Mengapa Kita Mesti Bersyukur


Tinggal di gang sempit, di antara rumah-rumah kontrakan. Tetangga sering pinjam utangan, rata-rata buruh kasar dan pegawai rendahan. Sehari-hari naik motor bolak-balik rumah-kantor, panas kepanasan, hujan kehujanan. Penghasilan pas-pasan buat bayar utang dan uang dapur, kalo ada kebutuhan sering bingung mesti ambil dari mana. Tabungan isi di awal bulan, belum tengah bulan sudah kosong lagi. Dompet isi di awal pekan, mampir SPBU sudah kosong lagi.

Kondisi di atas mungkin memprihatinkan, tapi kita mesti tetap bersyukur. Mengapa?

1001 alasan bagi kita untuk bersyukur, di antaranya karena:
1. Ribuan orang menggelandang, tanpa tempat tinggal tetap.
Tidak hanya di kota-kota besar di mana orang-orang jalanan tampak tinggal di kolong-kolong jalan layang, di bawah jembatan atau di emperan toko, di kampung-kampung pun masih banyak orang yang tak punya rumah, ngontrak atau tinggal di rumah saudaranya bahkan tinggal di tenda depan rumah anaknya yang tak mau mengurus orang jompo.
2. Ribuan orang menanggung hutang puluhan bahkan hingga ratusan juta untuk dapat tinggal di rumah idaman.
Pilihan untuk berhutang dengan cicilan hingga 15 tahun untuk sebuah rumah (KPR) sudah menjadi tren yang tidak terhindarkan. Namun ternyata pilihan yang awalnya untuk kebutuhan primer sesuai kemampuan finansial berubah menjadi kebutuhan prestis yang mesti ditanggung selama jangka waktu yang lama.
3. Ribuan orang menganggur meskipun telah mengenyam pendidikan tinggi, ribuan yang lain karena tidak mendapatkan kesempatan bersekolah.
Banyak lowongan kerja, sayangnya tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Kebanyakan yang menawarkan lowongan dalam jumlah besar adalah pabrik-pabrik, yang dipekerjakan tenaga trampil lulusan SMK. Pekerjaannya sampai 12 jam sehari dengan gaji UMR, sungguh tak sebanding beban dan kesejahteraannya.
4. Ribuan orang setiap pagi dan petang berhimpitan di angkutan-angkutan umum seperti KRL, bis kota dan angkot.
KRL Jabodetabek hampir tak pernah sepi dari penumpang di atas atap, bis kota selalu menampilkan penumpang berdiri di dalam hingga meluap ke pintu bahkan bergelantungan di luar pintu, dan angkot selalu jadi masalah karena jumlahnya banyak dan sering berhenti semaunya.
5. Ribuan orang begitu susah meski hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.
Di jalan-jalan sering kita jumpai orang-orang yang memunguti sampah untuk dijual lagi, kadang tidak cukup sang bapak yang bekerja, tidak jarang ibu dan bahkan anak-anaknya pun ikut mencari sampah yang bernilai. Tak jarang saya melihat orang-orang cacat yang berjualan atau mengamen, juga ibu-ibu menggendong anaknya mengemis di lampu-lampu merah. Anak-anak di bawah umur mengemis, mengamen atau berjualan koran adalah pemandangan yang tidak asing.
6. Banyak orang mesti menggunakan metode “gali lubang tutup lubang” untuk memenuhi kebutuhannya.
Tak hanya yang tak berpenghasilan tetap, yang bergaji tiap bulan pun banyak yang mesti berhutang untuk membayar hutang. Kebiasaan ini sangat menguras energi karena mesti mencari kesempatan pinjaman lain dan tak jarang menghindari kejaran penagih hutang. Tetangga saya bahkan sampai harus pindah rumah untuk lari dari debt collector.

Nikmat yang Allah berikan pada kita sangat banyak, tak terhitung bahkan ketika kita menghabiskan kertas di seluruh dunia dengan seluruh tinta yang ada. Kalo saya sebutkan hingga alasan ke-1001 pun tak cukup kalimat untuk mensyukuri. Hanya satu kalimat saja yang sanggup mewakili rasa syukur atas segala nikmat itu:

Alhamdulillahirabbil ‘alamin …
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam …

2 thoughts on “Mengapa Kita Mesti Bersyukur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s