Hafalan Shalat Delisa


Ya, itulah film yang kami tonton sekeluarga hari ini. Pertama kali setelah hampir 3 tahun sejak terakhir kami nonton bareng di bioskop, kami akhirnya bisa nonton bareng lagi. Kali ini lengkap bersama Faqih yang sudah mengenal TV dan film, yang terakhir seingat saya dia masih bayi.

Mengapa kami memilih film ini? Sebenarnya inisiatif muncul dari istri setelah ia mendengar seorang temannya mengajak putra-putrinya ke bioskop untuk menonton film yang sama. Dan terbukti, banyak orang tua membawa anak-anak mereka yang masih kanak-kanak (TK-SD) menonton film ini di bioskop, meskipun tidak seramai ketika film AAC atau DMC diputar di bioskop-bioskop.

Satu alasan yang mendorong istri meyakinkan saya untuk menonton film ini, bahwa dengan menontonnya putri kami Fida akan rajin shalat 5 waktu. Kami memang belum memaksanya untuk itu, tapi harapan kami setelah menonton film ini Fida akan termotivasi untuk menyenangi shalat 5 waktu. Setidaknya untuk shalat Maghrib dan Isya’ tadi tujuan di atas berhasil.

Meskipun sempat terpotong di awal dan di akhir karena ternyata dugaan saya Faqih akan ketakutan ketika lampu bioskop dipadamkan terbukti, tapi saya menonton lebih dari separuh dari inti film ini. Memang belum sampai di klimaks ketika Faqih terbangun dari tidurnya dan mulai berteriak-teriak minta keluar dari bioskop, setidaknya saya sudah bisa menangkap ide ceritanya karena memang dibuat sederhana mungkin agar mudah dicerna oleh anak-anak.

Buat saya pribadi momen ketika tsunami dahsyat itu digambarkan menerjang perkampungan pesisir pantai itu termasuk sekolah Delia adalah saat paling menyentuh. Tak sadar air mata mengalir dari tepi mata saya dan mungkin sebagian besar orang tua yang juga menontonnya karena ini adalah memori paling memilukan bagi kita sepuluh tahun terakhir. Apalagi saya berkesempatan menginjakkan kaki di sana pada peringatan satu tahun tsunami Aceh. Sungguh ini bukti bahwa Allah Maha Besar.

Iklan

2 thoughts on “Hafalan Shalat Delisa

  1. itu dia mas, saya ga bisa menikmati film ini dengan khusyuk, karena Egidia mengoceh terus selama menonton 😀 selalu mengingatkan saya bahwa apa yang kami lihat itu rekayasa belaka hahaha .. rugi deh, saat mata udah berkaca2 eh dia ngoceh … batallah itu air mata tumpah … jadi kesan saya tidak begitu mendalam sama film ini … mesti nonton ulang deh kayaknya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s