X-Ray Portable untuk Deteksi Bom


Pekan kemarin media nasional sempat dipenuhi berita tentang meledaknya sebuah paket bom yang dikirim oleh seseorang tidak dikenal ke seseorang lain yang dulu dekat dengan kelompok JIL dan sekarang masuk dalam parpol besar. Waktu pulang kantor, sekitar jam 5-an sore waktu itu saya sempat melihat bagaimana seorang perwira polisi dengan peralatan seadanya berusaha menjinakkan bom yang dibungkus dengan sebuah buku. Dan akhirnya … duaaaaar, seketika 3-4 orang di sekitar paket bom itu termasuk sang perwira polisi tersungkur dengan luka-luka akibat ledakan bom tersebut.

Tampak dalam layar televisi, polisi itu membuka cover buku dengan terlebih dahulu menyiramkan air dengan selang (dibantu oleh seorang sedangkan 2 orang lain tampak hanya melihat saja) kenudian mulai mengupas lembaran-lembaran buku itu dengan menggunakan cutter. Bom meledak sesaat sang perwira berusaha memindahkan benda menyerupai batere handphone. Saya prihatin dengan kejadian ini meskipun turut berempati terhadap kondisi para korban, tetapi sepertinya ada yang keliru dengan yang hal tersebut. Beberapa jam atau di hari berikutnya seorang perwira polisi lain memberikan keterangan bahwa petugas yang menjadi korban bom tersebut telah melakukan kesalahan prosedur terhadap bom. Memang di latar berita disebutkan bahwa tim gegana (tim khusus yang bertugas untuk menjinakkan bom) terlambat datang, tidak semestinya siapa pun termasuk pejabat polisi dengan peralatan seadanya, tanpa pengaman, dan dibantu orang-orang awam melakukan tindakan tersebut.

Beberapa hari berselang setelah kejadian itu, masih di media nasional muncul secara berentet aksi-aksi penjinakan bom atau barang yang dicurigai merupakan bom oleh tim gegana hampir di seluruh daerah di tanah air. Yang menjadi pertanyaan saya adalah: Apakah prosedur penjinakan bom memang membolehkan sebuah bom diledakkan di tempat umum seperti yang tampak di media-media nasional? Beberapa atau malah sebagian besar benda yang disangka bom itu, ternyata hanya benda biasa (bukan bom) yang akhirnya harus hancur berantakan ketika tim gegana menggunakan peledak tambahan untuk ‘menjinakkan’ benda tersebut. Pertanyaan selanjutnya yang muncul dalam pikiran saya: Apakah tim gegana kita tidak dilengkapi alat bantu yang dengannya bisa dilihat apakah benda mirip bom itu benar-benar sebuah bom atau hanya benda biasa?

Saya jadi teringat bagaimana prosedur pengamanan di bandara dan juga di banyak lokasi umum seperti hotel bahkan kantor-kantor yang menggunakan metal detektor dan X-ray untuk mendeteksi keberadaan benda-benda berbahaya dalam tubuh, pakaian, tas, atau benda bawaan kita ketika hendak masuk. Apakah tidak bisa menggunakan peralatan-peralatan tersebut untuk mendeteksi bom pada benda disangka bom? Maksudnya memang bukan pintu detektor logam dan x-ray scanner besar yang dilengkapi ban berjalan itu, tapi detektor logam dan x-ray scanner portable yang mudah dibawa ke mana-mana sehingga bisa digunakan untuk mendeteksi bom di mana pun, kapan pun. Sekilas saya coba googling dan termasuk gambarnya, wow menarik sekali. Padahal seringkali yang muncul di gambar google, sesuatu yang tidak berhubungan dengan kata kunci malahan sesuatu yang berbau XXX. Ternyata peralatan-peralatan yang saya maksudkan ada koq dan dijual bebas. Contohnya seperti gambar di atas.

Saya sama sekali tidak menyangsikan profesionalisme jajaran kepolisian dalam menangani kasus-kasus dugaan bom yang belakangan sedang marak. Mungkin beberapa pekan ke depan isu bom ini akan beralih ke isu lain yang lebih panas … (biasa namanya juga Indonesia apapun menyesuaikan tren). Cuma sekedar bersaran bahwa keselamatan pribadi petugas gegana dan masyarakat di sekitar benda disangka bom itu adalah prioritas utama, karenanya mungkin hal-hal berikut bisa dimasukkan dalam prosedur penanganan dan penjinakan bom:

  1. Memberikan garis polisi sesaat sesudah sampai di TKP, tidak seorang pun termasuk pemilik gedung/rumah atau wartawan untuk  melintas meskipun untuk maksud membantu (fungsi garis adalah memberikan perimeter aman untuk warga dan keluasan petugas untuk melakukan tindakan lebih lanjut)
  2. Memberikan arahan kepada masyarakat umum di sekitar TKP untuk tidak melintas garis polisi dan sebaiknya tidak menonton apapun yang sedang terjadi (evakuasi warga dari TKP secepat mungkin)
  3. Menunggu petugas gegana untuk menangani bom atau benda disangka bom dan tidak melakukan tindakan apapun terhadapnya meskipun petugas polisi tersebut pernah belajar atau bertugas dalam tim gegana (sesuai fungsi dan tanggung jawab sajalah)
  4. Menggunakan detektor portable (baik metal maupun x-ray) yang saya maksud di atas dan atau anjing yang dilatih khusus untuk mengenali bom (tentu untuk menghindarkan korban atas meledaknya bom dengan terlebih dulu memastikan apakah benda itu benar bom atau bukan)
  5. Apabila mungkin memindahkan benda disangka bom itu ke bomb chamber pada mobil gegana, tentu setelah dipastikan bahwa benda itu bukan bom, maka menjinakkan atau meledakkan benda itu dalam chamber adalah tindakan paling bijak (meledakkan bom yang belum diketahui tingkat ledakannya bisa menimbulkan kerusakan parah dan korban jiwa bukan)
  6. Apabila pada level tertentu petugas bisa memastikan bahwa benda itu memang benar bukan bom, maka tindakan penyidikan atas benda tersebut akan lebih mudah dilakukan karena fisik benda masih utuh, sedangkan penjinakan bom untuk penyidikan lanjutan adalah level yang sangat tinggi (mungkin itu tidak prioritas untuk diterapkan oleh tim gegana kita saat ini, mungkin beberapa tahun ke depan)

Demikian sedikit tanggapan saya terkait kasus bom dan benda disangka bom yang sedang marak, bila ada kekeliruan pasti karena kekurangan dan kealpaan saya (dan memang saya bukan praktisi atau pakar hal tersebut) semoga tidak menjadi keburukan untuk pihak yang bertanggung jawab. Saya sungguh berharap ke depan, tim gegana khususnya dan kepolisian dapat meningkatkan performanya. Namun harapan terbesar saya: semoga negeri ini terbebas dari kasus-kasus serupa sehingga masyarakat dapat hidup dengan tenang.

—————oOo—————-

Sumber gambar:
  1. answering.wordpress.com
  2. alibaba.com
Iklan

13 thoughts on “X-Ray Portable untuk Deteksi Bom

    1. tanggapan pertama …
      contohnya seperti apa, Kang? apakah pengalihan isu politik negeri jiran itu … tapi yg jadi ‘sasaran bom’ bilang ini sarat politis … malah balik ke ranah awal dong ya 😀

  1. apapun motif yang ada di balik teror tersebut, sampai saat ini masyarakat kita malah semakin dihantui perasaan was-was, hingga akhirnya mereka menjadi cemas bahkan takut ketika menerima, melihat barang (paket) yg mencurigakan. Terbukti dari banyak kejadian beberapa hari ini, tim Gegana disibukan dengan banyaknya laporan mencurigakan, padahal hampir semua tidak terbukti itu BOM… terus bagaimana dong…! jangan salahkan kita kalo harus membuat tim Gegana selalu sibuk menjinakan bungkusan, paket dan lain-lain yg sebenarnya bukan BOM…

    1. Karena kejadian meledaknya bom itu terekam kamera tivi … bad news are good news, bukan?
      Kalo benar tim gegana sibuk, tidak apa-apa karena semakin banyak praktik makin lihai … practice make perfect 😀

  2. Bener2 aneh.. penjinak bom cuman pake selang air. Secara logika aja udah aneh.. Btw bukannya alat2 itu tsb d atas paling cuman deteksi doang ndan, bukan penjinak (jgn2 nih alat titipan vendor yah? waduh jgn niru yang sudah2 lah :D).
    Klo menjinakkan tetep harus pake keahlian khusus dan minimal pake baju khusus lah.. Review nya udah keluar ndan pemenangnya, dan yang menang emang kreatif bgt. Ngga kayak kita (gw kali yah) ngandalin bahasa marketing doang kwkwkwk..

    1. Iya, makanya aku tulis untuk mendeteksi bom, bukan untuk menjinakkan bom (lihat deh gambar google untuk kata kunci ‘x-ray scanner’ …).
      Ho oh, ada yang ‘cuma begitu’ doang tapi bisa menang … perlu belajar banyak nih 😀

  3. Yang juga jadi pertanyaan, kenapa masyarakat mudah panik & ke-geer-an setiap nerima paket. Curiga dikit langsung lapor..

    Kemaren (udah agak lama) mesen alat penghemat listrik. Eh, baru kemaren dikirimin ke rumah. Alamatnya ke rumah tante. Langsung deh buru2 sms tanteku kalo titipan itu bukan bom =))

    1. Iya ya, mungkin Zico bisa tulis tentang fenomena sosial ini … yah buat referensi kita-kita atau aparat 😀
      Wah ngeri juga tuh, paket kiriman elektronik kalo dideteksi pake metal detector aja pasti lebih cenderung mengarah ke bom, apalagi kalo deteksinya manual … 😛
      Makasih kunjungannya … btw, tadi jadi ikut ke NKG?

  4. wah, sama mah pusing deh kl bahas issue politik… puyeng ngikutinnya T_T
    tapi untuk kasus yang bom itu, ko orang2 malah berkumpul ngerumunin bomnya ya… malah dipegang2, bukannya diamankan gitu, nunggu team gegana dulu, ko ini malah pada digerecokin gitu…
    ga takut meledak apa ya…

    1. Itulah kesalahan prosedurnya, Ma. SOP-nya pasti ada, cuma mungkin jarang disimulasi kali ya, pas kejadian jadi agak bingung gimana gitu 😦
      Kalo yg pada ngerubung pastinya keingintahuannya lebih besar dari ketakutannya, tau sendiri kalo adrenalin sdh mulai ngalir … ya gak, Ma 😀

  5. saya belum pernah terima paket semenjak adanya bom buku. Tapi kalo melihat kejadian di Utan Kayu kayaknya tu pak Polisi ga baca prosedur kali ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s