Saltum (salah kostum) Lokal


Saya tidak akan membahas tentang pakaian saat traveling atau dress-code pada acara tertentu. Yang akan saya bahas adalah tentang nasib seorang pengendara motor (biker/rider, mana yang benar?). Loh, trus apa hubungan kostum dengan biker? Nah begini ceritanya …

Akhir-akhir ini saya sering mengalami perubahan cuaca yang ekstrim, halah … Maksudnya begini, dalam perjalanan yang tidak terlalu panjang: Ragunan – Beji, sering terjadi perbedaan cuaca yang mencolok. Contohnya beberapa hari yang lalu, sore itu sepulang kantor di daerah Ragunan hujan lumayan deras. Pengendara motor yang tetap melanjutkan perjalanan umumnya mengenakan jas hujan atau mantel. Termasuk saya, mengenakan jas hujan ‘one piece’ dengan dua kepala. Model yang sudah banyak ditinggalkan namun cukup praktis apalagi bila sedang berboncengan, tidak perlu membawa dua mantel meskipun memang kurang efektif menahan air hujan dan menurut sebagian orang kurang aman. Tentang jas hujan mungkin perlu pembahasan tersendiri, di kategori ‘safety riding’ next episode lah …

Menjelang Ciganjur, cuaca berubah sama sekali. Cerah tanpa hujan, bahkan sinar matahari sore begitu hangat seperti biasanya. Aneh sekali, apa ini yang disebut hujan lokal? Nah, di sini saya menemui beberapa pengendara motor yang menepi. Mereka membuka jas hujannya, melipatnya kemudian melanjutkan perjalanan. Mungkin mereka merasa kurang bahkan tidak nyaman dengan tetap menggunakannya ketika cuaca tidak hujan. Saya termasuk yang tidak terlalu suka repot dengan hal itu, biarlah jas hujan tetap saya pakai toh perjalanan sudah tidak terlalu jauh. Saltum (salah kostum) jadinya … ha ha ha, gak masalah.

Pernah saya dilihatin orang-orang, terutama pembonceng motor tentang saltum ini. Mungkin dalam pikiran mereka, orang ini aneh banget sih gak hujan aja pake mantel. Tapi yang kemarin lusa itu, benar-benar di luar dugaan. Sampai di Tanah Baru, cuaca agaknya tidak mau kompromi. Tiba-tiba saja hujan deras, sehingga saya lihat banyak pengendara motor berhenti untuk berteduh dan sebagian yang lain mulai memakai jas hujan. Dalam hati saya tersenyum (karena hati tidak punya gigi untuk ditunjukkan, jadi tidak perlu tertawa kan), boleh jadi di antara pengendara motor yang berteduh itu tadinya sama-sama dengan saya memakai jas hujan dari Ragunan. Mereka melepaskannya di Ciganjur sehingga harus berhenti untuk memakainya lagi di Tanah Baru karena hujan berselang-seling dengan cerah.

Ternyata saltum lokal ini ada hikmahnya juga ya … Bagaimana dengan Anda, apakah termasuk yang suka saltum lokal atau tidak?

Iklan

8 thoughts on “Saltum (salah kostum) Lokal

  1. Hehheee….. kayaknya sering tuchhh… kalo mantel mah, secara cuaca depok sepertinya tidak merata. ITC Depok hujan deres, begitu masuk pitara sampai ke citayam kering kerontang, hehee…. cuek aja.

  2. assalamu ‘alaikum….
    wah hebat sekali kali ini menang dua langkah dari pada pengendara motor yang lain.. Pepatah benar mengatakan”Sedia payung Sebelum hujan”..
    Tapi Tidak dengan ini yakni tetep bermantel sebelum ujan, hehe

    1. Wa’alaikumussalam wr.wb.
      Sebenarnya bukan menang, mungkin cuma beruntung. Membuktikan kalo rejeki juga diberikan untuk yang ‘malas’, tetapi ingat … pahala hanya diberikan untuk yang ‘rajin’ lho.
      Bisa buat pepatah baru nih: “Alon-alon waton nggo mantel” 🙂

  3. Saya bukan bikers. Tapi kalo ngeliat orang pake jas hujan di atas motor padahal cuaca cerah, saya sih bisa maklumin. karena akhir2 ini cuaca memang gak menentu. *mulai pilek nih 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s