30 Hari Meniti Iman (Hari 6)


Malam
M-BM-I-BI-T.20-W.3-TJ.6

Benarlah bahwa Allah Yang Menggenggam hati, tidaklah seorang mendapat petunjuk kecuali yang dikehendaki-Nya. Bahkan istri dan anak-anak nabi ada yang tetap dalam kekafiran seperti Kan-an, sebaliknya ada pula istri dan anak penentang Islam yang mendapat hidayah untuk beriman seperti Asiah. Maka Allah pun menegur rasul-rasul-Nya tentang hal ini, lalu menegaskan bahwa hidayah adalah hak prerogatif-Nya meski bagaimanapun usaha yang telah dilakukan. Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar!

Hal di atas menjadi ujian bagi orang beriman apakah semakin kuat imannya atau melemah, seperti bercocok tanam yang tidak tentu memanen hasilnya. Namun bagi mukmin bukan hasil yang dinilai melainkan prosesnya, bukan berarti hasil tidak penting melainkan tidak menjadi tujuannya. Hasil bisa menjadi indikator keberhasilan suatu proses sehingga menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki proses, namun hasil di mata mukmin lagi-lagi menjadi hak prerogatif Allah. Bagi mukmin ikhtiar yang sebaik-baiknya lalu tawakkal pada Allah atas hasilnya, begitu terus karena bekal akhirat adalah amal sholih (proses bukan hasil).

Siang
T.2-QS-S-D.4-D-BD.4-A-TJ.6

Sampai hari ini sambil sahur saya sekeluarga menyaksikan hiburan di TV, sebuah film yang memotret perikehidupan Khalifah ke-2: Umar bin Khaththab RA. Ceritanya sarat makna, buat saya pribadi begitu menyentuh sisi-sisi keimanan karena menggambarkan perjuangan dan pengorbanan para pendahulu Islam. Saya jadi sering berkaca-kaca menyadari betapa kondisi di waktu itu sungguh tidak nyaman, terlebih karena jumlah muslimin masih sangat sedikit dan berada di tengah-tengah kaum kafir yang begitu mengagungkan agama nenek moyang mereka. Kondisi yang berkebalikan dengan yang saya alami tentu.

Menjadi introspeksi buat saya betapa saya mesti mensyukuri nikmat Allah atas iman ini karena tidak harus sampai mengorbankan jiwa untuk memperolehnya seperti yang dialami oleh keluarga Ammar bin Yasir. Bukan berarti tidak mungkin Allah SWT. akan menguji saya dengan hal semacam itu tapi menjadi pelajaran betapa besar komitmen mereka terhadap agama Islam. Maka seperti itu pulalah semestinya saya terhadap agama ini karena keyakinan yang sama bahwa Allah menurunkan Islam tidak lain kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidaklah Islam diturunkan pada suatu kaum kecuali agar terjadi perbaikan bagi mereka, dan inilah jawaban dari pertanyaan mengapa kita dilahirkan, dibesarkan, ditempatkan, dipekerjakan, dan dipertemukan dengan saudara-saudara kita yang seiman. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s