30 Hari Meniti Iman (Hari 17)


Malam
M-BM-I-BI-T.8-W.3

Siang
QS-S-QD.2-D-BD.2-A-TJ.17

Di sela-sela kesibukan kantor dan persiapan syiar, ada perhentian Dzuhur yang ditunggu-tunggu. Materi kultumnya pun menarik, bertemakan “Menyemai Iman di Hati Anak melalui Al Qur-an”. Sang ustadz memberikan ilustrasi sederhana yang cerdas, bahwa gambaran hati anak yang disemai iman adalah seperti sawah yang disemai padi. Sehingga orangtua ibarat petani, yang berusaha menumbuhkan bibit di tempat yang dipersiapkannya.

Syarat awal menyemai iman adalah orangtua mesti memiliki iman yang kuat sehingga mampu menyemaikannya di hati anak. Kemudian interaksi orangtua dengan Al Qur-an juga intens, tidak terbatas pada memuliakan kitab ini dengan menempatkannya di atas lemari tetapi membaca dan mentadabburinya setiap hari.

Setidaknya ada 3 hal utama dalam menyemai iman di hati anak dengan Al Qur-an. Pertama, orangtua membimbing anak. Ilustrasi cerdasnya adalah sebagai berikut. Anak yang dibimbing orangtuanya untuk melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bogor dengan KRL sejak usia 7 tahun sampai 15 tahun tidak akan lupa caranya ke Bogor sesudah ia berusia di atas 15 tahun. Demikian pula dengan Al Qur-an, bila orangtua membimbing anaknya untuk membaca dan mentadabburi Al Qur-an sejak 7 tahun hingga 15 tahun maka sesudahnya anak tidak akan lupa.

Kedua, orangtua menjadi contoh/teladan bagi anak. Hal yang sudah sangat jarang di antara kita, anak mencontoh kebaikan orangtuanya. Ada kisah seorang anak kecil yang setelah mendengarkan nasihat dari gurunya di sekolah tentang keutamaan sholat Subuh berjama’ah menjadi terobsesi untuk melakukannya di rumah. Pagi-pagi saat adzan Subuh berkumandang si anak langsung bangun dan menuju jendela ruang tamu, si anak tidak berani keluar karena takut gelap hingga akhirnya ia melihat seorang kakek tua lewat di depan rumahnya. Si anak keluar lalu mengikuti kakek itu untuk sholat Subuh di masjid. Setiap hari begitu hingga berbulan-bulan, sampai akhirnya si kakek tidak lewat lagi karena telah wafat. Mendengar kabar kematian kakek itu si anak menangis sejadi-jadinya hingga sang ayah menenangkan sambil menanyakan sebab si anak menangis. Si anak pun menceritakan kebiasaannya sholat Subuh di masjid bersama si kakek, hingga terlontar keluhannya kenapa yang wafat si kakek bukan ayahnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Ketiga, reward and punishment. Anak-anak selalu senang dan bersemangat saat mendapat hadiah, bahkan ucapan selamat atau senyuman begitu berharga sebagai apresiasi kepada mereka. Memberikan hadiah sebagai tanda orangtua bangga dan menjanjikan hadiah sebagai motivasi prestasi bukan hal yang dilarang. Namun perlu diperhatikan keseimbangan saat anak-anak lalai atau berbuat salah, hukuman yang mendidik akan membentuk kedisiplinan.

Subhanallah … Semoga saya bisa mengamalkan nasihat indah ustadz ini. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s