Karakter Biker dan Safety Riding


Hampir sepekan saya absen updating blog. Bukan karena tidak ada bahan, cuma karena ada kesibukan baru di kantor. Sebenarnya bukan hal baru, cuma rutinitas padat yang baru mulai menjelang paruh ke dua tahun 2011 ini. Beberapa pekan lalu saya sempat tergelitik saat membaca postingannya Mas Unggul berikut, tak kuasa untuk tidak turut memberi sedikit komentar sekedar meramaikan suasana. Inilah bagian keempat dari postingan saya terkait safety riding.

Karakter Biker

Karena sehari-hari masih bergelut dengan para biker lainnya saat berangkat dan pulang kerja, tidak terhindarkan juga hal-hal yang membuat miris kadang-kadang malah memprihatinkan. Suatu saat saya mengantar isteri ke Masjid Kubah Emas karena ibu mertua mampir ke sana dalam perjalanan beliau ziarah makam wali songo bersama rombongan pengajian di kampung. Saya jalan (maksudnya naik motor) pelan-pelan alias slow karena selain memboncengkan isteri dan putri kami, suasana sudah mulai redup karena hampir Maghrib. Kira-kira 500 m sebelum pintu masuk masjid tiba-tiba saja dari arah belakang motor kami terdengar suara keras “Duaaak, proook … bruk!“. Kontan saja saya mengurangi kecepatan, minggir ke tepi jalan lalu melihat apa yang terjadi karena sumber suara begitu dekat dengan kami.

Kami melihat, seorang pemuda yang berboncengan dengan seorang pemudi (kelihatannya sih) menabrak sebuah minibus pribadi tepat di belakang kami. Menurut pengamatan jarak jauh saya, stang motor mereka sampai memecahkan kaca depan minibus itu sedangkan spatbor motornya menghantam sisi kanan minibus hingga penyok cukup dalam. Tak urung sang pembonceng tersungkur di jalanan tanpa bisa berdiri sendiri, sedangkan si pemuda masih bisa berdiri bahkan ikut meminggirkan si pemudi. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un … meski tidak ada yang meninggal dalam kecelakaan itu tapi cukup membuat kedua biker terluka dan harus dibawa ke rumah sakit.

Saya tidak mendekati TKP karena isteri tiba-tiba merasa agak mual melihat kejadian itu sehingga saya buru-buru melanjutkan perjalanan ketimbang isteri saya pingsan. Sambil jalan, kami sempat mengobrolkan kejadian itu. Saya pikir selain kecepatan cukup tinggi, si biker tidak dalam konsentrasi penuh (entah mengantuk atau asyik ngobrol) karena selain kondisi jalan tidak terlalu padat sore itu, saya melihat minibus yang kebetulan berpapasan dengan kami sebelum kejadian sempat mencoba untuk menepi untuk menghindari motor itu tapi ternyata motor itu tetap menghantam minibus. Ini namanya nasib, sudah hati-hati … menghindari kecelakaan … masih juga celaka. Untungnya sang sopir minibus seperti tidak terbawa emosi sama sekali, mungkin karena melihat kondisi si pemudi yang cukup memprihatinkan.

Sehari-hari saya juga melihat bagaimana para sobat biker memacu kendaraannya tanpa memerhatikan keselamatan orang lain juga dirinya, dan lebih mementingkan kecepatan agar bisa lebih dahulu. Padahal dalam kondisi padat, hal seperti itu sangat berisiko untuk pengendara lain. Mungkin dianggapnya, kalo bisa mendahului kendaraan lain dengan cara zig-zag dan ugal-ugalan seperti itu adalah prestasi atau bukti kalo dia jago berkendara. Padahal selain karena kondisinya yang padat, biker lain tentu secara lumrah berpikir ini jalan umum bukan arena balap so ngapain mesti ngebut seperti layaknya pembalap. Cepat tidak identik dengan ngebut, ketika kondisi jalan memungkin biker untuk memacu kendaraan tanpa mengurangi kewaspadaannya tentu tidak sama dengan biker lain yang melihat kesempatan dalam kesempitan untuk mendahului motor lain dengan cara tidak sopan.

Mungkin sebagian biker berpikiran, “Ini Jakarta, Bung. Kalo lambat akan ketinggalan dari yang lain, rejeki itu mesti dikejar kalo tidak maka akan direbut oleh yang lain”. Prinsip itu lalu diterapkannya juga di jalan umum, tiada kesempatan sekecil apapun yang lolos darinya meski itu berarti membahayakan orang lain. Yang bisa main serobot dianggap yang pintar, sedangkan yang lambat atau tidak buru-buru dianggap bodoh atau malas. Emang mesti begitu ya … menurut saya tidak. Seorang yang punya kesempatan tetapi memberikannya pada orang lain karena kondisinya lebih membutuhkan akan lebih survive dalam kehidupan, tidak terkecuali di jalan raya.  Anda boleh tidak setuju, saya juga tidak akan memaksakan …

Safety Riding

Setelah membahas panjang lebar tentang karakter berkendara (padahal inti yang dibahas cuma sedikit ya), saya akan membahas beberapa hal terkait keselamatan berkendara khususnya bagi para biker. Beberapa hal itu mungkin sudah tidak asing lagi buat Anda, tapi mungkin sering terlewat untuk diperhatikan.

Satu, school safety zone = zona aman sekolah. Sebutan untuk ruas jalan di depan lingkungan sekolah, di mana selama melalui ruas itu pengendara mesti mengurangi kecepatannya hingga batas maksimal yang diperbolehkan. Biasanya di ruas jalan tersebut diberikan rambu-rambu anak sekolah dan ruasnya dibatasi dengan dua grup minibowls yang diberi cat seperti zebra cross. Di antara dua minibowls itu diberi tulisan besar dan nyata (misal diberi warna merah terang): ZONA AMAN SEKOLAH. Hal ini dimaksudkan agar seluruh pengendara memerhatikan keselamatan anak-anak sekolah yang di jam-jam tertentu ramai keluar masuk ke lingkungan sekolah tersebut.

Dua, helm adalah alat keselamatan yang vital. Seringkali saya melihat biker entah itu remaja maupun dewasa berkendara tanpa mengenakan helm, bahkan meskipun helm sebenarnya dibawa bukannya dipakai malah ditenteng atau dipakai di lengan bukan di kepala. Kurang paham dengan maksud keduanya, tetapi jelas itu sangat berbahaya terutama untuk diri sendiri. Mesti disadari setiap biker bahwa kondisi berkendara adalah kondisi yang berisiko terjadinya benturan kepala. Bahkan biker yang menggunakan helm standar bisa terluka atau tewas ketika terjadi kecelakaan, apalagi yang tidak memakai helm standar dengan benar. Mungkin logika ini tidak selalu benar tetapi bukankah kepala Anda tidak anti benda keras? Kecuali Anda seorang KEPALA BATU.

Tiga, anak dibawah umur tidak semestinya mengendarai motor sendirian. Isteri saya pernah ditabrak (meski pelan) oleh seorang remaja (umur SMA atau bahkan SMP) hingga motornya jatuh, untung isteri saya selamat dan motornya cuma bocor akinya. Ketika naik angkot, isteri saya juga menyaksikan bagaimana seorang remaja (umur SMP) menabrakkan motor barunya ke kaca belakang angkot tersebut dan terlibat pertengkaran dengan sang sopir yang meminta ganti rugi. Dua kejadian itu, dan beberapa kejadian lain yang serupa tentang biker remaja menunjukkan bahwa anak-anak di bawah umur tidak semestinya mengendarai motor apalagi sendirian. Selain karena belum dilengkapi SIM (Surat Ijin Mengemudi), secara psikologis mereka belum bisa menjalani tanggung jawab berkendara di jalan umum. Sudah seharusnya, demi keselamatan anak mereka dan orang lain, para orangtua lebih ketat ketika memberikan ijin kepada remaja mereka untuk mengendarai motor. Bila tidak bisa mendampingi, pastikan mereka didampingi oleh orang dewasa yang bisa dipercaya.

Itulah tiga dari sekian banyak hal-hal yang sering kurang diperhatikan oleh pengendara motor (biker) padahal hal-hal tersebut merupakan bagian dari keselamatan berkendara (safety riding). Menurut Anda, hal-hal lain seperti apa yang serupa dengan hal di atas?

2 thoughts on “Karakter Biker dan Safety Riding

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s