Father’s Day: Piala Pertama buat Fida


Hari Sabtu pekan kemarin, 12 Maret 2011 saya menghadiri event Father’s Day di sekolah Fida. Memang bukan Father’s Day yang diperingati setiap Minggu ketiga bulan Juni di banyak negara terutama di Amerika, tetapi merupakan program tematik sekolah yang melibatkan orangtua murid terutama ayah. Idenya sederhana, berbeda dengan yang sering saya tonton di film-film keluarga Amerika di mana sang ayah menceritakan profesinya di depan kelas, sekolah mengadakan beberapa perlombaan yang melibatkan ayah, ibu serta anak. Perlombaan yang digelar kemarin adalah lomba melukis untuk ayah dan anak serta lomba menghias kelas untuk ibu-ibu.

Father’s Day

Di Indonesia Father’s Day bukan merupakan peringatan nasional, di sini yang diperingati setiap tahun adalah Hari Ibu 22 Desember. Saya mencoba mencari tau apa sebenarnya sejarah dan hikmah di balik kedua peringatan ini. Father’s Day diperingati setiap Minggu ketiga Juni karena bla bla bla (saya tidak bisa menangkap penjelasannya karena agaknya terkesan politis dan dipaksakan), sedangkan Hari Ibu merupakan peringatan atas Kongres Perempuan Indonesia I 22-25 Desember 1928 dalam rangka mendukung pergerakan kemerdekaan yang dipelopori oleh Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober 1928. Hikmahnya, Father’s Day memberikan penghargaan yang besar untuk kaum ayah yang rela mengorbankan jiwanya dalam usahanya mencari nafkah bagi keluarga. Sedangkan Hari Ibu mengingatkan kita akan keberanian kaum hawa dalam mendukung pergerakan kemerdekaan serta memperjuangkan nasib perempuan walaupun tidak sekalipun mengusung kesetaraan gender seperti yang menjadi tujuan banyak LSM perempuan bahkan kementerian khusus itu.

Hari Ayah di Indonesia sendiri tidak banyak yang memperingati meskipun pernah ada deklarasi Hari Bapak di Solo pada 12 November tapi agaknya seperti halnya di banyak negara, pamornya kalah jauh dibandingkan hari ibu. Meskipun demikian tidak ada salahnya bila kita membuat hari ayah ini momen yang spesial dari kita untuk ayah kita dan kita sendiri oleh anak-anak kita, misal di momen hari lahir (ulang tahun) sebagai penghormatan dan pernyataan cinta kasih. Apakah Anda setuju atau punya ide lain?

Father’s Day di Sekolah Fida

Event Father’s Day yang diadakan sekolah Fida (putri pertama saya) sebenarnya sudah diagendakan dalam kegiatan eksul tahunan sehingga di awal tahun ajaran saya sudah mengetahuinya. Yang terbayang dalam benak saya pun, event itu akan sama dengan yang saya tonton di film-film keluarga Amerika di mana ayah-ayah diberi waktu untuk berdiri di depan kelas anaknya untuk bercerita tentang profesi, cita-cita dan motivasi bagi anak-anak. Saya sempat terpikir kalo begitu kira-kira apa ya yang akan saya ceritakan di depan kelas? Apa tentang blogging he he he …

Ternyata sepekan sebelum hari H, saya mendapatkan informasi dari istri kalo event Father’s Day-nya berisi lomba-lomba yang melibatkan ayah dan ibu. Syukurlah, saya jadi tidak perlu pusing memikirkan lagi apa yang mesti saya katakan di depan Fida dan teman-teman kelasnya. Nah, tinggal bersiap untuk bersikap menjadi ayah yang semestinya dalam event itu. Untungnya saya pernah mewakili istri mengikuti pencerahan tentang Parenting di sekolah sehingga saya sedikit banyak mendapatkan pengetahuan berharga tentang bagaimana seharusnya ortu bersikap terhadap anak, termasuk ketika anak sedang menghadapi masalah yang harus diselesaikannya misal ketika mengikuti suatu lomba.

Hari H pun tiba, saya berangkat bersama Fida setelah sebelumnya berkejaran dengan waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya termasuk menyuapi Fida sarapan pagi. Maklumlah, Umminya ada jadwal rutin pekanan setiap Sabtu pagi sehingga tidak sempat memegang anak-anak. Lewat jam 8 ketika saya dan Fida sampai di sekolahnya, untunglah kami belum terlambat dan segera menempati tempat yang ditentukan. Bersiap dengan peralatan menggambar karena lombanya: Melukis bersama Ayah. Tema lukisan ada 3: sekolah, hewan dan lingkungan sedangkan Fida sendiri sudah mempersiapkan dan berlatih menggambar rumah. Nah lho, agak kurang nyambung tapi ya gak apa-apa lah toh rumah masih bisa berubah menjadi sekolah kan. Kenapa koq gak lingkungan aja, kan bisa rumah-rumah di lingkungan sekitar tempat tinggal? Fida maunya ada lautnya, so saya menyesuaikan saja, jadilah sekolah dengan gedung-gedung kelas model cluster di daerah pantai yang berpagar (seperti di film-film barat lah, weleh weleh).

Waktu dua jam, kami gunakan untuk berkolaborasi membuat gambar yang sesuai imajinasi Fida dan saya lengkapi dengan pertimbangan teknis dari saya. Tau kan, anak seumurnya (5 tahun) sebagian belum bisa memahami konsep dimensi (jarak, luas dan volume) sehingga tidak aneh jika dalam gambar kreasi anak-anak TK kita bisa menemukan ukuran rumah, orang , pohon dan bunga dalam vas yang ukuran, letak dan bentuknya tidak proporsional. Saya agak kewalahan juga dengan kreasi imajinatif Fida tapi saya berusaha mengarahkan tanpa menghilangkan minatnya dalam berkreasi. Beberapa kali Fida kehilangan konsentrasi dan turun semangat (dengan mengatakan capek dan lain-lain) tapi syukurlah saya bisa meyakinkannya untuk terus berusaha sebisanya. Hingga akhirnya jadilah sekolah di pinggir pantai versi Fida dan abinya. Selesai dengan hanya menyisakan waktu beberapa menit, sementara anak-anak dan ayah yang lain sudah selesai terlebih dulu jauh sebelum waktunya habis. Saya yakin setiap pengorbanan akan berbuah manis, so sabar ya Nak.

Piala Pertama untuk Fida

Setelah menunggu beberapa saat diselingi penyuluhan kesehatan oleh dokter sebuah RS swasta tentang Influensa (Infeksi Saluran Napas Atas), pengumuman pemenang lomba-lomba pun dibacakan. 6 hasil karya yang mendapatkan penilaian tertinggi diletakkan di atas meja, di depan. Sekilas saya seperti melihat gambar kami ada di paling atas, tapi saya sendiri tidak begitu yakin. Sesaat kemudian seorang ayah teman Fida sempat nyeletuk kalo gambar kami adalah pemenangnya tapi saya juga tidak berani membenarkan. Alasan keraguan saya adalah bahwa hasil gambar kami jauh kualitasnya (dari sisi realitas, bentuk dan pewarnaan) dibanding dengan gambar yang lain.

Satu demi satu mulai dari Juara Harapan III hingga Juara II dibacakan, akhirnya Juara I dibacakan … dan ‘Pemenang Lomba Lukis pada kesempatan ini adalah: Fida dan ayahnya!”. Glek, beneran nih? Ternyata benarlah apa yang saya lihat dan firasat bapak itu, gambar kami berhasil memenangi lomba. Alhamdulillah … Piala Pertama untuk Fida (dan abinya tentu he he he). Fida tentu sangat senang, terlebih lagi saya hingga sempat berkaca-kaca ketika menerima piala di depan kelas. Untungnya saya tidak mengambil gambarnya sehingga tidak tampak wajah saya yang pasti sangat sendu itu meski bercampur bahagia tentu. Faktor yang diambil oleh juri dalam penilaian lomba ini terutama adalah kerjasama dan kontribusi bukan semata-mata hasil sehingga meskipun hasil gambarnya bagus tetapi bila kerjasama dan kontribusi lebih dominan pada ayah maka nilainya tidak lebih banyak dibanding hasil gambar yang kurang bagus tetapi kerjasama dan kontribusi anak berimbang. Dan memang itu yang saya pentingkan dalam lomba ini, meskipun kriteria penilaian tidak disebutkan di awal (tentu kesengajaan bukan kecurangan kan ya).

Jadilah saya Ayah yang paling bangga pada Father’s Day kali ini, semoga di akhirat abimu ini bisa bangga dengan membawa serta sebanyak-banyak anggota keluarga kita masuk surga Allah ya, Fida. Tolong dibantu ya, Nak.

Iklan

14 thoughts on “Father’s Day: Piala Pertama buat Fida

    1. (Fida) Siap Budhe, makasih support-nya … hadiahnya kapan-kapan juga boleh 😀
      (Abu Faqih) Sebutan baru lagi nih, gak apa-apa kan Mbak? 🙂

  1. @ Fida: terus berkarya…ntar kalo sudah masuk SD mulai belajar menulis.ya, setidaknya bisa belajar dari Abi. Anaknya temen Om meskipun baru kelas 5 SD sudah bikin 3 cerpen… tetep tekun ya.. 🙂

    @ mas Dion: tetep semangat mas….

    1. Ini lagi yang jawab siapa, yang komentar siapa?
      Hi hi hi, gak apa-apa malahan keren koq. Yang lucu itu komennya: “Jzkh bi” … padahal yg komen Admin sendiri 😛 (begitulah kalo suami-istri, saling berbagi termasuk akun blog he he he)
      Gak apa-apa kok, San. Tetap semangat juga ya 😀

    1. Wa’alaikumussalam wr.wb. Salam kenal juga, Abi. Blog yang gado-gado mungkin cuma bikin kenyang tapi kurang gizi, semoga ke depan lebih baik. Insya’Allah semangat terus sampai akhir hayat, aamiin. Semoga juga Abi. 😀

  2. cayo fidaaaaa..
    teruskan bakatmu ^^
    jadi inget waktu SD kelas 3 ada lomba melukis juga. ga PD dengan hasilnya karena yg lain seperti pelukis beneran *hopeless* sampe ga dateng pas pengumuman lomba, eh..ternyata mim menang ahaha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s