2 Tahun Anak Laki-laki Kami


Tepat tanggal ini, dua tahun yang lalu putra kami, Muhammad Faqih Abdul Hafizh, lahir ke dunia. Alhamdulillah, sehat meski harus melalui operasi caesar. Cerita seru ketika istri saya mengandungnya mungkin sudah saya tulis di sini, hingga hampir lahir kami masih harus ‘deg-degan’ karena sore hari sebelumnya kami mencoba proses persalinan normal dengan induksi. Berjuang semalaman tapi hingga dini hari rasa mulas yang dirasakan istri bukan semakin kuat tetapi malah menghilang. Akhirnya sesuai kesepakatan dokter mempersiapkan operasi caesar. Pagi kira-kira jam 8.58 WIB, Faqih untuk pertama kali menghirup nafasnya sendiri. Subhanallah …

Saya jadi teringat pada tiga tahun lalu menuliskan hal senada tentang putri kami, Naila Salma Mufida, di gubuk blog lain. Nadanya agak sentimental, mirip saat ini karena sudah 2 pekan Fida mengalami patah tulang tangan kanan karena terjatuh dari jungkat-jungkit di rumah teman umminya. Sedih tapi dia harus tabah, karena pengalaman adalah guru paling berharga. Semoga dia tidak menjadi penakut karena sebelumnya dia termasuk berani dalam aktifitas geraknya (psikomotorik). Semoga juga perawatan yang kami usahakan untuk Fida dapat mengembalikan kondisi tangannya seperti semula sehingga segera bisa bermain dan belajar bersama teman-temannya.

Memahami rahasia kehidupan = memahami skenario Illahi

Entah mengapa saya sering memikirkan ini, mungkin juga pernah menuliskan tentang ini seperti di sini dan sini. Allah, SangKhalik, punya rencana yang rahasia … dalam terminologi Islam disebut ghoib. Sesuatu yang mesti saya imani, seperti kerahasiaan kehidupan sesudah alam dunia misalnya, begitu juga tentang rahasia kehidupan saya di dunia. Umur, rejeki, jodoh adalah ketentuan-Nya, sesuatu yang niscaya dan sebaiknya diterima sebagai skenario terbaik untuk kita. Memang terkadang kita merasa tidak ‘suka’ atau bahkan ‘benci’ dengan kenyataan ini, sesuatu yang sangat manusiawi, tetapi dengan keyakinan bahwa Allah tidak mungkin ‘zholim’ kepada hamba-Nya maka suka atau benci mestinya hanyalah reaksi sesaat yang tidak mengubah ‘cinta’ kita pada-Nya.

Dua pekan yang lalu saya tiba-tiba mendapat informasi dari unit diklat kantor untuk mengikuti suatu diklat selama 13 hari. Memang sebelumnya saya sudah mendapat informasi pendahuluan dari unit HRD tentang hal itu tapi tidak dalam waktu dekat, ternyata ada perubahan dalam pelaksanaannya sehingga saya harus siap sehari sesudah mendapat informasi terakhir. Hmmm, apa boleh buat ini konsekuensi menjadi pegawai: melaksanakan perintah, siap atau tidak (tapi bukan korperi – korban perintah lho). Tidak seperti umumnya diklat yang jadwalnya di hari kerja, diklat kali ini menggunakan juga hari Sabtu sehingga beberapa agenda rutin harus saya lewatkan. Jadwal hariannya pun cukup padat sehingga bahkan untuk ‘ONLINE’ saja hampir tidak sempat. Saya dan rekan-rekan yang tinggal di Jakarta harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam, sampai di rumah pun kondisi badan sudah tidak bisa diajak kompromi sehingga paling cuma sempat bercengkrama sejenak dengan keluarga dan selanjutnya beristirahat.

Kuncinya memang di niat, walau motivasi lain bisa saja muncul, tetapi dari niatlah saya bisa menerima kondisi ‘tidak nyaman’ itu dan menjalaninya hingga akhir. Dan saya yakin mendapatkan nilai positif dari diklat ini, bahkan meskipun sebelumnya saya sudah mendapatkan sebagian materinya ketika kuliah dulu. Diklat ini selain memantapkan saya untuk ‘berani’ berbagi pengetahuan dan pengalaman di forum klasikal juga membekali saya keyakinan sekaligus teknik untuk ‘mengubah’ kondisi dengan pendekatan komunikasi efektif ‘orang dewasa’. Saya jadi teringat ketika beberapa waktu lalu mengikuti seminar motivasi di kantor, muncul keinginan untuk melakukan motivating kinerja di kantor dengan pendekatan ‘turun ke bawah’ (he he he, padahal memang masih di bawah koq) langsung ke lokasi kegiatan (atau ‘on the spot’) tapi kan belum punya ilmunya? Kalo saya kompulir (memakai istilah kompilasi dari pejabat orde lama) sebenarnya beberapa pengalaman diklat sudah memenuhi kompetensi untuk itu.

Faqih, harapan masa depan kami

Kembali ke … tema sentral. Menjadi orangtua anak laki-laki memang ‘agak’ berbeda dengan orangtua anak perempuan. Anak laki-laki seperti punya energi yang tak pernah habis, meledak-ledak kami sehingga sering kewalahan. Tenaganya juga kuat sehingga jarang bahkan hampir tak ada mainan yang bertahan lebih dari satu pekan. Meskipun baru mulai jalan setelah 13 bulan, Faqih sudah lancer lari sebelum 1,5 tahun. Memanjat-manjat, melempar-lempar, berteriak-teriak, dan menendang bola. Meski belum bisa merangkai kata dalam kalimat, Faqih sudah sangat baik mengingat nama-nama barang dan aktifitas serta menyebutkannya kembali meski lafaznya juga belum terlalu jelas. Tapi komunikasi dengannya ‘so far so good’, bahkan ketika diminta membantu ummi abinya Faqih lebih rajin dibanding kakaknya.

Nama Faqih adalah bagian saya memberi nama, setelah istri saya memberi nama untuk putri kami Fida. Muhammad Faqih Abdul Hafizh, harapan saya anak laki-laki kami bisa mewarisi semangat, sifat dan akhlak Rasulullah SAW (qudwah dan uswah kami), menjadi seorang yang paham dengan hukum agama (dan hukum positif, seperti umminya) dan menjaganya dalam kehidupannya (hamba SangPenjaga). Selain itu ‘cita-cita’ saya menggabungkan dua Hafizh dalam nama Faqih, karena kami ingin dia menjadi seorang muslim penghafal Al Qur-an yang kedudukannya mulia di dunia dan di akhirat: M. Faqih Abdul Hafizh Al Hafizh … insya’Allah. Bila orang dulu (yang sederhana) berharap anaknya mendapat kedudukan terhormat di masyarakat sedemikian kedudukan mereka terangkat, maka sesederhana itu harapan kami Faqih (dan Fida tentu) bisa mengangkat derajat kami (orangtua mereka) terutama di akhirat (di antara penduduk langit). Adapun kehormatan di dunia bukan yang utama melainkan bonus semata.

Sebagai penutup catatan akhir pekan, sudah lebih dari 2 pekan saya tidak meng-update blog ini. Lebih lagi karena saya memasang ‘sticky post’ untuk kompetisi menulis dongeng jadi lebih terkesan ‘hiatus’. Terbersit niat untuk mengejar ketinggalan posting dari para ‘guru’ yang sudah ‘istiqomah’ dengan postaday-nya, tapi mengejar 14 post lebih dalam waktu kurang dari 7 hari maka tuntutannya menjadi minimal 2 posting/hari. Bisa gak ya? Btw, mohon do’a dari sobat-sobat semua untuk putri kami yang sedang menjalani perawatan dan putra kami yang baru genap dua tahun. Terima kasih telah mau berbagi kebahagiaan dan harapan dengan do’anya.

7 thoughts on “2 Tahun Anak Laki-laki Kami

    1. Faqih: Aamiin … makasih Bulik, ditunggu paketnya 😛
      Abinya: Hi hi hi, buruan aja deh mumpung belum dilarang punya anak banyak, kaya’ di China 😀

  1. Senangnya melihat postingan baru. Yah, biar gimana juga mengurus anak jauh lebih penting daripada ngeblog sih ya. hehe. Gak perlulah merasa kecil hati karena tertinggal dalam jumlah postingan. 😀

  2. Barakallah untuk Faqih dan Syafakallah untuk Fida, Insya allah kita semua selalu diberikan jalan yang terbaik oleh Allah SWT, hanya kadangkala kita terlalu sombong berkata harusnya yg terbaik seperti ini seperti itu, padahal Allah telah mengatur semuanya dan yang terbaik untuk kita semua. Salam untuk keluarga semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s