wpid-ch3-16-5-img1.jpeg

Lari!!!


Detak jarum jam di menara itu semakin keras terdengar, saat sayup-sayup lafaz adzan Maghrib menggema di perbukitan Makkah. Detik demi detik berlalu hingga suara adzan itu berhenti, aku masih saja menangis. Air mata ini seperti tak mau berhenti mengalir dari kedua mataku yang mulai sembab. Anehnya akupun tidak merasa bosan duduk terpaku dalam tangis, meskipun puluhan pasang mata memandangiku sedari tadi. Aku tak peduli, aku ingin begini sepuasku dan tak ada orang yang boleh mengganggu. Sebaris do’a kubaca lirih seraya menanti iqomat dikumandangkan, aku masih duduk 50 meter di depan batu hitam itu.

Sholat Maghrib ini tidak berbeda dengan sholat yang biasa kukerjakan di masjid komplek rumahku, tapi aku begitu menikmatinya. Bacaan imam sholat di Masjidil Haram sangat indah, meskipun Al Fatihah dan surat Al Qur-an yang dibaca sudah tidak asing lagi di telingaku. Ayat demi ayat berlalu tapi tidak hanya terlintas melainkan membekas cukup dalam di kalbuku, tidak seperti biasanya. Wirid dzikir dalam ruku’ dan sujud pun seperti nyaring kudengar meski setiap orang termasuk aku melafazkannya dalam sirr. Aku sangat menikmati kerasnya lantai sholat, padahal biasanya sujudku selalu di atas sajadah atau karpet empuk. Sensasi dingin di dahiku saat sujud seperti menghapus semua beban di pundak dan kepalaku, aku merasa sangat fresh.

– o O o –

Laki-laki tinggi besar berkulit gelap itu menghimpitku ke dinding tapi aku tidak akan menyerah, tidak sampai aku bisa meraihnya. Batu hitam itu kurang dari 1 meter di depanku, sayang badanku yang kurus tidak kuasa menghalau laki-laki Afrika itu. “Ya Allah, mudahkan urusan hamba-Mu ini”, aku mulai berdo’a lagi seperti saat berlari berkejaran dengan yang lain menuju ke Hajar Aswad ini. Luar biasa, seperti bisa membaca pikiranku laki-laki besar yang sedari tadi menghimpitku seolah mengendurkan himpitannya. Aku tak lagi menempel di dinding, aku bisa maju ke depan. Ya, tanganku hampir menggapainya. Dudukan batu berwarna keemasan itupun telah kuraih, dan sejurus kemudian wajahku telah berada tepat di depan batu hitam ini. Tak sia-sia perjuanganku selama beberapa hari terakhir, akhirnya malam ini kudapat menciumnya meski sesaat … ya, hanya sesaat.

image

Malam ini ba’da Isya’ aku tidak pulang ke hotel. Kuputuskan untuk menghabiskan malam terakhir ini di sini, di Masjidil Haram yang mulia. Kususuri tempat-tempat yang dulunya menjadi tempat majelis Rasulullah saw. bersama para shahabat ra. Duduk di situ bermenit-menit, melafazkan dzikir dan membaca Al Qur-an sambil merasakan yang mungkin juga dirasakan oleh para shahabat ra. ketika bersama Rasulullah saw. menikmati iman. Aku tidak peduli dengan hal lain, sementara rekan-rekan satu rombongan malam ini sedang berbelanja oleh-oleh dan bersiap untuk pulang ke tanah air esok hari. Rasa rinduku pada orang-orang yang dikasihi Allah seperti melenyapkan kerinduanku pada keluarga dan sahabatku. Apakah aku akan meninggalkan semua keindahan ini besok?

– o O o –

Hampir tengah hari, aku sudah siap dengan baju rapi dan tas yang kubawa sepekan lalu. Tidak ada yang lain, tidak seperti rekan-rekan satu rombongan yang setidaknya menambahkan satu tas lagi yang berisi penuh oleh-oleh untuk keluarga di tanah air. Wajahku tak secerah mereka, aku tak bisa menyembunyikan rasa sedihku karena harus meninggalkan kota suci ini. Aku masih haus, seperti orang yang berpuasa di sore hari. Bahkan menghabiskan waktu semalaman di Masjidil Haram tidak menghapus rasa hausku untuk tetap berada di sini. Pandanganku tak bisa lepas dari bangunan putih itu, bermenit-menit kemudian bahkan air mata mulai mengalir lagi tak tertahankan. Pikiranku melayang mengingat lagi saat-saat sujud panjang di depan Ka’bah, tangisan tak tertahankan saat berdo’a di maqam Ibrahim, juga kenikmatan duduk berlama-lama berdzikir dan membaca Al Qur-an di teras dalam Masjidil Haram. Lamunanku tiba-tiba buyar ketika dering telpon kamar berbunyi, orang agen mengingatkanku untuk segera turun karena bis yang akan membawa kami ke Jeddah sudah siap.

Aku melangkah memasuki pintu besar itu. Tidak percaya dengan apa yang kulakukan, aku segera membasuh mukaku dengan air zam-zam. Ya, aku tidak bermimpi. Aku tidak menaiki bis yang akan membawaku pulang ke tanah air, melainkan berjalan cepat menuju Baitullah ketika adzan Dzuhur terdengar. Aku begitu senang, bahkan ketika di saat yang sama seluruh rombongan bertanya-tanya di mana aku saat bis kami berjalan meninggalkanku dan kota suci ini. Aku tak peduli, aku ingin menangis lagi saat sholat Dzuhur nanti … “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini”.

Makkah Almukaromah, 1 Rajab 1433 H.

2 thoughts on “Lari!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s