Ketika Mas Gagah Pergi (part-6/habis)


Aku tersadar tapi seperti di alam mimpi. Aku bangun, tapi bukan di dalam rumahku. Aku bangun di tepi jalan yang biasa kulalui setiap hari menuju kantor. Suasana begitu ramai, banyak orang yang berkerumun di sini. Mereka menggotong seseorang yang entah kenapa tidak sadarkan diri, dan sepertinya orang itu terluka parah. Mereka menaikkan orang itu ke atas sebuah mobil pick-up, entah mo dibawa ke mana dia.

Aku melihat ke sekeliling, ada sebuah motor yang ringsek di tepi jalan. Tampaknya motor itu habis tertabrak sesuatu yang besar. Tidak tampak lagi bentuk motor itu, roda depannya entah di mana sementara badan motor itu seperti terlipat hingga joknya pun terbelah menyedihkan. Sungguh naas pengendara motor itu, pikirku dalam hati. Ia pasti terluka parah atau meninggal di tempat. Mungkin orang yang tadi itu, sekarang mungkin ia sudah sampai di rumah sakit.

Tiba-tiba aku merasakan pusing yang hebat sehingga pingsan tak sadarkan diri lagi. Entah bagaimana aku sudah ada di rumah, tidak ada lagi orang-orang yang berkumpul. Aku berkeliling dalam rumah tapi tak satupun orang kutemui. Aku masuk dalam kamarku, begitu rapi seperti biasa. Aku duduk di tepi tempat tidurku menghadap ke meja tulis di mana aku atau istriku biasa mengerjakan tugas-tugas kantor di rumah.

Mataku berkeliling melihat semua barang di atas meja. Tumpukan buku yang biasa kubaca sebelum tidur tertata apik di sisi meja. Sekilas kulihat notes yang kami beli di toko buku, sebagai catatan buat aku dan istriku tentang semua hal yang tak sempat kami bicarakan, ada di atas tumpukan itu. Ada pembatas buku tersembul di sana, pasti istriku baru saja menuliskan sesuatu di dalamnya.

Kuambil notes itu lalu buru-buru kubuka di halaman dengan pembatas buku. Ah benar saja, tulisan istriku yang rapi. Belum ada tulisan lain yang kulihat serapi tulisannya. Tertanggal kemarin, sayang aku bahkan tidak melihat saat istriku menulisnya mungkin saat aku di kantor. Kubaca baris-baris tulisannya:
Ya Allah, Engkau Mahaadil Mahapenyayang.
Engkau sajalah Yang mengetahui hati ini terluka begitu dalam. Saat kutuliskan ini, air mataku masih tak bisa berhenti mengalir dan mulutku tak bisa menahan rintihan kesedihan. Sungguh ya Allah, bukan karena aku tidak menerima apa yang Engkau takdirkan padaku dan keluargaku. Hanya saja hatiku tidak bisa melupakan kenangan indah yang Engkau berikan pada kami dan saat ini semua itu seperti direnggut habis tak bersisa.
Aku pun bertanya-tanya kenapa dia tidak cerita padaku ya? Apa penyebab kesedihan itu?

Kulanjutkan membaca tulisannya:
Ya Allah, seperti baru kemarin ia datang ke rumahku menyampaikan maksudnya untuk melamarku. Belum lama kami Kau berikan anak-anak yang lucu. Baru kurasakan ketentraman yang kudambakan sepanjang hidupku ketika tiba-tiba Kau ambil kembali ia yang memang milik-Mu.
Deg … jantungku seperti berhenti berdetak. Tak terasa air mataku menetes dari tepi-tepi mataku, apa maksud semua ini kataku dalam hati. Ini tidak mungkin!!!

Kupaksakan membaca baris-baris terakhir di notes itu:
Sayang, baru kusadari betapa aku mencintaimu. Baru kusesali betapa aku tak bisa menjalani hidup ini tanpamu. Mengapa kau tinggalkan aku sendiri? Tidakkah kau sayang padaku? Bila tidak mengingat anak-anak kita,tentu sudah kususul kau menghadap Sangpencipta. Sayang, selamat jalan … tunggulah kami di sana dengan tenang. Kita akan bertemu lagi. Ya Allah, satukanlah kami di surga-Mu. Aamiin.

Notes itu jatuh dari genggamanku. Kutak sanggup lagi menahan kesedihan ini, kumenangis sejadi-jadinya. Tak mungkin aku sudah mati, aku masih ada di sini. Tidakkah kau melihatku? Ataukah aku ini hantu? Aku rebah di kasur dan lama menangis hingga kutertidur.

Malam ini aku terbangun, dalam remang-remang kulihat istriku bersimpuh khusyuk. Sepertinya barusan ia tahajjud, matanya terpejam mungkin tertidur karena kelelahan. Aku menghampirinya, aku belai lembut kepalanya berharap ia terbangun dan memelukku. Terkejut aku ketika tiba-tiba dari mulutnya keluar kata-kata kasar meski matanya masih terpejam, “Siapa kau? Kau bukan suamiku? Pergi! Jangan sekali-kali datang menggangguku. Atau …”. Ia melafazkan ayat-ayat Al Qur-an, ayat kursi, dengan lancar. Tubuhku meradang, panas tak tertahankan. Semakin lama kudengar ayat-ayat suci itu dibaca semakin aku merasa gerah, pusing dan mataku berkunang-kunang.

Aku melayang, aku semakin jauh dari wanita yang sangat kucintai. Semakin tinggi semakin aku merasa lebih baik. Ha ha ha, aku tidak merasakan panas dan pusing lagi sekarang. Sepertinya aku tidak bisa kembali lagi ke rumahku. Bukan, itu bukan rumahku. Itu bukan istriku. Orang itu bukan aku, karena aku cuma menemaninya sejak ia lahir. Kami seperti saudara kembar, tapi kami berbeda. Bila ia orang yang dicintai Allah, maka aku adalah yang dilaknat oleh-Nya. Benar, aku hanyalah jin yang mengiringinya. Akulah yang selalu mengajaknya bermaksiat meski aku pun seperti tersihir dan merasa menjadi bagian darinya. Selamat tinggal, saatnya aku mencari penggantimu. Tugas baru menungguku, maka berhati-hatilah wahai manusia.

Tamat

Cerita sebelumnya : Ketika Mas Gagah Pergi (part-1)Ketika Mas Gagah Pergi (part-2)Ketika Mas Gagah Pergi (part-3)Ketika Mas Gagah Pergi (part-4), Ketika Mas Gagah Pergi (part-5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s