Harkitnas: Akuarium atau PSSI?


Hari ini 103 tahun yang lalu, bangsa Indonesia mulai membangun semangat nasionalismenya. Untuk apa? Satu yang pasti: Terbebas dari penjajahan kolonial asing! Jadilah hari ini kita memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Seperti halnya dulu waktu masih sekolah (SD, SMP, SMA), sekarang pun saya kebagian jatah untuk memperingatinya dengan suatu upacara bendera (maklum PNS). Tapi karena ada agenda dinas lain, saya ‘terbebas’ dari kewajiban ini. MERDEKA! … nah lho.

Sejak dini hari saya niatkan untuk posting tentang suatu yang lain, bukan tentang Harkitnas, bukan berarti saya tidak bangga dengan sejarah bangsa ini tapi kondisi bangsa ini sepertinya belum mencerminkan harapan para penggagas pergerakan nasional waktu itu, meskipun kemerdekaan sebagai bangsa sudah diraih. Ada banyak PR untuk kita semua sehingga suatu saat nanti di tanggal 20 Mei bangsa ini bisa memperingatinya dengan kebanggaan yang sesungguhnya, seperti kebanggaan para pendiri NKRI waktu itu (17 Agustus 1945).

Akuarium (Ikan) Baru

Beberapa hari yang lalu, saya mengajak anak-anak jalan ke UI bersama istri. Tujuan awalnya sih supaya Faqih bisa tertidur karena entah kenapa hari itu dia seperti tidak mau tidur siang. Sayangnya bahkan hingga sampai beberapa putaran, Faqih belum juga mengantuk sehingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Istri mengajak kami mampir ke toko ikan di dekat persimpangan Kukusan untuk membeli beberapa ekor ikan karena Faqih sangat menyukai ikan. Sayangnya, ketika kami sampai di sana si penjaga toko seperti sedang asyik bertelpon dan tidak menghiraukan kehadiran kami. Ya sudahlah …

Sorenya, setelah anak-anak berhasil tidur siang. Saya dipaksa Fida untuk kembali ke toko ikan tadi dan membeli ikan seperti rencana sebelumnya (anak-anak tidak pernah lupa apa-apa yang dijanjikan pada mereka). Dengan besar hati, akhirnya saya memenuhi keinginannya dan terbelilah 4 ekor ikan Mas ukuran sedang @ Rp 3.000,- lengkap dengan makanannya @ Rp 2.000,- dan seperangkat mesin pompa udara mini @ Rp 24.000,- (menurut si penjual supaya ikan bertahan hidup lebih lama). Jadilah rencana awal beli ikan dengan Rp 5.000,- berubah menjadi membeli isi akuarium mini seharga total Rp 37.000,- (dikorting seceng) … lumayan (padahal jadi tekor). Yah … buat anak ini 🙂

Ternyata kami tidak punya stoples kaca yang besar (model jadul) sehingga istri menawarkan wadah krupuk plastik besarnya untuk dijadikan akuarium sementara buat ikan-ikan itu. Meski kurang layak, tapi sepertinya ikan-ikan itu cukup nyaman berada di sana dengan adanya pompa udara dan makanan yang cukup. Kerumitan muncul ketika Faqih yang begitu menyukai ikan, dengan semangat membaranya selalu berusaha untuk mengobok-obok isi ‘akuarium’ itu (namanya juga anak-anak). Kekhawatiran istri tentang hal itu memunculkan ide lama (ide hadiah ultah Faqih) untuk membeli sebuah akuarium ukuran kecil (menyesuaikan budget dan space yang ada).

Setelah harpitnas (saya tidak salah tulis lho), saya pun survei harga dan spek akuarium di tempat pembibitan ikan di perbatasan Jakarta-Depok tepatnya di Jagakarsa (dekat pangkalan angkot M.20). Antara fiber dan kaca ternyata lebih murah kaca, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk memesan sebuah akuarium ukuran 60 cm x 30 cm x 30 cm dengan harga Rp 100.000,- (kemahalan gak ya?). Hari berikutnya pesanan saya sudah bisa diambil dan tanpa saya rencanakan si penjual berhasil menawarkan perangkat akuarium yang lain yaitu berupa filter dan pipa air mancur seharga Rp 46.000,- dan pasir hias seharga Rp 15.000,- sehingga total belanja saya menjadi Rp 160.000,- (dikorting seceng lagi … padahal penjualnya beda).

Jadilah kami mempunyai sebuah akuarium sederhana (karena belum ada lampu dan koleksi ikan serta tanamannya masih minim). Meski demikian Faqih dan Fida (juga saya dan istri) cukup terhibur dengan keberadaannya. Semoga berkah 🙂

Konggres PSSI (Lagi-lagi) Ricuh

Speechless lah … sedih 😦

Iklan

8 thoughts on “Harkitnas: Akuarium atau PSSI?

  1. dulu, adik saya almarhum juga sangat suka pelihara ikan di akuarium, dan saya? cuma senang ngeliatnya aja, pengen punya, tapi ga pengen ngurusin? Nah? 😛

    kumpulin uang jajannya ya Faqih, ntar buat beli asesoris lainnya 🙂

    1. Sebenarnya belum tau orientasi kesenangan Faqih pada ikan: makanan atau hiburan? Karena belum kenal otak-otak ikan, ikan bakar dll, mungkin nasihat Budhe niQue bisa diterima. Padahal kelihatannya Faqih cenderung ke orientasi pertama, so siap-siap aja suatu saat dia minta ikan-ikan hias itu digoreng 😛

  2. selamat atas akuarium barunya. sepertinya harga 100ribu utk akuarium ukuran segitu sudah cukup baik harganya. selanjutnya tinggal perawatan.

    salam buat Faqih!

    1. Terima kasih, ini hadiah untuk anak-anak sekaligus hiburan untuk kami. Memang untuk ‘kesenangan’ harga menjadi bukan suatu yang sangat penting, selama masih ada keluasan rizki.

      Salam kembali dari (Abu) Faqih … he he he 🙂 karena dianya sudah tidur, Om!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s