami memeriksakan darah ke Makmal UI. Sesuai kemampuan kami, pemeriksaan darah dilakukan bertahap separuh-separuh. Ada 4 jenis tes yang dilakukan, kami mengambilnya paket 2-2. Dari lembaran tes laboratorium itulah kami baru tau tentang Toxo, Rubella, CMV, dan Herpes (TORCH). Kami baru mulai mencari tau tentang TORCH setelah ini dan belum benar-benar paham. Yang banyak dibicarakan orang tentang Toxo adalah penyakit yang disebabkan oleh virus pada kucing, itu saja.

Dari tes laboratorium kami mendapatkan hasil positif untuk 3 dari 4 tes tersebut, pada IgM (antibodi). Artinya istri pernah terpapar kumpulan penyebab penyakit ini. Sedangkan untuk IgG (kondisi kini) negatif, dan setelah memberikan hasilnya kepada dokter beliau cukup lega karena artinya si biang kerok tidak sedang aktif. Waktu itu selama pemeriksaan darah dan terakhir konsultasi ke dokter, istri saya ternyata sudah hamil beberapa pekan. Dokter memberikan resep beberapa antibiotik yang harus diminum selama 3 bulan awal, vitamin dan penguat kehamilan. Kami yang tidak paham hanya bisa mengikuti saja petunjuk dokter dan syukurlah kehamilan ketiga ini kondisinya sehat.

Saya dan istri mencoba untuk mengevaluasi sebagai antisipasi dari aktifnya TORCH, mungkinada di sekitar kami yang menjadi pemicunya. Memang rumah kontrakan kami kurang sehat, selain karena agak suram (kurang cahaya matahari) di sekitar terdapat beberapa binatang piaraan seperti ayam, burung dan kucing. Selain itu karena rumah itu banyak lubang angin di atapnya, tikus pun sering mondar-mandir ke dapur kami. Dengan alasan itulah kami akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah kontrakan lain yang lebih sehat. Untungnya saya mendapatkan lokasi yang tidak jauh dari rumah lama sehingga kami tidak terlalu repot ketika pindahan.

Kelahiran Buah Hati Kami yang Pertama

Semasa istri saya hamil, entah kenapa saya sering mendapatkan tugas dinas luar kota untuk waktu yang cukup lama. Mungkin ini ujian dari Allah tapi saya ambil hikmahnya sebagai cara Allah untuk memberikan saya keluangan rizki bagi anak kami yang masih dalam kandungan. Memang Allah MahaAdil dan saya juga mesti adil juga pada Allah. Bagaimana caranya?

Setiap orang mempunyai masa. Masa kecil-masa tumbuh kembang, masa remaja-masa pendewasaan mental, masa kuliah/kerja-masa menemukan jadi diri, masa tobat-masa menemukan kebenaran hakiki (hidayah) dan masa … to be continued

10 thoughts on “Berbagi Pengalaman tentang TORCH

  1. Kisah yang sangat menyentuh. Hehamilan pertama isteri saya jg keguguran. Alhamdulillah yang kedua dan yang ketiga tidak ada masalah meski harus ekstra hati2.
    Thanks telah berbagi.

    1. Sama-sama Pak, semoga manfaat buat yang lain terutama yang belum punya pengalaman (seperti saya dulu :().
      Makasih sudah berkunjung ke gubuk saya, jangan bosan-bosan ya, Pak. 😀

    1. Alhamdulillah dua buah hati kami, semoga amanah ini bisa kami pertanggungjawabkan …
      Semoga istri saya semakin sabar, makasih do’a dan kunjungannya Mbak. 🙂

  2. Terima kasih sudah berbagi,
    bermanfaat bagi saya yang sedang berharap untuk bisa hamil pada usia pernikahan memasuki tahun ke-2.
    Ah, pasti senang sekali jika tiba waktunya menimang buah hati sendiri yah 🙂

    1. Sama-sama, Mbak Nique. Sudah lama saya ingin sharing ini tapi baru kemarin bener-bener diniatin. Silakan lihat tulisan saya selanjutnya, masih tentang TORCH.
      Barokallahu fikum, semoga Allah seger mengabulkan doa Anda dan suami untuk segera punya momongan. 🙂

  3. NanoTorch Khusus Mengobati Penyakit TORCH.
    Berkhasiat untuk membantu menyehatkan rahim dari segala macam penyakit gagal rahim dan penyakit TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II). Komposisi : Phalariae Fructus, Zedoariae Rhizoma, Morindae Citrifolia, Andrographidis Herba, dll. Harga Rp. 265.000,- (35 kapsul). Jl. Hankam 62 Ragunan JakSel. Pemesanan hubungi : Telp. 021 – 710 85 910 / 0856 910 910 09 (SMS OK). http://faneliaherbs1.wordpress.com ; faneliaherbs@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s