Kesan Berikutnya bersama Sotoji (Review Bagian Kedua)


Setelah sebelumnya saya menerima paket Sotoji dan mendengar komentar “koki rumah” atas Sotoji, sekarang saatnya saya membuktikan sendiri cita rasa Sotoji. Kebetulan sedang tidak ada lauk di rumah, sayapun memutuskan inilah waktu yang tepat untuk menjajal kelezatannya.

image

Sotoji dan Telur Ayam
Sengaja saya siapkan telur sebagai pendamping Sotoji, kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan karena slogan “Spesial pake Telor”. Meskipun cara paling fair untuk menguji cita rasa produk adalah dengan membiarkannya “sendiri” tanpa pendamping, tapi buat saya yang sedang kelaparan tidak ada salahnya “melanggar” aturan itu.

Sempat terpikir untuk merebus terlebih dulu telur sehingga saat dipadukan dengan Sotoji sekaligus menjadi garnis (seperti Soto Kudus) tapi opsi itu saya alihkan dengan merebusnya sesudah Sotoji siap nanti supaya saya dapat menikmatinya setengah matang.

image

Kelengkapan Sotoji
Saya buka kemasan Sotoji lalu mengeluarkan seluruh isinya dan meletakkannya di atas mangkuk. Ada soun padat putih ukuran sedang (banyak reviewer yang terkejut dengan ukurannya yang “kecil”), jamur kering dalam bungkus aluminium foil, bumbu, minyak sayur, dan cabe bubuk dalam bungkus plastik kecil.

Saya belum pernah memasak produk soto instan sebelumnya tapi “komponen” Sotoji tersebut sangat standar mie instan kecuali pada jamurnya, malah bawang goreng yang umumnya ada sebagai garnis tidak disertakan di sini. Entah karena memang tidak wajib atau mungkin sudah disatukan dengan minyak sayur.

Banyak varian soto di tanah air, masing-masing menggunakan bumbu khas yang menjadi ciri asal dari soto tersebut. Saya sebutkan di sini bumbu yang berarti kuah karena isi soto bisa bervariasi sesuai kebiasaan atau kebutuhan, dan saya akan segera melihat seperti apakah ciri Sotoji ini.

image

Citarasa Sotoji
Setelah proses memasak seperti yang tertulis pada kemasan Sotoji saya lakukan kecuali pada bagian merebus telur ayam di akhir, akhirnya saya dapatkan semangkuk Sotoji “Spesial pake Telor” buatan saya sendiri. Luar biasa, setelah sekian lama sejak SMA dulu saya menyajikan soto di warung milik ibu untuk pelanggan akhirnya saya kembali menyajikan soto untuk diri saya sendiri.

Sepintas dari penampilannya, kuah Sotoji yang tidak terlalu kental adalah cirinya mengingat kebanyakan soto (dan mie instan) menampilkan kuah yang kental. Nah saatnya mencicipi rasa Sotoji. Sruuuuupp hmmm rasanya memang tidak sekuat soto atau mie instan tapi memang tidak harus selalu begitu kan. Buat saya yang terbiasa dengan masakan bercitarasa bumbu kuat mungkin kuah Sotoji terlalu plain tapi citarasa berbeda adalah pilihan berani untuk produk instan yang baru dipromosikan.

Untuk soun dan jamurnya, meski sudah direbus sesuai petunjuk (sayang tidak disebutkan dengan api kecil, sedang, atau besar) masih berasa agak keras. Sebagian orang mungkin menyebutnya kenyal tapi saya pribadi menilainya kurang empuk terutama jamurnya karena mungkin terlebih dulu digoreng garing. Lebih maknyus bila tekstur soun dan jamurnya lebih lunak, sehingga penikmat Sotoji lebih fokus pada rasanya bukan pada proses mengunyahnya.

image

Sotoji dan Nasi
Sudah menjadi kebiasaan buat saya dan mungkin orang Indonesia umumnya menjadikan masakan apapun sebagai lauk makan nasi. Hal ini juga terjadi pada Sotoji yang saya masak. Sesudah siap saji, saya dan istri menikmatinya bersama sepiring nasi alih-alih memakannya langsung karena secara porsi Sotoji “kurang nendang” dinikmati sebagai main course. Ini adalah tantangan berikutnya, mengapa begitu?

Umumnya sayur atau lauk apapun yang dimakan sebagai pendamping nasi akan mengalami efek “penetralan” rasa. Saya sebut demikian karena karakter nasi yang dominan di mulut menyebabkan rasa sayur atau lauk berkurang dari aslinya, bercampur rasa “manis” yang secara alami keluar dari nasi yang dikunyah. Sotoji dengan kuah yang tidak terlalu kental dan rasa yang tidak terlalu kuat memang menjadi kurang gurih meski nikmatnya nasi soto jamur tetap saya rasakan, maklum sedang lapar-laparnya.

Kurang lebih setengah jam saya dan istri menikmati kelezatan Sotoji inilah hasil akhirnya, perut kenyang karena semangkuk Sotoji yang bergizi telah di mangkuk ke perut. Alhamdulillah …

image

Sotoji memang spesial. Semua orang bisa masak soto setelah ketemu Sotoji. Dan semua orang bisa makan soto sehat bersama Sotoji. Terima kasih Sotoji 🙂

2 thoughts on “Kesan Berikutnya bersama Sotoji (Review Bagian Kedua)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s