Menyambut Takdir dengan Ikhtiar dan Tawakkal


Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan saya pekan kemarin yang terpaksa terputus karena ada agenda penting yang harus saya kerjakan.

… masa tua-masa membina generasi penerus, dan seterusnya. Setiap masa memberikan pembelajaran yang bermakna bagi setiap manusia, meskipun tidak semua mampu mengambilnya menjadi bekal untuk kehidupan berikutnya (akhirat). Begitu juga saya, pengalaman ‘pahit’ yang terjadi pada istri sebelum kehamilannya yang ketiga membuat saya merasa harus mengubah pola pikir dan pola tindak saya. Mengapa demikian? Sebagai seorang muslim saya meyakini bahwa manusia diberikan pilihan dalam hidupnya, benar atau salah. Dalam kenyataannya manusia sering menipu hatinya dengan memasukkan penilaian, baik atau tidak baik. Padahal yang baik menurut manusia belum tentu benar sedangkan yang tidak baik tidak selalu berarti salah. Bahkan yang benar seringkali dibenci sedangkan yang salah dibela mati-matian.

Beberapa bulan di awal kehamilan istri, saya mendapat tugas untuk mengikuti diklat pembentukan auditor, dengan mengikuti diklat ini setidaknya saya jadi mulai memahami yang benar dan salah dalam pelaksanaan kegiatan kantor. Padahal selama saya bekerja, lebih banyak yang saya temui adalah yang baik atau tidak baik. Di trimester akhir masa kehamilan istri, saya mendapat tugas untuk bergabung dengan BRR NAD-Nias dan berkantor di Banda Aceh selama hampir 7 bulan. Saya seperti ditempa dengan pengalaman lapangan yang memberikan pandangan lebih luas sehingga saya tersadar bahwa yang selama ini baik itu tidak selalu benar dan sebaliknya. Walaupun di kedua tugas tersebut saya jadi mengenal kondisi abu-abu yang sering dimafaatkan untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit.

Masalah kehamilan yang menimpa istri saya, tidak hanya saya pandang dari sisi kesehatan fisik semata. Saya yakin Allah sedang menguji saya, sedikit menunjukkan akibat dari kebodohan saya dan memberikan kesempatan untuk saya memperbaiki diri. Meskipun saya dan istri mulai menyadari penyebab dari dua kali keguguran itu, tapi untuk saya masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Ketika dulunya saya merasa tidak masalah mengambil kondisi abu-abu dengan alasan terdesak kebutuhan (darurat), saat itu saya diberikan pilihan dan kesempatan yang lebih luas oleh-Nya untuk menyadari kekeliruan itu dan mengambil sikap lebih berhati-hati terhadap apa-apa yang saya nafkahkan untuk keluarga saya. Saya diberikan ilmu teorinya kemudian saya diberikan praktik lapangan, sungguh luar biasa bagaimana cara Allah SWT. Menunjukkan hidayah kepada hamba-Nya. Subhanallah …

Anak pertama kami, Mufida lahir dengan selamat tidak kurang suatu apapun meskipun melalui operasi cesar. Kami sangat gembira dan bersyukur, tidak kurang juga keluarga besar dan teman-sahabat kami seperti menanti-nanti saat tak terlupakan itu. Seorang sahabat menuliskan SMS di hari itu: “Selamat atas kelahiran putri pertama, kalian pantas mendapatkannya”. Perjuangan yang perlu sesekali kami renungkan, dan lebih pantas lagi kami syukuri.

Kehamilan Keempat dan Mengenal TORCH Lebih Jauh

Hampir 2,5 tahun usia Fida (panggilan untuk putrid kami, Mufida) ketika kami memutuskan untuk memulai program yuniorisasi (memberikan Fida adik). Sebelumnya saya sudah sering membicarakan TORCH dengan istri saya, sebagai usaha antisipasi agar tidak terjadi lagi hal-hal yang buruk. Kami sepakat untuk memeriksa darah sebelum istri hamil tetapi Allah berkehendak lain. Ketika kami masih berencana, Allah memberikan anugerah itu dalam rahim istri saya. Dan ketika kami sadar, barulah kami segera berkonsultasi dengan dokter di RSU. Dokter memberikan resep antibiotic sebagai pencegahan di trimester pertama, kamipun menebusnya. Ketika pada suatu ketika kami mengunjungi pameran buku dan mendapatkan buku yang cukup informatif tentang TORCH kami membelinya. Dari buku itu kami mendapatkan alamat seorang terapis spesialis TORCH di Bogor, kami menyengaja datang ke kliniknya untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi.

Ternyata yang mengalami kegagalan hamil akibat TORCH bukan cuma kami, di klinik itu kami bertemu dengan lebih dari lima puluh orang (mungkin 20-an pasangan suami istri) yang mempunyai pengalaman yang kurang lebih sama. Mereka berasal dari bermacam kalangan, mulai dari menengah ke atas hingga menengah ke atas. Derita itu tidak hanya dialami oleh ibu hamil tetapi juga oleh remaja putri, orang dewasa, orang tua, hingga anak-anak dan bayi. Kami mengikuti seminar singkat tentang TORCH, mendapatkan pencerahan dan akhirnya mencoba untuk menempuh jalur alternatif untuk mengobati penyakit ini. Dari buku yang kami baca sebelumnya dan penjelasan yang disampaikan oleh sang terapis, kami jadi mengenal TORCH lebih dari sebelumnya. TORCH menyebabkan setidaknya 3 ancaman serius terkait dengan kandungan yaitu:

  1. Sulit hamil, artinya tidak pernah terjadi pembuahan atau terbentuknya janin. Hal ini disebabkan organ reproduksi terserang penyakit sehingga tidak bisa berfungsi atau menurun, atau muncul gangguan seperti mioma atau kista pada organ reproduksi.
  2. Gagal hamil, artinya telah terbentuk janin tetapi tidak bertahan hingga lahir dengan selamat seperti yang menimpa istri saya. Keguguran atau tidak berkembangnya janin yang sudah terbentuk disebabkan oleh gangguan penyakit terhadap janin itu sendiri ataupun terhadap metabolisme yang mendukung perkembangannya.
  3. Kecacatan bayi, artinya kehamilan bertahan hingga bayi lahir namun karena janin dalam kandungan terserang penyakit maka sebagian organnya cacat. Cacat ini bisa berwujud fisik (karena tampak pada lahiriah bayi) seperti hidrocepalus dll, tetapi juga bisa berwujud mental (karena cacat terjadi pada sel-sel otak/syaraf pusat) seperti autis dll.

Istri saya menjalani terapi obat herbal yang khusus dibuat untuk menyembuhkan TORCH selama kurang lebih 3 bulan. Sesuai petunjuk sang terapis obat antibiotik yang diberikan dokter tidak diminum dan digantikan dengan hanya meminum ramuan herbal itu. Sebelumnya pada kesempatan pertama kami berkonsultasi dengan dokter RSU, beliau mengarahkan kami untuk tes darah TORCH sehingga kami tahu bahwa istri masih mengidap penyakit itu dan kami perlu mengantisipasinya. Benar saja, ternyata penyakit itu masih ada walaupun dalam jumlah yang kecil. Beberapa pekan istri saya meminum obat dokter, beberapa pekan kemudian (setelah konsultasi dengan spesialis TORCH) istri hanya minum ramuan herbal dan vitamin dari dokter. Setelah 3 bulan berlalu kami dianjurkan oleh terapis untuk tes darah lagi dan alhamdulillah istri saya benar-benar terbebas dari penyakit itu. Kami sangat senang meskipun di awal kehamilan kami merasa cukup khawatir bila terjadi hal yang buruk pada kandungan, janin atau anak kami. Sisanya kami serahkan pada Allah SangPenguasa alam semesta. Setidaknya inilah ikhtiar dan tawakkal kami menyambut takdir kelahiran anak kedua.

Sebagai penutup, mungkin saya tidak memberi Anda informasi yang lengkap tentang TORCH ini tetapi saya hanya ingin berbagi pengalaman kami saat berjuang melawannya. Kami hanya bisa berpesan kepada pasutri yang mungkin mengalami hal serupa atau bahkan lebih buruk, Allah MahaAdil, setiap penyakit pasti ada obatnya kecuali kematian, setiap kejadian pasti ada hikmahnya karenanya gapailah itu seperti harta karun yang terpendam, jangan berputus asa berdoa kepada Allah karena doa kita pasti dikabulkannya, bersabarlah dengan ujian dan bersyukurlah karena nikmat-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang beruntung.

5 thoughts on “Menyambut Takdir dengan Ikhtiar dan Tawakkal

    1. Alhamdulillah, Opa. Semoga ketaatan itu bisa kami pertahankan, istilah istiqomah. Senang juga bisa berbagi, semoga mendatangkan semakin banyak keberkahan untuk kita semua.

  1. Tulisan yang indah.
    Memang dalam perjalanan hidup terkadang tidak mudah, namun dengan ‘dekat’ dengan Pembuat Kehidupan tentu semuanya dijalani dengan penuh bungah, sumringah. Dan bukankah ikhtiar dan tawakkal adalah jalan untuk ‘mendekat’ kepadanya?:-)
    nb : salam kenal ya

    1. Betul, karenanya saya berbagi tulisan ini pada semua.
      Salam kenal juga, sayang tidak ada linkback jadi saya gak tau mesti berkunjung ke mana 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s