Waktu untuk Diri Sendiri


Beberapa hari terakhir saluran kamar mandi rumah saya mampet. Airnya gak ngalir atau alirannya kecil banget, jadi meluap kamar mandi saya. Hadoh … atau mestinya asyiiik ….?

Sebenarnya ini bukan kali pertama terjadi pada saluran itu, yang sebelumnya malah lebih parah. Parahnya kenapa? Karena di jadikan satu dengan tampungan talang air atap belakang dan pembuangan tempat cuci piring (oleh si pemilik rumah sebelumnya, maklum mampunya beli rumah seken) setiap kali hujan lumayan deras langsung saja luapan air kamar mandi membanjiri dapur dan terus merambat hingga kamar belakang, ruang makan dan kamar depan. Konsekuensinya waktu itu setiap kali hujan deras, saya dan istri/asisten rumah tangga buru-buru deh menguras luapan air itu sebelum melebar ke mana-mana. Huff … repot banget. Masalah sedikit teratasi sesudah saya memindahkan tampungan talang air langsung keluar dengan pipa tersendiri, tapi ternyata masalah belum selesai di situ.

Suatu ketika lagi-lagi saluran kamar mandi mampet padahal pembuangan tempat cuci piring lancar-lancar saja. Nah lho? What’s wrong? Berhari-hari saya berusaha membereskannya tapi masalahnya belum terselesaikan, padahal hampir segala cara saya pakai (bukan menghalalkan segala cara macam PKI lho, ups salah ngomong gak ya?) mulai dari menyogok (bukan dengan duit tentu), menuangkan air panas (bukan dari sumber yang tidak halal tentu) sampai membubuhkan soda api (bukan tanda tangan palsu, lah koq jadi berbau KKN gini). Berkali-kali saya didesak istri untuk membongkar pipa yang ditanam dalam adukan semen tebal itu, tapi berkali-kali pula saya menolak karena menurut saya solusi lain masih bisa ditempuh dan itu adalah jalan terakhir saja. Alasannya jelas, karena membongkar instalasi dan membangunnya kembali bukan perkara satu-dua jam dan tentu butuh biaya yang tidak sedikit.

Akhirnya saya menemukan permasalahannya ketika saya mencoba mencari sumbatan itu dari tengah-tengah (kontrol pembuangan tempat cuci piring), ternyata ada gelas air mineral bekas yang masuk di belokan pipa (keni) sehingga tidak bisa lolos sampai keluar (selokan). Alhamdulillah … Setelah menggunakan teknik yang pastinya tidak diterapkan oleh teknokrat umumnya (maksudnya tukang pipa atau tukang batu), penyumbat itu pun bisa disingkirkan dengan sukses. Hampir setahun mungkin sejak kejadian itu, sampai pekan kemarin … saluran itu mampet lagi. Hhmmm … Sumbatan saluran kamar mandi buat saya tidak terlalu mengganggu (atau belum) tetapi yang paling mengganggu hati dan pikiran saya adalah efek psikologis yang muncul dengan sumbatan itu. Sumbatan hati kalo saya boleh menyebutnya, sehingga membuat ill-feel padahal apakah saya penyebabnya??? Ya sudahlah, mungkin ini ujian kesabaran buat kami semua.

Usaha-usaha yang sudah saya lakukan (lebih secara teknis) untuk melancarkan sumbatan itu:

  1. Membersihkan bak kontrol dalam dan luar, tujuannya untuk menghilangkan potensi penyumbatan lebih parah atau bahkan menemukan sumber masalahnya. Sayang saya tidak punya cukup ilmu yang dengannya saya bisa menyimpulkan apa sebenarnya sumber sumbatan. Hasil: nihil … saluran masih tersumbat. Biaya: Rp 0,-
  2. Menyogok pipa dengan benda panjang ke saluran, tujuannya untuk mengeluarkan sumber sumbatan melalui lubang di kontrol luar. Sayang selang air dan besi 5 mili yang coba saya gunakan tidak cukup panjang sehingga ujungnya muncul di bak kontrol. Hasil: air masih menggenang walaupun sebagian ‘lemak’ pipa bisa keluar. Biaya: Rp 52.500,- (harga selang 5/8″ cukup tebal Rp 7.500,-/meter)
  3. Memasukkan soda api ke saluran, tujuannya untuk menghancurkan sumber sumbatan yang sifatnya lunak seperti ‘lemak’ pipa agar mudah dikeluarkan. Prinsipnya seperti merebus pakaian yang kotor karena noda minyak, selain itu sifatnya yang sangat basa seperti sifat sabun cuci konsentrat. Hasil: kali pertama saluran menjadi lancar untuk hanya 1 hari, hari berikutnya saluran mampet lagi. Percobaan kedua bukan melancarkan, sumbatan malah semakin parah sehingga air sama sekali tidak mengalir. Biaya: Rp 39.000,- (harga soda api Rp 13.000,- / pak ukuran sedang)

Setelah hampir 10 hari saluran air mampet, akhirnya saya menghentikan usaha dengan berat hati dan menyerahkan urusan ini pada tukang yang hari ini membongkar tempat yang kami curigai menjadi sumber masalah. Setelah berdiskusi dengan istri tentang rencana ini sebelumnya, saya mencari tetangga (yang memang berprofesi sebagai tukang bangunan) dan meminta tolong menyelesaikan urusan ini. Walhasil, dengan saluran kamar mandi kami hari ini sudah lancar seperti sedia kala. Biaya: Rp 200-an ribu (untuk tukang, semen, pasir, pipa PVC, kopi dll).

Beberapa hari sebelum hari ini, dalam perjalanan menuju kantor saya sempat berpikir. Permasalahan peralatan rumah tangga ini seringkali terjadi, misal: pompa air ngadat, lampu kamar mati, stop kontak terbakar, kompor gas melempem, DVD player rusak, kipas angin mati, handle pintu lepas, dll. Pekerjaan rumah yang untuk saya sebagai kepala rumah tangga sering saya agendakan masuk dalam waktu untuk diri sendiri. Mengapa begitu? Karena saya pribadi (entah kalo bapak-bapak lain) merasa perlu untuk melakukannya sendiri dulu sebelum meminta tolong kepada orang lain. Mungkin karena saya menyukai kegiatan technical seperti ini sejak masih kecil. Proyek pertama saya: membetulkan jam weker. Agaknya kebiasaan/hobi itu tidak bisa lepas bahkan ketika saya akhirnya menjadi bapak sekarang sehingga terkadang beberapa pekerjaan rumah itu menjadi terbengkelai karena saya tidak punya pengetahuan dan pengalaman tentang pekerjaan itu, misal: membuat pagar kayu di depan tangga, mengecat pagar itu, membenarkan talang air, memasang keramik lantai dll (nah ini kan pekerjaan tukang bangunan semua … weleh-weleh). Buat saya waktu untuk diri sendiri itu semacam kesempatan untuk membuktikan pada diri sendiri kalo saya sebenarnya bisa melakukan pekerjaan baru. Bagaimana dengan Anda?

8 thoughts on “Waktu untuk Diri Sendiri

  1. seorang teman yg juga ibu rumah tangga pernah mengeluh sambil bercanda: bapak-bapak itu umumnya sok punya banyak waktu dan ketrampilan sehingga hot banget ingin kerjain semuanya sendiri padahal bisa jadi hasilnya justru tambah berantakan. hehehehehehe

    1. Jadi malu … tapi bukannya itu melatih kognitif dan motorik bapak-bapak? Halah … emang balita 😀
      Kalo Opa sendiri emang gak ‘sok’ begitu ya 😛

    1. Saya jadi tersandung tersanjung, berasa mempunyai ‘secret admirer’ … narsis banget ya. Semoga manfaat, Kang. Makasih sudah setia dengan blog ini, saya jadikan sahabat blogger ya (link updated) biar kita bisa sama-sama belajar 😀

  2. Infonya bagus, semangat kerja keras yang patut saya jadikan contoh, cukup memberi inspirasi…
    makasih yaa akh…
    Salam kenal, Salam ukhuwah..

    1. Sama-sama, cuma sharing pengalaman yang pasti sudah pada ngalamin juga 😀
      Mosok salam kenal terus Mas, kan saya sudah jadikan Mas sebagai sahabat blogger saya sejak kunjungan Mas pertama kali ke gubuk saya ini, btw semoga tidak bosan. Jazakallah khoir … 🙂

  3. Yang jelas, semua itu cuma bikin kepala saya mo pecah, terutama air talang yang tidak lancar, pokoknya senewen deh, apalagi waktu itu msh single, mo nyari tukang juga dapetnya abal2, soale ga tuntas2 mpe ganti tukang berkali2 huuhuhu …

    waktu itu mikirnya, coba aku laki2 pasti bisa mengerjakan ini semua, eh ternyata wlo laki2 blom tentu mampu juga ya mengerjakan semuanya 😀 tentu karena bukan ahlinya hehehe

    1. Betul Mbak, kalo mengutip sebuah lagu yang dulu pernah populer … “Tidak semua laki-laki … du du du …”
      Tapi sejak sudah menikah, apakah masih sering bikin puyeng juga hal-hal yang tadi itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s