Sampah | Sedikit-sedikit Lama-lama menjadi Bukit


image
Tumpukan sampah dekat Stasiun Depok Baru

Sampah … barang-barang yang sudah tidak diinginkan karena sudah tidak berguna. Disadari atau tidak, sampah sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Sampah kebalikan dari air, bila di manapun berada manusia selalu mencari air maka untuk sampah manusia selalu berusaha menghindarinya. Sudah menjadi takdir bila sampah akhirnya dibuang dan diterlantarkan, seperti kata pepatah “Habis manis sampah sepah dibuang”.

Sampah = Sumber Masalah
Di kota-kota besar seperti Jabodetabek, sampah adalah sumber masalah yang tidak teratasi hingga saat ini. Jumlah penduduk yang terus bertambah memperparah masalah ini, ribuan bahkan jutaan ton sampah menjadi pemandangan yang tidak asing. Jadilah sudut-sudut kota, jalanan, tanah-tanah kosong menjadi tempat peristirahatan sementara bagi tumpukan sampah sebelum akhirnya dibawa ke pinggiran kota untuk disemayamkan secara permanen.

Bertahun-tahun setiap kota besar menghadapi masalah sampah ini, dan sedikit saja yang bisa menuntaskannya. Bahkan Jakarta sekalipun baru bisa “mengekspor” sampah warganya mentah-mentah ke wilayah lain seperti Bantargebang meskipun warga sekitarnya tidak pernah membutuhkan sampah “impor” tersebut. Konsep megapolitan sajalah yang mampu menjaga ketersediaan lahan untuk sampah-sampah tersebut, setelah upaya pengolahan sampah modern oleh Pemda DKI digagalkan oleh aksi anarkis warga daerah yang disewa tanahnya untuk hal tersebut. Lalu apa lagi upaya kota-kota besar untuk mengatasi sampah sebagai sumber masalah?

Sampah = Sumber Penghidupan
Sampah memang tampak tidak berguna, khususnya bagi yang tidak peduli selain pada manfaat sebelum ia menjadi sampah. Konsep daur ulang menjadi jawaban dari pemanfaatan sampah, karena sifat sampah anorganik tertentu tidak berubah bahkan ketika ia telah berubah bentuk. Plastik, kertas/kardus, gelas, karet dan logam adalah bahan yang ketika menjadi sampah butuh waktu bahkan hingga ratusan tahun untuk terurai, karenanya sampah-sampah itu perlu dimanfaatkan lagi untuk kemanfaatan serupa atau kemanfaatan yang lain.

Di negeri kita, khususnya di kota-kota yang berlimpah dengan sampah anorganik, daur ulang dikelola oleh sektor swasta dan privat. Pengelolaan sampah oleh pemerintah secara tegas tidak menyentuh daur ulang sehingga dimanfaatkan betul oleh para pengusaha daur ulang. Proses sortir sampah banyak dilakukan oleh pemulung sampah dan tukang loak, selanjutnya dikumpulkan oleh pengepul sampah atau bos-bos pemulung. Proses berikutnya adalah pemurnian bahan dan penyiapan bahan daur ulang yang hasil akhirnya adalah bijih-bijih bahan anorganik siap jual. Pabrik-pabrik produksi menjadi muara akhir bahan-bahan ini setelah sebelumnya menjadi masalah bagi setiap orang.

Proses daur ulang adalah penghidupan bagi ribuan orang yang menyadari nilai tumpukan sampah. Sebenarnya motivasi mereka bukan pada seberapa besar kontribusi proses ini pada kelestarian lingkungan hidup dari efek buruk sampah tetapi lebih pada nilai bahan yang setelah dijual bisa menghidupi keluarga mereka. Bagi mereka sampah adalah sumber penghidupan.

Sampah = Sumber Keberkahan
Seperti kata-kata bijak motivator: Looser fokus pada masalah; Winner fokus pada solusi, maka beberapa orang menemukan suksesnya melalui sampah. Bila orang-orang awam menjauhi dan menganggap remeh sampah, kecuali para pemulung dkk tentu, orang-orang tertentu menemukan kemanfaatan lain dari sekedar proses daur ulang. Para pengrajin botol plastik atau kaleng bekas misalnya, mengubah sampah menjadi vas/pot bunga indah atau berbagai mainan anak-anak. Ahli pengobatan alami (herbalis) bahkan menemukan kulit buah tertentu sebagai anti kanker sehingga membuat obat alternatif untuk pencegahan dan penyembuhan kanker.

Beberapa orang lain menggunakan konsep daur ulang sebagai gerakan sosial masyarakat peduli lingkungan. Mengumpulkan, menyortir dan mengelola sampah berbasis komunitas menjadikan sampah yang tadinya menjadi masalah bagi lingkungannya menjadi tambahan penghasilan atau sebagai tabungan jangka menengah. Konsep bank sampah telah menjadi populer di berbagai daerah di tanah air. Bahkan sampah organik sekalipun bisa kelola secara pribadi atau berkelompok untuk diubah menjadi pupuk alami (kompos) yang bermanfaat khususnya untuk sendiri selain juga bernilai ekonomis. RW-RW hijau telah menjadi ikon lingkungan di berbagai kota setelah sampah organik diproses dan dimanfaatkan bagi taman/kebun lingkungan.

Kali ini orang-orang yang “luar biasa” telah mengubah sampah menjadi barang bermanfaat sekaligus menggerakkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungannya, sampah pun menjadi sumber keberkahan🙂

image
Ibu-ibu Depok mengelola Bank Sampah

5 thoughts on “Sampah | Sedikit-sedikit Lama-lama menjadi Bukit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s