Beberapa Hari Menjelang Ramadhan (Bag. 2)


image

Hikmah Shaf Sholat
Saya sering terfikir, mengapa sholat berjama’ah mesti merapatkan barisan (shaf)? Pernah sholat berjama’ah di masjid jami’ bersama orang-orang Salafi, shaf sholatnya begitu rapat sampe-sampe seperti terlalu sempit untuk bergerak. Kadang mesti mampir di masjid umum yang pake karpet sajadah bergaris vertikal di mana shaf sholat jadi longgar berjarak mengikuti batas-batas sajadah.

Ada beberapa alasan yang coba saya simpulkan:
1. Sholat berjama’ah mengajarkan muslimin bekerjasama dengan sesama manusia. Tujuan bersama yang dilakukan bersama dan saling membantu akan menimbulkan hubungan positif di antara anggotanya, selain akan mendapatkan banyak kebaikan tentunya. Kerjasama semakin baik ketika satu sama lain saling mengenal dan memahami, dan lebih baik lagi bila dekat dan akrab. Barisan sholat yang rapat melatih sesama muslim untuk saling mengenal dan memahami melalui kedekatan fisik, dari sana akan muncul sikap saling bekerjasama antarsesama manusia.
2. Sholat berjama’ah mengajarkan muslimin bertoleransi atas perbedaan. Manusia diciptakan dalam perbedaan karenanya setiap muslim mesti saling menghormati dan dengannya manusia menjadi makhluk yang paling mulia. Namun seringkali ada manusia yang merasa lebih mulia dibanding manusia yang lain padahal dengannya ia menyamai sikap sombong iblis. Shaf yang rapat melatih sesama muslim untuk bertoleransi atas perbedaan. Terkadang sebelah saya seseorang yang bacaan sholatnya hampir sekeras imam, atau seseorang bau mulutnya tercium kurang sedap, ada pula seseorang yang parfumnya begitu wangi, beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman dengan kondisi ini. Kalo saya tidak toleran mungkin saya memutuskan untuk pindah shaf, tapi belum tentu suatu kali bau keringat saya tidak mengganggu siapa pun kan? Karenanya toleransi itu sifatnya resiprokal, saling bukan pribadi, diajarkan melalui shaf yang rapat.
3. Sholat berjama’ah mengajarkan muslimin keadilan terhadap sesama manusia. Dalam fiqih sholat disebutkan bahwa bila mampu sholat berdiri, bila tidak mampu berdiri boleh duduk, bila tidak mampu duduk boleh berbaring (tidur miring), bila tidak mampu berbaring boleh terlentang, dst. Bagaimana dengan orang buta atau tuli yang bisa berdiri? Bila mampu boleh berdiri, toh masih bisa mendengar atau melihat aba-aba/gerakan imam. Bagaimana bila seseorang buta sekaligus tuli? Bila mampu boleh berdiri. Bagaimana mengetahui gerakan imam?

Bagaimana kalo pertanyaan terakhir dijadikan kuis menyambut Ramadhan?

Polling ini dimulai hari ini sampai Jum’at depan, setelahnya akan diumumkan kuisnya ya …🙂

Kembali ke … 4. Sholat berjama’ah mengajarkan muslimin disiplin. Barisan sholat dengan imam di depan dan shaf ma’mum di belakangnya menyerupai barisan pasukan. Pasukan yang siap tempur bila diibaratkan devile adalah barisan yang rapi, yang selain karena dilatih juga karena kedisiplinan. Ketika komandan memerintahkan untuk hormat maka seluruh anggota devile melakukan secara serempak dan tidak merubah formasi barisan. Demikianlah halnya shaf sholat, aba-aba dan bacaan imam adalah instruksi bagi seluruh ma’mum tak terkecuali. Makmum yang tidak disiplin akan merusak formasi shaf sholat, mengabaikan instruksi imam bisa berakibat rusaknya sholat atau kualitasnya.

Sepertinya itu dulu, setidaknya keempat itulah yang saya rasakan selama ini untuk diri saya sendiri. Bagaimana yang Anda rasakan? Koreksi, kritik, saran dan curcol nasihat tentu saya harapkan, kita diskusikan bersama untuk mencari solusi/kesimpulan terbaik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s