Odong2 vs Odong2


Belakangan ini muncul hiburan baru di sekitar lingkungan kita: Odong2. Ah odong2 kan sudah lama ada, mainan anak-anak itu kan? Eits itu memang Odong2, tapi yang ini lain. Meski namanya sama tapi penampilannya berbeda, yang baru ini dulunya adalah wahana hiburan di tempat wisata yang biasa disebut Kereta Wisata. Saya menjumpainya di Taman Margasatwa Ragunan dan di Candi Borobudur. Kini kereta wisata itu, dalam berbagai ukuran, muncul di sekitar lingkungan kita.

image

image

image

Entah muncul dari mana istilah itu tapi Odong2 sudah menjadi nama baru untuk Kereta Wisata. Dan secara tidak langsung menyaingi pendahulunya Odong2 yang wujudnya berupa kereta mini dengan kursi-kursi berwujud hewan/mobil/motor yang bisa naik-turun dengan dikayuh dan dihibur dengan lagu-lagu anak yang sudah lama tidak muncul di televisi dan radio. Seorang blogger pernah menuliskan betapa berjasanya tukang Odong2 ini karena mempopulerkan kembali lagu-lagu anak klasik seperti: Naik Kereta Api, Balonku Ada Lima, dll.

image

image

Memang teknologi membuat orang berkreasi tentang banyak hal, termasuk hiburan Odong2. Bila pendahulunya menggunakan tenaga manusia, maka penerusnya menggunakan motor dan mobil sebagai penggeraknya. Odong2 kayuh hanya muat 4-6 orang, itupun khusus balita. Sedangkan Odong2 motor bisa memuat 8-10 orang mulai balita sampai remaja bahkan dewasa, Odong2 mobil bahkan bisa memuat lebih dari 20 orang sekaligus apalagi yang ditambah dengan gandengannya.

Sungguh persaingan yang “kurang adil” tapi inilah kehidupan, yang kuat menggilas yang lemah dan hanya yang “sabar” sajalah yang bisa bertahan. Setiap makhluk sudah ditetapkan bagian rizkinya di dunia ini, apapun usahanya. Dan Allah Mahaadil meskipun kebanyakan orang memandang hidup ini tidak adil. Allah bersama orang-orang yang sabar.

Iklan

5 thoughts on “Odong2 vs Odong2

    1. Iya Bu, bisa nambah terus mintanya. Buat yang digenjot 500 perak/3 lagu, tapi buat yang keliling itu kalo gak keliru 1000 rupiah/keliling. Btw, makasih “like”-nya ya Bu Ely 🙂

  1. saya juga baru kemaren tahu odong-odong ini pas merantau ke kota jakarta… biasanya didaerah saya tidak ada, kini sekembali dari rantau ternyata odong-odong sudah mulai bermunculan di daerah saya.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s