Berhenti Sejenak untuk Mengingat Iman


Manusia rata-rata menjalani hidup di dunia ini selama 60 tahun. Dari 60 tahun itu rata-rata menggunakan 15 tahun untuk sekolah, 30 tahun untuk bekerja, dan sisanya untuk aktifitas yang berhubungan dengan diri sendiri, keluarga juga masyarakat. Sebagian manusia mengambil porsi yang lebih dari 15 tahun itu untuk belajar, sebagian yang lain untuk bekerja, dan sebagian lainnya untuk bermain-main.

Sebagai manusia yang meyakini bahwa kehidupan di dunia ini adalah bekal untuk kehidupan sesudah mati (alam akhirat) tidak berlebihan bila kita menyisihkan sebagian waktu dalam hidup kita untuk memikirkan akhirat. Bila kebanyakan manusia lupa akan hal ini maka yang dicontohkan oleh manusia terbaik (Rasulullah saw.) adalah tidak hanya menyisihkan waktu untuk beribadah tetapi juga berhenti sejenak untuk mengingat iman dalam majelis-majelis dzikir dan fikir.

Mengapa mengingat iman? Karena iman adalah nilai yang menghubungkan alam dunia dan alam akhirat. Betapa tidak. Hanya orang beriman yang mengharap balasan di akhirat sedangkan orang yang tidak beriman hanya mengejar kesuksesan duniawi karena tidak meyakini kehidupan sesudah mati. Orang-orang beriman yang notabene adalah manusia yang mempunyai sifat khilaf dan lupa mesti menyadari karakter iman yang bisa naik tapi juga turun. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw. yang mengingatkan para sahabat beliau tentang naik-turunnya keimanan, naik karena ketaatan dan turun karena kemaksiatan.

Berhenti sejenak, tidak sepanjang hari atau seumur hidup, tidak menjadi rahib yang meninggalkan kehidupan duniawi tapi tidak pula mengabaikan kehidupan akhirat sebagaimana kaum atheis atau sekuler. 2-3 jam sepekan untuk mengingat iman atau kurang dari 5 – 7 tahun dari 15 tahun waktu yang tidak digunakan untuk sekolah dan bekerja. Namun bila yang sebentar itupun kita tidak bisa menyisihkannya bagaimana Allah akan memudahkan urusan akhirat kita? Bukankah hanya yang dalam hatinya ada iman sajalah yang akan beroleh surga-Nya. Semoga kita termasuk yang selalu mengingat iman, meski sejenak.

Iklan

4 pemikiran pada “Berhenti Sejenak untuk Mengingat Iman

  1. Duh judulnya, berhenti sejenak untuk mengingat suamiku tercinta, hehehe :p

    Ya, kadang kita memang perlu berhenti sejenak untuk merenungi hari-hari yang telah terlewati. Nice share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s