Everything for you … almost


Entah apa yang ada di hati dan pikiran suami-istri pemulung itu, mereka bersama-sama membawa (suami menarik, istri mendorong) sebuah gerobak yang sarat dengan kardus-kardus bekas. Selain itu tampak beberapa anak kecil di belakang sang istri, seorang balita di dalam gerobak … tidur dengan nyenyak.

Gerobak itu, selain menjadi kantor mereka di siang hari juga menjadi rumah mereka di malam hari. Ketika siang dipenuhi barang-barang bekas, sumber pencaharian mereka, malam harinya menjadi tempat tidur yang nyaman untuk anak-anak mereka. Ini realita ibukota, bukan sekedar lelucon. Saat kita melintasi jembatan-jembatan layang (flyover) di daerah Jakarta Pusat maka pemandangan seperti di atas adalah hal yang biasa. Tidak banyak yang peduli, sebagian besar mungkin malah menghindar.

Saya tidak akan membahas tentang ini panjang lebar, mungkin lain waktu … insya’Allah. Saya cuma memberi gambaran bagaimana orangtua rela melakukan apapun untuk kebahagiaan buah hati mereka. Saya dan Anda yang sudah menjadi orangtua, tentu pernah menjadi anak-anak dari orangtua yang telah memberikan begitu banyak kepada kita. Mohon maaf dan saya turut prihatin untuk anak-anak yang tidak mendapatkan haknya dari orangtua mereka karena berbagai alasan, semoga anak-anak kita tidak mengalami hal serupa.

Ketika seorang anak terlahir di dunia, maka orang yang begitu dekat dengan kematian karena mempertaruhkan sebagian kehidupannya untuk sebuah kehidupan baru telah menjadi orang yang paling berjasa bagi si anak. Kita tentu sama paham bagaimana posisi ibu tidak tergantikan oleh ayah manapun, bahkan ketika sang ibu harus wafat ketika melahirkan sang buah hati. Dan tentu tidak berhenti sampai di situ, perjalanan panjang pengorbanan orangtua untuk anak mereka baru melewati fase-fase awalnya, saat ketika mereka tidak merasakan darinya kecuali kebahagiaan … ya dan kebanggaan. Saya yakin semua orangtua merasakannya, meski anaknya terlahir cacat sekalipun. Kebahagiaan itu bukan dari si anak, tetapi karunia SangKhalik … tidak ada yang bisa menggantikannya dengan apapun. Bila suatu ketika kita mendengar ada orangtua yang menjual anaknya yang baru lahir untuk sejumlah uang, maka apa yang ada di hati mereka tidaklah sama dengan apa yang kita sangkakan … saya yakin itu.

Suatu ketika saya, istri dan putri tercinta kami naik motor dalam kondisi hujan deras. Waktu itu, putri kami sedang menangis kesakitan karena barusan diurut bagian tangannya yang patah lebih sebulan lalu. Duh … sepanjang perjalanan dia meraung-raung dan kami tidak kuasa membuatnya tenang. Saya bahkan tidak berkata sepatah katapun, karena saya bisa ikut merasakan bagaimana takutnya ia dengan rasa sakit, meskipun mungkin bagi saya itu bisa ditahan. Kata-kata saya tidak akan bisa meredakan rasa itu, biarlah ia puas dengan raungan pilu hingga waktunya tenang. Ketika istri saya mulai membujuknya untuk tenang dengan menanyakan apa yang ia inginkan, maka tangisan kerasnya pun mulai mereda. Kami berhenti sejenak di depan sebuah mall, ia ingin makanan Jepang kesukaannya. Saya pun berlari-larian dalam hujan untuk sekedar membeli satu paket untuk dibawa pulang. Tak pelak lagi basah kuyup baju saya karena derasnya hujan.

Dalam perjalanan pulang dari mall itu, istri sempat memberikan nasihat kepada putri kami. Katanya, abi rela kehujanan untuk membelikan makanan, berarti abi sayang kepadanya. Kalo ia juga sayang pada kami orangtuanya, maka menahan sakit sedikit mestinya tidak menjadi masalah. Sambil berkata itu istri berkata kepada saya, gak apa-apa kan saya kehujanan demi putri kami, maka spontan dalam hati saya berkata, cuma kehujanan ini … gak masalah sama sekali. Sesaat pikiran saya melayang, jangankan cuma kehujanan … jiwa raga rela saya korbankan demi kebahagiaan putri kami. Tapi apakah itu pernyataan yang benar-benar tulus ikhlas?

Saya sadar belum menjadi ayah yang baik untuk anak-anak saya, kondisi di atas tidak selamanya bernilai benar. Mengapa? Karena saya terkadang masih terpengaruh emosi, misal ketika anak-anak rewel dan susah diatur padahal saya sudah berusaha memberikan penjelasan dan sikap yang baik, bila kondisinya tidak seperti harapan maka amarah saya bisa saja meledak. Saya masih belum bisa menemukan cara terbaik untuk mengendalikan emosi, padahal saya tau setelah itu saya akan menyesalinya. Tapi saya tidak akan menyerah, saya kan terus berusaha menjadi pribadi yang sabar … menjadi ayah yang baik untuk anak-anak. Tenang dan marah saya haruslah terkontrol, fungsional dan bisa dipahami oleh anak-anak. Sekarang belum bisa, tetapi suatu saat nanti insya’Allah bisa. Dan saya niatkan begitu.

Jadi, bila saat ini almost everything for you kids … suatu saat nanti yakinlah everything for you … insya’Allah.

Iklan

6 thoughts on “Everything for you … almost

  1. saya suka tulisan ini. menampilkan kejujuran apa adanya, mengakui kelemahan sambil berdoa supaya nantinya benar2 bisa berkorban apa saja.

    thanks for sharing 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s