Curhat di Hari Pendidikan Nasional


Entah berapa tahun sejak saya mengikuti upacara bendera Hardiknas semasa sekolah dulu (padahal juga belum lama he he he). Maklumlah karena model upacara bendera seperti itu hanya diterapkan untuk jenjang pendidikan SD hingga SMA saja, dan tidak diterapkan untuk jenjang perguruan tinggi. Yah … tentang upacara bendera di hari-hari nasional dua blogger sempat posting di sini atau sini, tetapi menyisihkan waktu meski bukan untuk upacara seperti itu tetapi untuk mengevaluasi dan merenungi seberapa pencapaian negeri ini di bidang pendidikan mestinya diatur dengan undang-undang. Bukan untuk menyusahkan tentu, tetapi untuk menyamakan persepsi dan perhatian kita terhadap dunia pendidikan nasional.

Saya sempatkan membaca beberapa artikel terkait pendidikan hari ini, sebagai refleksi khususnya untuk diri saya sendiri yang sudah mengenyam pendidikan selama lebih dari 22 tahun, lebih dari separuh umur saya sendiri. Terlebih dua setengah tahun saya bergelut dengan pendidikan di bidang pendidikan di UNJ, meskipun akhirnya sampai sekarang saya belum benar-benar memanfaatkan gelar (baca: pengetahuan) yang saya peroleh untuk mengajar secara formal di sekolah atau kampus. Ada tanggung jawab moral yang mesti saya tunaikan, meski tidak mengajar.

Catatan Penting Hari Pendidikan Nasional

Untuk peringatan Hardiknas tahun 2011 ada beberapa catatan penting yang saya tuliskan di sini, di antaranya:

  1. Anggaran pendidikan yang disetujui DPR tahun 2011 sekitar 249 Trilyun Rupiah (Anggaran Kemdiknas sendiri 55,623 Trilyun Rupiah), dari 1.229,558 Trilyun Rupiah ABN tahun 2011. Jumlah ini senilai 20,26%. (Mengacu pasal 29 UU Nomor 10/2010 dan SE Menkeu Nomor SE-676/MK.02/2010). Anggaran tersebut menurut Wamendiknas Fasli Jalal 80% di antaranya untuk membiayai gaji dan tunjangan guru. Atau yang berarti hanya 20% untuk operasional dan peningkatan kegiatan pendidikan. Meskipun menurut beliau hal ini ditempuh sebagai proses menuju peningkatan kualitas pendidik. Seperti tertulis di sini.
  2. Dana BOS yang disalurkan Pemerintah Pusat melalui Kemdiknas, belum optimal diserap (baca: dimanfaatkan) oleh Pemerintah Daerah. Tercatat dari Laporan Penyaluran BOS 2011 yang bisa dilihat di sini, maka penyerapan hingga 31 Maret 2011 baru mencapai 86,6%. Padahal untuk operasional sekolah, pemerintah sudah membebaskan masyarakat dari SPP, meskipun bertahap sesuai kemampuan daerah, sehingga BOS yang menjadi 70% penyokong operasional sekolah adalah tulang punggung utama berjalannya kegiatan pendidikan di negeri ini.
  3. Program wajib belajar 9 tahun yang pernah diusung pemerintah akan diubah menjadi hak belajar 9 tahun. Hal itu dikemukakan Mendiknas dalam sosialisasi Renstra Kemdiknas 2009-2014 di depan Komisi X DPR RI seperti tertulis di sini. Paradigma baru ini adalah angin segar yang sangat diharapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia karena lebih sejalan dengan UUD 1945 Pasal 31, sekaligus menjadi tantangan berat untuk Kemdiknas khususnya dan seluruh elemen pendidikan umumnya sehingga sasaran tersebut bisa tercapai.
  4. Tema sentral Hardiknas tahun 2011: Pendidikan Karakter (atau mestinya Pendidikan Berkarakter, entah mana yang benar). Sebagaimana akan (atau sudah) dicanangkan oleh Presiden SBY, sebagaimana diinfokan oleh Kemdiknas di sini. Sekretaris Jenderal Kemdiknas Dodi Nandika pada kesempatan yang sama menyampaikan, secara harfiah karakter memiliki makna mengukir, dengan cara multidimensi. Namun yang paling penting adalah habituasi (pembiasaan) ke siswa.  “Membiasakan tersenyum, respect to others,bersikap baik di kelas dan di luar kelas, yang penting bagaimana proses itu terbiasakan,” katanya. Menurutnya, pendidikan karakter yang sistemik di sekolah bukan hanya sekedar tempelan.  Guru memiliki peran sebagai transmitter, dan  harus disiapkan dengan baik. “Melatih guru merupakan bagian dari target kerja Kemdiknas, sampai 2010 sudah 20 ribu guru yang telah dilatih dan diberi materi tentang karakter,” ujarnya. Di tempat terpisah, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, konsep pendidikan karakter diawali dengan kejujuran. Kemdiknas telah merumuskan bagaimana agar siswa bisa lebih cinta Tanah Air, sopan santun, dan memiliki intelektual serta rasa ingin tahu (curiousity). ” Sebagai gerakan, pendidikan karakter tidak harus dituangkan dalam mata pelajaran. Tapi oksigen yang diselipkan dalam mata pelajaran dan budaya di sekolah,” katanya.

Kondisi Dunia Pendidikan Nasional

Begitu banyak berita buruk dan opini negatif tentang dunia pendidikan kita, jadi tidak perlulah saya tambahkan satu lagi di blog ini. Yang menarik untuk dibahas sebenarnya adalah “Sampai di mana pendidikan kita dari rencana kesuksesasan dunia pendidikan nasional di masa depan?” Tetapi sayang saya sendiri masih sangat awam tentang hal tersebut. Tetapi saya coba untuk menuliskan daftar prestasi dunia pendidikan kita belakangan ini, semoga menjadi motivasi positif bagi kita semua.

  • Indonesia meriah 3 medali perak pada Olimpiade Internasional Astronomi. Sejak astronot wanita pertama kita dulu, belum ada lagi prestasi kita di bidang ini. Beritanya bisa dibaca di sini.
  • Siswa sekolah Aceh mengikuti Olimpiade Internasional. Prestasi yang membanggakan selepas tsunami yang dahsyat, patut menjadi contoh buat siswa-siswi di daerah lain. Beritanya silakan baca di sini.
  • Kembali menjadi juara Olimpiade Fisika. Meskipun sesudahnya agak kurang mendapat perhatian, tetapi mestinya tidak menjadi kontraproduktif. Baca beritanya di sini.

Silakan juga yang mau unduh pidato Mendiknas dalam rangka peringatan Hardiknas tahun 2011 di sini. Nah, kiranya itu dulu curhat di Hari Pendidikan Nasional tahun ini, saya berharap curhat tahun depan merupakan ungkapan syukur dan ucapan terima kasih atas nikmat serta pencapaian positif dunia pendidikan nasional.

Referensi:

  1. http://yazer.multiply.com/journal/item/40/Upacara_Bendera.._Masih_Perlukah
  2. http://anaarisanti.blogspot.com/2010/05/perlukah-upacara-dihapus.html
  3. http://www.anggaran.depkeu.go.id
  4. http://www.surabayapost.co.id
  5. http://www.kemdiknas.go.id
  6. http://www.mediaindonesia.com
  7. http://aceh.tribunnews.com
  8. http://cikarangonline.com
Iklan

10 thoughts on “Curhat di Hari Pendidikan Nasional

  1. Ogah ah ngunduh pidato nya 😀 buat saya mah yang penting gimana adek2 yang di jalanan itu bisa sekolah gratis. itu aja deh.

    1. He he he, padahal yg pasang di situ juga belum baca lengkap koq. Setuju sama Mbak deh, gimana kalo kapan-kapan kopdar baksosnya di rumah singgah or sekolah master?

    1. Artikel bebas koq dibilang curhatan … mesti berbobot isinya dong, kalo curhatan baru boleh elek-elekan kaya saya ini 😛
      Semangat pemuda-nya itu lho, mantap … mantap 🙂

  2. waduh kalah set dong…..mau posting hari pendidikan juga ah. Mantap postingan dan link berkenaan dengan pendidikan.

    1. Bedalah yang sedang sibuk Ujian Nasional dengan yang gak, he he he … cuma sedikit, pastinya Pak Syaiful lebih paham lah daripada saya 🙂
      Kalo sudah posting kabari ya Pak, saya kunjungi deh 😀

  3. kayaknya pendidikan karakter itu benar (subjeknya karakter) juga pendidikan berkarakter juga benar (kalau subjeknya pendidikan).

    🙂 dua duanya benar… yang ungkin nggak bener itu implementasi di lapangan hehehe..

    1. Sebenarnya inilah yang muncul di pidato beliau:
      “Tema Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa dengan
      Subtema Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”
      Tentang implementasi di lapangan itu tanggung jawab kita semua tentu, bukan begitu Mas Unggul 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s