Di Atas Langit Masih Ada …


Saya selalu ngobrol (baca: diskusi) dengan istri saya tentang banyak hal. Salah satu topik yang sering kami bahas adalah tentang rumah impian eh maksudnya impian kami masing-masing.

Istri saya suka mengungkapkan impiannya menjadi seorang notaris, owner bimbel terkemuka, sekaligus pengelola yayasan yatim piatu. Saya selalu meyakinkannya bahwa suatu hari impian itu akan terwujud, insya’Allah. Saya pikir istri saya bahkan sudah mewujudkan lebih dari 20% impiannya itu. Tahun depan ia akan mengambil magister kenotariatan, 2 tahun berikutnya ia akan magang, dan praktik notaris tinggal menunggu SK-nya.

Sekarang istri saya mengelola bimbel kecil Nurul Ilmi. Muridnya 40-50 orang (SD-SMP), staf pengajarnya ada 5 orang. Tidak lama lagi muridnya akan bertambah karena membuka kelas SMA dan privat, staf umum pun dibutuhkan mungkin 2 orang. Dalam 5 tahun ke depan akan dibuka cabang di kota-kota terdekat. Bimbel istri akan masuk daftar bimbel yang diperhitungkan saat istri saya menginjak usia 40 tahun.

Sudah sejak mahasiswa istri saya hobi mengajar. Tidak melulu mengajar pelajaran sekolah tapi juga mengaji (baca: baca tulis Al Qur-an). Sejak dulu mengajar TPA, pernah mengajar di yayasan untuk anak-anak pemulung, sekarang juga mengajar TPA di musholla samping rumah selain mengajar di bimbelnya. Dari hobi mengajar itu ia berinteraksi dengan banyak orang terutama anak-anak karena itu ia suka anak-anak. Setiap tahun bimbelnya rutin menggalang dana untuk santunan yatim dan dhuafa. Setelah menunaikan ibadah haji ia akan mendirikan yayasan yatim piatu impiannya.

Dalam obrolan kami tidak jarang kami menyinggung kondisi orang-orang yang kami kenal. Sebagian teman kami memang dikaruniai Allah rizki yang banyak mungkin lebih dari yang kami terima, setidaknya itu yang ada di benak istri saya. Satu sisi mereka menjadikan motivasi kami meningkat, tapi di sisi lain sering gap itu menimbulkan efek negatif bagi kami tergantung situasi kondisi kami saat berdiskusi.

Saya sendiri selalu berusaha meyakini bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian materiil (baca: duniawi) melainkan keseimbangan antara itu dan maknawi (baca: akhirati). Dan menurut saya kebahagiaan tidak didapat dari materi, istilah kerennya “Money can’t buy us happiness” (baca: Uang tidak bisa memberi kita kebahagiaan. Soal kekayaan, saya cuma bilang “Di atas langit masih ada langit”. Tapi taukah Anda siapa yang paling kaya? Taukah Anda pepatah tadi belum lengkap. Berikut versi lengkapnya:

Di atas langit masih ada langit
Di atas langit masih ada langit
Di atas langit masih ada langit
Di atas langit masih ada langit
Di atas langit masih ada langit
Di atas langit masih ada langit
Dan di atas langit ada arsy di mana Allah Sang Mahakaya bersemayam

So, apakah kita perlu takut miskin jika Allah bersama kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s