“Kapan ya jalanan kita bebas galian?”


Sudah hampir 3 pekan sejak saya terkena macet di bilangan Gandul (arah Brigif – Cinere) karena ada pekerjaan galian di pinggir ruas jalan. Yang tertulis di papan proyeknya (PLN Disjaya dan Tangerang):

HATI-HATI ADA PEKERJAAN BORING

SKTM 20 KV

(NB: Ada yang tau apa arti istilah BORING di atas?)

Sudah 3 hari ini ruas Jalan Kahfi I pun terkena proyek yang sama, dari arah Brigif bercabang ke arah Matoa dan ke arah Kampung Kandang. Sepertinya sudah menjadi hal lazim bagi kita bila jalanan sering digali untuk suatu proyek mulai dari PLN, Telkom, Indosat, hingga Gas Negara. Namun kelaziman itu ternyata diikuti dengan dua kelaziman yang lain: jalanan rusak dan kemacetan lalu-lintas.

Jalanan yang Rusak

Sungguh sangat disayangkan ketika suatu proyek menyisakan bekas di jalanan, mulai dari lubang menganga hingga tambalan yang tidak sempurna. Kalo sudah begini pengguna jalan yang jadi korbannya, kenapa? Karena warga negara membayar pajak atas layanan pemerintah termasuk fasilitas jalan, sehingga berhak mendapatkan jaminan atas fasilitas tersebut. Beberapa media dan blogger juga pernah menuliskan tentang hal ini:

Meskipun tidak persis sama dengan kondisi yang saya angkat di sini, tetapi konteksnya tidak berbeda jauh. Jalanan ibukota selain sering diterpa kerusakan akibat genangan air (istilah lain dari ‘banjir’), juga sering di’rusak’ oleh pihak-pihak yang berkepentingan membangun instalasi jaringan. Alasannya mungkin sangat sederhana, karena ‘murah dan meriah’ (istilah saya untuk efisien dan efektif).

Perusahaan-perusahaan yang berkutat dengan masalah infrastruktur jaringan tentu menghadapi persoalan sama ketika harus menambah kapasitas jaringan atau membuka jaringan baru. Entah memang ada aturannya atau karena tidak ada aturannya, secara gampang mereka menggunakan trotoar bahkan ruas (atau bahu) jalan untuk memenuhi keperluannya itu. Jadilah trotoar dan jalanan digali, ditutup, digali, ditutup, dan seterusnya seperti tidak pernah selesai. Akibatnya fisik jalanan dan trotoar menjadi rusak, bahkan ketika dilakukan perbaikan sekalipun maka kondisinya tidak sempurna seperti asalnya. (Jadi ingat gang depan rumah yang baru diperbaiki dengan dana PNPM Mandiri tahun kemarin tidak sampai 6 bulan bertahan karena harus dibongkar oleh galian pipa gas bumi)

Selain terkesan tidak ada tanggung-jawab kolektif dari penyelenggara jalan dan perusahaan penyelenggara proyek, pekerjaan gali lubang-tutup lubang seperti itu memunculkan pertanyaan: “Kenapa harus begitu ya?”. Bukankah lebih baik bila dibuatkan tunnel (saluran khusus) yang paralel dengan drainase (saluran buangan air/got) untuk keperluan instalasi jaringan apapun jenisnya? Beberapa ruas jalan protokol mungkin sudah menerapkannya (belum klarifikasi sih) tetapi sepertinya lebih banyak lagi jalanan yang belum memilikinya sehingga entah bagaimana insinyur proyek itu mengerjakan penggalian jaringan ketika di tempat galiannya ada jaringan perusahaan lain, saya tidak habis pikir. Yang pasti, akibat ke’konyol’an ini, jalanan menjadi korban awal dan pengguna jalan menjadi korban berikutnya (collateral victim).

Kemacetan Lalu Lintas

Jalanan ibukota yang bukan jalan nasional biasanya berukuran sedang bahkan sempit (hanya selebar dua hingga tiga kendaraan roda empat). Ketika ada pekerjaan galian seperti di atas maka efek dominonya adalah kemacetan lalu lintas. Entah kenapa meskipun sudah diberikan papan proyek tetapi kemacetan tetap tidak terhindarkan. Memang kalo mau murah-meriah jadi tidak memerhatikan standar pekerjaan proyek (sok tau ya … ), karena seperti pekerjaan fly-over non-tol yang sedang dikerjakan di ruas Jalan Antasari misalnya lokasi galian diberikan tidak hanya papan proyek tetapi juga pagar pembatas dari seng yang diberi warna mencolok atau menarik. Selain menghindari terjadinya kecelakaan juga menjaga keselamatan pekerja, bukan begitu. Cuma tentu jadi tidak murah lagi kan, dan lebih ribet jika jalanannya sempit.

Alhasil, alih-alih berhati-hati ketika melintasi lokasi-lokasi galian yang dipenuhi pekerja (setelah membaca papan proyek yang memang meminta kehati-hatian bukan cuma perhatian), lalu lintas menjadi macet karena mobil terutama akan mengurangi kecepatannya. Motor pun menjadi kurang leluasa menggunakan bahu jalan untuk mendahului mobil (padahal memang tidak boleh juga, ingat safety riding ya) sehingga kemacetan menjadi semakin parah. Sayangnya, bahkan ketika itu sudah bisa diprediksi sebelumnya (karena telah menjadi kelaziman) penyelenggara proyek tidak mau meminta maaf sebagai perwujudan tanggung-jawabnya kepada publik pengguna jalan. Maklum???

Saya coba googling tentang hal ini sebagai penyebab kemacetan jalanan ibukota, ternyata kurang lebih masalah ini belum masuk dalam daftar yang tertulis di media ataupun postingan blogger, seperti:

So, meskipun demikian secara real ini menjadi satu lagi penyebab kemacetan di jalanan kita. Apakah Anda setuju?

Nah sebagai penutup, saya menyebutkan satu solusi untuk permasalahan gali lubang-tutup lubang tersebut yaitu: Pembuatan Saluran Khusus untuk Instalasi Jaringan. Konsepnya tentu sederhana meskipun entah praktiknya gimana karena saya bukan insinyur PU. Intinya setiap perusahaan yang butuh perbaikan atau perluasan jaringan bahkan instalasi jaringan baru akan menggunakan terminal-terminal kontrol yang ada di titik-titik tertentu sehingga tidak perlu menggali di sepanjang ruas jalan/trotoar. Dengan begitu selain operasional proyek jadi lebih murah (karena tidak perlu bayar tukang gali sebegitu banyak dan tidak perlu perbaikan jalan/trotoar yang digali), situasi jalan menjadi lebih rapi, bersih dan lancar. Jadi kira-kira:

“Kapan ya jalanan kita bebas galian?”

Iklan

6 thoughts on ““Kapan ya jalanan kita bebas galian?”

  1. tadi malam pun soal galian jadi bahasan saya dan suami.
    gegara sepanjang jalan sungai bambu kami melihat jalanan yang sudah bagus dan rapi dibongkar entah itu oleh Pam entah oleh telkom atau mungkinkah PLn? ga penting! dan juga ga masalah sebenernya ASAAAAAAAAAAALLLLL galian itu dibuat rapi seperti sediakala. gampang kan? cuma masalahnya mereka itu emang seenak udel’e, ga pedulian sama sekali. bikin orang mengumpat dan ngedumel. ah menjengkelkanlah pokoknya 😦

    jadi jawabnya ya : kapan2 😀

    1. Jengkel ya, sabar lah … siapa tau itu lagi gali pipa PAM buat komplek Mbak, atau kabel telpon ruko Mbak, atau kabel listrik buat wilayah Jakarta Timur, atau … ya gitu deh. Makasih doanya, kapan2 jalanan kita bebas galian insya’Allah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s