Balada Kembang Telor (Dadar Mini)


image

Kemarin sore saya sempatkan untuk menjemput Mufida pulang ngaji, kebetulan umminya agak telat pulang karena hujan turun sejak Asar. Sembari menunggu Fida keluar kelas, saya ngobrol dengan bapak tua penjual Kembang Telor (istilah yang saya buat sendiri entah dari mana).
Bapak ini sudah hampir 20 tahun membidangi usaha kaki lima. 3 tahun terakhir dengan Kembang Telor, 16 tahun sebelumnya dengan Sate Usus. Dua makanan kecil khas jajanan anak kecil. Yang luar biasa selain umur usahanya adalah bahwa dengan itu beliau menuntaskan pendidikan wajib 6 dari 7 anaknya, sedangkan yang terakhir masih di bangku aliyah. Sekarang beliau memiliki 15 panggulan yang disewakan Rp 5.000,-/hari.
Sambil ngobrol saya ambil beberapa gambar beliau, untungnya beliau tidak keberatan malah tampak senang. Mufida keluar kelas dan langsung memesan Rp 1.000,- untuk 7 dadar telor mini. Dia begitu menyukainya walau sebenarnya saya agak khawatir dengan kualitas gizi dan higienitasnya. Bagaimana dengan anak-anak Anda?

Iklan

4 thoughts on “Balada Kembang Telor (Dadar Mini)

  1. waduh! susah mau komentar.
    di satu sisi saya jadi merasa bersalah karena selalu melarang para ponakan untuk jajan di pinggir jalan
    padahal di sisi lain dengan berjualan itu si penjual justru menghidupi keluarganya, bahkan bisa membiayai sekolah anak2nya … dilema!

    1. Begitulah, mungkin dengan banyak berinteraksi dengan mereka kita bisa meningkatkan kualitas produknya sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s