Beratnya Menjalankan Amanah


Suatu ketika saya bersama rekan-rekan pengurus musholla mendapatkan amanah jama’ah untuk menggalang dana santunan bagi yatim dan dhuafa di lingkungan kami. Idenya sederhana saja, memberikan sedikit uang untuk mereka yang kekurangan dalam menyambut datangnya Idul Fitri. Prinsipnya berbeda dengan zakat fitrah yang wajib bagi setiap muslim, santunan ini dikumpulkan dari para donatur dalam kurun waktu satu tahun melalui kegiatan arisan dan digenapi dengan suatu malam amal.

Lingkungan kami memang bukan lingkungan masyarakat berpunya, lebih banyak ekonomi menengah ke bawah. Meskipun demikian semangat untuk meringankan beban sekaligus berbagi kegembiraan bersama kaum papa masih ada. Saya sadar mereka bukan orang-orang yang berlebih bahkan cenderung membutuhkan sehingga urusan uang menjadi hal yang rumit bila tidak hati-hati. Contohnya beruntun terjadi dua tahun belakangan.

Dua tahun lalu ketika kas yatim disimpan dalam celengan tertutup sebagai tabungan tahunan untuk anak-anak yatim dari arisan tidak ada yang menyangka ketika saat celengan itu dibuka isinya tidak seperti yang diharapkan. Entah bagaimana isinya sangat sedikit dan karena yang menyaksikan hampir semua orang yang mengisi celengan itu tak pelak lagi rekan yang diberi amanah untuk menyimpan celengan itu menjadi sasaran kecurigaan warga. Meski buru-buru sebagian di antara kami berusaha menenangkan suasana dan yang bersangkutan mengungkapkan pernyataan akan bertanggung jawab, amanah untuk menyimpan celengan itu langsung direnggut dari yang bersangkutan. Sungguh seperti tanpa ampun😦

Belakangan diketahui bahwa ada “anak nakal” yang menyebabkan kekacauan itu, tapi nasi telah menjadi bubur. Jumlah pengganti yang diserahkan rekan saya itu seperti tidak berarti walaupun tak seorang pun tau berapa jumlah yang sesungguhnya. Saya bisa memahami perasaannya dan tidak berusaha mencari pembenaran apapun atas praduga orang-orang yang tidak percaya padanya. Santunan akhirnya disalurkan dengan sukses, meski demikian tidak ada ucapan terima kasih dari warga kepada pengelola kecuali dari orang-orang yang langsung menerima santunan. Memang ini kerja ibadah, tidak ada pamrih apapun darinya.

Tahun ini hal serupa dijalankan, kali ini bab pengumpulan dibuat transparan. Setiap kali infak yatim dikumpulkan, hari itu juga langsung dicatat dan diumumkan saldo kasnya. Ini untuk antisipasi kejadian tahun sebelumnya dan sebagai pembelajaran tertib administrasi untuk kami semua. Malam amalpun digelar, dana yang terkumpul lumayan besar bahkan melebihi ekspektasi kami. Meski begitu karena format acara diubah dan melibatkan seluruh warga ada pembengkakan di biaya konsumsi. Selain itu orang-orang yang mau terlibat tidak banyak, maklum di bulan puasa di mana semua orang menjadi sibuk dengan berbagai urusan.

Walhasil dana yang terkumpul cukup untuk dibagikan kepada yatim dan dhuafa meski jumlahnya menjadi tidak merata, adil tidak berarti sama bukan? Yatim diputuskan 50% lebih banyak dibanding dhuafa mengingat jumlahnya yang hanya sepertiga dari total yang akan diberi santunan. Acara pembagian santunan berjalan lancar meski bantuan datang di hari H, setelah terlihat panitia kerepotan dalam menyiapkan acara. Semua tampak bahagia, terutama yatim dan dhuafa yang menerima santunan dan bingkisan. Hingga suatu saat setelah lebaran tersiar kabar uang yang diterima yatim satu dan yang lain berbeda, hal yang sama sekali tidak kami harapkan.

Baru saya menyadari setelah salah seorang panitia menyatakan hal itu dengan “emosi” dan meminta penjelasan. Saya langsung berusaha menenangkan pikiran, bahkan saya tidak menyangka hal itu akan terjadi. Sesuatu yang kecil bila amplop dhuafa tertukar dengan amplop yatim, tetapi menjadi rumit karena yang menerima jumlah sedikit mendapati yang lain menerima jumlah yang lebih besar. Dalam rapat evaluasi kamipun mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi kekeliruan, akibatnya berkembang kabar tidak sedap tentang panitia. Sungguh kasihan bagi kami karena kelalaian itu menjadikan warga menduga telah ada permainan di sini. Padahal tak ada maksud kami menyengaja hal itu, tapi “vonis” telah dijatuhkan. Meski kami akan berusaha memperbaiki, kami sadar harus memohon Allah SWT untuk mencegah mereka yang merasa terzholimi mendo’akan sesuatu yang buruk bagi kami. Memang tidak mudah menjalankan amanah, salah sedikit bisa berakibat buruk di selanjutnya😦

Allah SWT Mahamelihat menjadi saksi lahir-batin bagi setiap makhluknya.

2 thoughts on “Beratnya Menjalankan Amanah

  1. Jangan patah semangat Mas Bro, resiko yang besar dalam memegang amanah akan berbanding lurus dengan balasan pahala dari-Nya, Insya Allah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s