Repotnya Pindahan Rumah


Pagi tadi seorang sahabat pindahan rumah, hampir 5 tahun kami bertetangga di Ragunan sebelum saya pindah lebih dulu ke Depok 2009 lalu. Meskipun sudah lebih dari 2 tahun rumah kami berjauhan tapi kami masih menjaga silaturrahim dengan saling mengunjungi atau bertukar kabar. Syukurlah akhirnya dia menyusul saya untuk pindah dan membeli rumah di Depok. Sebagai sama-sama ex kontraktor (pengontrak maksudnya), mempunyai rumah sendiri adalah nikmat Allah yang selalu diidamkan.

Saya sendiri berpindah tempat tinggal sejak sesudah menikah dulu hingga 4 kali. Pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain, dari satu ibu-bapak kos ke ibu-bapak kos yang lain. Beginilah nasib kontraktor, berpindah-pindah mencari penghidupan yang lebih baik.

Pindah rumah memang repot. Tidak hanya karena harus memindahkan semua barang yang ada di rumah lama ke rumah baru tetapi juga karena esensi pindah rumah adalah pindah ke lingkungan baru. Untuk yang pertama saja bisa menghabiskan waktu berhari-hari hingga semua beres, barang-barang rapi di rumah baru sesuai keinginan, apalagi untuk yang terakhir mungkin butuh waktu berbulan-bulan.

Hal-hal yang dilakukan ketika pindah rumah:
1. Memastikan rumah baru sudah siap ditempati. Ini terutama terkait kebutuhan mendasar seperti air bersih dan listrik.
2. Menyiapkan kondisi sosial baik di tempat lama maupun di tempat baru. Kita biasa menyebutnya dengan pamitan dan kulanuwun.
3. Mengemasi barang-barang yang dibawa pindah. Packing barang berdasarkan jenis barang dan ukuran. Mengosongkan barang-barang dari lemari dan rak, memindahkannya ke kardus atau kantong plastik. Gunakan checklist dan label sehingga tidak ada barang yang tercecer dan ketika membongkarnya kembali lebih mudah.
4. Menyiapkan kendaraan pengangkut. Memilih jenis dan jumlah kendaraan sesuai kebutuhan dan kondisi jalur kepindahan. Sebisa mungkin perjalanan cukup satu kali atau tidak bolak-balik sehingga lebih ringkas dan hemat waktu apalagi bila jarak tempuh cukup jauh.
5. Menaikkan dan menyusun barang-barang ke kendaraan pengangkut. Menempatkan perabot ukuran besar di tepi dan belakang, yang berat di bawah dan yang mudah rusak/pecah di tempat yang terlindung dari jatuh/benturan/guncangan. Untuk bongkar muat ini dibutuhkan orang-orang yang bisa diarahkan dan berkoordinasi dengan baik. Biasanya tetangga dan teman-teman turut membantu sehingga lebih rumit mengaturnya.
6. Memilih jalur kepindahan paling pendek dan paling bagus kondisi jalannya. Hal ini memastikan perjalanan lebih singkat dan aman untuk barang-barang yang dibawa.
7. Menyiapkan minuman, snack dan atau makan besar untuk tetangga dan teman-teman yang turut membantu. Ini sebenarnya tidak wajib, tapi karena orang timur terbiasa dengan menyambut tamu maka hal ini wajar. Toh bila tidak dilakukan juga tidak mengapa, mereka yang membantu pasti paham kalo orang pindahan sedang repot.
8. Menyampaikan ucapan terima kasih dan membaca do’a menempati rumah baru. Yang terakhir ini sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat tempat tinggal yang sudah Allah berikan.

Itulah sedikit banyak kerepotan yang muncul sebelum, saat dan sesudah pindah rumah. Bila tak mau repot ya tidak usah pindah, gampang kan 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s