Menjadi Ayah Sesungguhnya (Part 1)


Di akhir tahun 2010 tepatnya 7 Desember yang lalu saya mengikuti seminar parenting di sebuah masjid di wilayah Sawangan. Pembicaranya Ust. Bendri Jaisyurrahman, S.Ikom. Temanya: Mau Dibawa ke Mana Keluarga (Ketika Ayah Tak Lagi Ada). Materinya sangat menarik, meskipun sebagian sudah pernah saya dapatkan dari sebuah kajian Syiar Maulid Nabi Muhammad SAW yang menghadirkan Ust. Budi Darmawan sebagai pembicaranya. Berkisar masalah penguatan peran Ayah dalam pendidikan anak (baca: pengasuhan). Saya mensarikan materinya, silakan diunduh di sini.

Nah, pagi tadi saya kembali diundang oleh panitia yang sama untuk Sesi 3 seminar parenting dengan pembicara yang sama. Alhamdulillah kali ini saya bisa mengajak istri setelah sebelumnya sendirian karena istri sedang kurang sehat. Tema yang diangkat panitia: My Lovely Family – Bahasa Cinta, Bahasa Bahagia, namun materi yang disampaikan pembicara ternyata lebih operasional pada penguatan peran Ayah (sebagai materi lanjutan dari sesi 1, karena Sesi 2 diisi oleh pembicara lain).

Resume materinya belum saya buat, insya’Allah setelah jadi akan saya sharing di sini, tapi beberapa poin penting akan saya sampaikan sekarang. Ayah yang ‘dicap’ oleh anak sebagai bagian orangtua yang berkewajiban mencari nafkah di luar rumah mempunyai posisi yang sangat strategis dalam perkembangan anak. Meskipun Ibu memegang porsi lebih banyak untuk berinteraksi dengan sang buah hati namun peran Ayah tidak bisa diabaikan. Perkembangan anak akan timpang ketika fungsi Ayah tidak berjalan, banyak hal baik fisik, mental maupun spiritual. Karenanya meskipun porsi waktu Ayah sangat terbatas di dalam rumah, terlebih untuk anak bukan berarti tidak bisa dioptimalkan. Salah satu kiatnya adalah dengan memanfaatkan waktu-waktu kritis anak. Ust. Bendri menyampaikan setidaknya ada 5 waktu kritis bagi anak yaitu: pagi hari (sebelum berangkat ke sekolah), siang hari (sepulang sekolah), malam hari (sebelum tidur), hari libur (ketika Ayah juga libur), dan masa pubertas (ketika anak mulai mengenal ‘cinta’).

Materi yang dibahas pagi tadi terkait satu waktu kritis anak yaitu: Pagi Hari. Temanya: Tugas Ayah di Pagi Hari. Secara ringkas, setidaknya ada 3 hal yang perlu dilakukan Ayah di pagi hari yaitu:

  1. Membiasakan anak bangun pagi
  2. Mempersiapkan anak untuk beraktivitas, baik spiritual, emosi maupun fisik
  3. Memberikan perpisahan yang berkesan

Ada kiat-kiat sukses untuk melaksanakan tiga tugas di atas. Insya’Allah akan saya perinci dalam resume materinya. Bila tidak sabar Anda bisa membaca-baca atau berkonsultasi tentang parenting di langkahkita.com atau sahabatayah.com, silakan.

Yang menarik adalah, boleh jadi kiat-kiat tersebut sudah kita ketahui sebelumnya tetapi belum kita praktikkan. Lebih menarik lagi (baca: menantang) hal-hal tersebut dilakukan Ayah ketika waktunya juga kritis buat dirinya sendiri. Siapa yang tidak repot ketika pagi hari bersiap-siap ke kantor atau bekerja, sementara harus melakukan tugas ‘tambahan’ rumit seperti itu. Biasanya tugas-tugas itu secara otomatis menjadi ‘kewajiban’ Ibu, padahal tentu dia juga sibuk dengan berbagai urusan rumah tangga (termasuk menyiapkan keperluan suaminya) apalagi bila Ibu juga bekerja. Nah, clue yang bisa diambil dari hal tersebut adalah: Untuk mencapai TUJUAN, perlu PROSES. Tidak ada hasil akhir (baca: tujuan) yang baik tanpa usaha (baca: proses) yang terencana dan kerja keras. Bila kita memandang penting sesuatu tentu kita tidak segan untuk mengusahakannya, demikian juga masa depan anak. Siapa tidak mau anak berprestasi?

Semoga bermanfaat …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s